Dengarkan Artikel
Janganlah Engkau Marah: Wasiat Cahaya dari Rasul”
Oleh Juni Ahyar
Marah itu bara, api tanpa rupa,
Menyulut lidah, membakar jiwa.
Setan meniupkan bisik gelapnya,
Hingga bening hati berubah gulita.
“Janganlah engkau marah,” sabda Nabi,
Ulangnya lembut, berulang kali.
Seolah hujan turun di padang kering,
Memadamkan api, menyejukkan garing.
Menahan marah bukanlah lemah,
Ia kekuatan yang mengalahkan gelap.
Bagai rembulan yang meredupkan malam,
Namun tak padam oleh pekat dendam.
Kebaikan tumbuh dari jiwa yang sabar,
Keselamatan lahir dari hati yang sadar.
Wasiat ini bagai pelita tak sirna,
“Janganlah engkau marah,” rahasia bahagia.
Selendang Darah Di Kebun Mulberry
Selendang Darah di Kebun Mulberry
Di Petrodolar cinta kembali bersemi,
Namun nasib berkata lain pada Herayani dan Arjuna.
Sejak kecil mereka dirangkai takdir,
Tapi restu orang tua menjadi dinding tak tergoyahkan.
Malam itu bintang memanggil pelarian,
Di kebun mulberry janji mereka berlabuh.
Herayani datang lebih dulu,
Namun singa lapar mengoyak sunyi dengan taring berdarah.
Selendangnya terjatuh, terbawa rasa takut,
Singa itu membawa pergi tanda cintanya.
Arjuna tiba, melihat selendang berlumur merah,
Hatinyapun retak, yakin kekasihnya telah tiada.
Pedang pun berbisik tentang keputusasaan,
Arjuna rebah di pangkuan bumi.
Herayani datang terlambat, menatap tubuh kekasihnya,
Air mata bercampur darah, mencium wajah terakhirnya.
Pedang itu, saksi cinta yang tak rela,
Ia hunuskan ke dadanya sendiri.
Kebun mulberry pun bersaksi dalam diam,
Bahwa cinta sejati terkadang memilih mati,
Demi abadi…
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






