• Latest
Kalbar Terdepan Tolak Program Transmigrasi

Kalbar Terdepan Tolak Program Transmigrasi

Juli 22, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kalbar Terdepan Tolak Program Transmigrasi

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Juli 22, 2025
in #Kalimantan, Artikel
Reading Time: 3 mins read
Kalbar Terdepan Tolak Program Transmigrasi
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Hanya Kalbar yang berani menolak program pemerintah, transmigrasi. Provinsi lain, saya sih tak tahu. Sambil menikmati bubur ayam yang isinya daging sapi, mari kita ungkap aksi penolakan warga Bumi Khatulistiwa.

Pontianak, 21 Juli 2025. Matahari belum lagi tinggi, tapi jalan-jalan ibukota Kalimantan Barat sudah bergemuruh. Bukan karena parade budaya, bukan pula karena diskon elektronik, melainkan karena ledakan suara rakyat yang muak dan menggelegak seperti sambal bawang basi yang dipanaskan ulang di wajan politik. Ribuan massa dari Aliansi Kalimantan Barat Menggugat menyerbu tiga titik panas, Gedung DPRD, Kantor Gubernur, dan Markas Polda. Mereka datang bukan bawa bom molotov, tapi lebih berbahaya dari itu, tuntutan delapan pasal plus satu dendam sejarah.

Bayangkan, wak! Ketungau Hulu, Sekayam, Gerbang Masperkasa, dan Rasau Jaya. Empat kawasan yang dulu hanya dikenal dari lirik lagu anak desa, kini hendak dijadikan taman bermain proyek nasional. Skema transmigrasi 5T, yang katanya singkatan dari Terpadu, Terencana, Terarah, Tertib, dan Terlalu Banyak Masalah, diluncurkan seperti kembang api. Sayangnya, yang meledak bukan kembang, tapi kepercayaan publik.

Di Desa Upit, Kecamatan Belimbing, listrik menyala dengan gagah di zona transmigran, sementara warga lokal yang hanya satu kilometer jauhnya masih menyalakan pelita, seolah hidup dalam dimensi paralel yang dicetak dengan tinta keadilan luntur. “Kami ini penduduk asli, bukan arwah penasaran,” ungkap Koordinator aksi, Endro Ronianus saat berorasi di depan gedung DPRD Kalbar.

Ketua DPRD Kalbar, Aloysius, mencoba menjadi Socrates dalam keadaan darurat. “Kita tak boleh memindahkan masalah,” katanya, padahal jelas-jelas selama ini Kalbar sudah menerima segala jenis kiriman, dari kabut asap sampai proyek gagal. Mungkin yang ia maksud, cukup sudah jadi tong sampah elegan. Karena yang datang bukan hanya transmigran, tapi juga racun birokrasi, kecemburuan sosial, dan konsorsium ketidaktahuan kolektif.

Di tempat lain, Bupati Kubu Raya, Sujiwo, tampil dengan gaya Gandalf, berwibawa, penuh misteri, dan tak bisa dibantah. Ia berkata bahwa transmigrasi ini bukan mobilisasi, tapi “penguatan kawasan.” Apa itu artinya? Tak ada yang benar-benar tahu. Seperti puisi Chairil Anwar yang dibaca di tengah hujan deras, kedengaran indah, tapi basah dan tak terbaca. Ia menyebut ada pembangunan SD, SMP, UMKM, protowar (warung rakyat), bahkan stadion mini. Stadion? Untuk siapa? Mungkin untuk pertandingan antara logika dan propaganda.

Rakyat bertanya, kalau bukan pemindahan penduduk, kenapa yang datang justru manusia? Kalau ini bukan kolonisasi gaya baru, kenapa tanah adat diukur seperti halaman rumah milik developer? Kenapa di brosur berwarna pembangunan semuanya indah, tapi di lapangan yang tumbuh justru pagar-pagar seng dan jerit peladang?

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Seruan “Kalbar bukan tanah kosong, Merdeka!” menggema bukan seperti slogan, tapi doa kolektif yang lahir dari trauma panjang. Mereka bukan anti pembangunan. Mereka anti dipermainkan. Karena di tanah ini, kearifan tak dibangun dengan masterplan, tapi dengan keringat, adat, dan pohon-pohon yang tak pernah ikut rapat dengan kementerian.

Hari ini, rakyat Kalbar berdiri bukan sebagai bayangan pembangunan, tapi sebagai penjaga halaman terakhir dari naskah yang selalu di-edit seenaknya oleh Jakarta. Jika transmigrasi tetap dipaksakan, jangan salahkan bila kelak tanah ini tak hanya menolak, tapi menggugat balik. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan satu hal yang lebih menakutkan bagi birokrat, kesadaran kolektif.

Aksi ini adalah perlawanan terhadap narasi pembangunan yang sering kali copy-paste dari era Orde Baru. Bedanya, sekarang lebih estetik, ada infografis, ada drone, ada TikTok. Tapi substansinya tetap, rakyat adalah penonton dari proyek-proyek besar yang namanya panjang, dampaknya pendek, dan manfaatnya hanya selebar spanduk launching.

Sejauh ini belum ada sikap pemerintah pusat. Apakah tetap melanjutkan transmigrasi, atau mensetopnya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Negeri Kesepian

Negeri Kesepian

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com