POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kalbar Terdepan Tolak Program Transmigrasi

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
July 22, 2025
Kalbar Terdepan Tolak Program Transmigrasi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Hanya Kalbar yang berani menolak program pemerintah, transmigrasi. Provinsi lain, saya sih tak tahu. Sambil menikmati bubur ayam yang isinya daging sapi, mari kita ungkap aksi penolakan warga Bumi Khatulistiwa.

Pontianak, 21 Juli 2025. Matahari belum lagi tinggi, tapi jalan-jalan ibukota Kalimantan Barat sudah bergemuruh. Bukan karena parade budaya, bukan pula karena diskon elektronik, melainkan karena ledakan suara rakyat yang muak dan menggelegak seperti sambal bawang basi yang dipanaskan ulang di wajan politik. Ribuan massa dari Aliansi Kalimantan Barat Menggugat menyerbu tiga titik panas, Gedung DPRD, Kantor Gubernur, dan Markas Polda. Mereka datang bukan bawa bom molotov, tapi lebih berbahaya dari itu, tuntutan delapan pasal plus satu dendam sejarah.

Bayangkan, wak! Ketungau Hulu, Sekayam, Gerbang Masperkasa, dan Rasau Jaya. Empat kawasan yang dulu hanya dikenal dari lirik lagu anak desa, kini hendak dijadikan taman bermain proyek nasional. Skema transmigrasi 5T, yang katanya singkatan dari Terpadu, Terencana, Terarah, Tertib, dan Terlalu Banyak Masalah, diluncurkan seperti kembang api. Sayangnya, yang meledak bukan kembang, tapi kepercayaan publik.

Di Desa Upit, Kecamatan Belimbing, listrik menyala dengan gagah di zona transmigran, sementara warga lokal yang hanya satu kilometer jauhnya masih menyalakan pelita, seolah hidup dalam dimensi paralel yang dicetak dengan tinta keadilan luntur. “Kami ini penduduk asli, bukan arwah penasaran,” ungkap Koordinator aksi, Endro Ronianus saat berorasi di depan gedung DPRD Kalbar.

Ketua DPRD Kalbar, Aloysius, mencoba menjadi Socrates dalam keadaan darurat. “Kita tak boleh memindahkan masalah,” katanya, padahal jelas-jelas selama ini Kalbar sudah menerima segala jenis kiriman, dari kabut asap sampai proyek gagal. Mungkin yang ia maksud, cukup sudah jadi tong sampah elegan. Karena yang datang bukan hanya transmigran, tapi juga racun birokrasi, kecemburuan sosial, dan konsorsium ketidaktahuan kolektif.

📚 Artikel Terkait

BENGKEL OPINI RAKyat

Cahaya di Mata Anak Yatim

KETUKAN RAMADAN

Jangan Samakan FGD dengan Seminar

Di tempat lain, Bupati Kubu Raya, Sujiwo, tampil dengan gaya Gandalf, berwibawa, penuh misteri, dan tak bisa dibantah. Ia berkata bahwa transmigrasi ini bukan mobilisasi, tapi “penguatan kawasan.” Apa itu artinya? Tak ada yang benar-benar tahu. Seperti puisi Chairil Anwar yang dibaca di tengah hujan deras, kedengaran indah, tapi basah dan tak terbaca. Ia menyebut ada pembangunan SD, SMP, UMKM, protowar (warung rakyat), bahkan stadion mini. Stadion? Untuk siapa? Mungkin untuk pertandingan antara logika dan propaganda.

Rakyat bertanya, kalau bukan pemindahan penduduk, kenapa yang datang justru manusia? Kalau ini bukan kolonisasi gaya baru, kenapa tanah adat diukur seperti halaman rumah milik developer? Kenapa di brosur berwarna pembangunan semuanya indah, tapi di lapangan yang tumbuh justru pagar-pagar seng dan jerit peladang?

Seruan “Kalbar bukan tanah kosong, Merdeka!” menggema bukan seperti slogan, tapi doa kolektif yang lahir dari trauma panjang. Mereka bukan anti pembangunan. Mereka anti dipermainkan. Karena di tanah ini, kearifan tak dibangun dengan masterplan, tapi dengan keringat, adat, dan pohon-pohon yang tak pernah ikut rapat dengan kementerian.

Hari ini, rakyat Kalbar berdiri bukan sebagai bayangan pembangunan, tapi sebagai penjaga halaman terakhir dari naskah yang selalu di-edit seenaknya oleh Jakarta. Jika transmigrasi tetap dipaksakan, jangan salahkan bila kelak tanah ini tak hanya menolak, tapi menggugat balik. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan satu hal yang lebih menakutkan bagi birokrat, kesadaran kolektif.

Aksi ini adalah perlawanan terhadap narasi pembangunan yang sering kali copy-paste dari era Orde Baru. Bedanya, sekarang lebih estetik, ada infografis, ada drone, ada TikTok. Tapi substansinya tetap, rakyat adalah penonton dari proyek-proyek besar yang namanya panjang, dampaknya pendek, dan manfaatnya hanya selebar spanduk launching.

Sejauh ini belum ada sikap pemerintah pusat. Apakah tetap melanjutkan transmigrasi, atau mensetopnya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Negeri Kesepian

Negeri Kesepian

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00