Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
- Pendahuluan: Kompleksitas Sebuah Identitas
Ketika kita mendengar kata “Yahudi”, banyak dari kita langsung teringat pada konflik di Palestina atau teori-teori konspirasi global. Tapi apakah benar sesederhana itu? Bangsa Yahudi, yang telah eksis selama ribuan tahun, adalah simbol dari kompleksitas sejarah, agama, dan politik dunia. Menghakimi seluruh kelompok berdasarkan tindakan sebagian kecil dari mereka sama bahayanya dengan menelan mentah-mentah narasi propaganda.
- Diaspora dan Pengasingan: Antara Ketabahan dan Trauma Kolektif
Bangsa Yahudi sudah mengalami diaspora sejak zaman Babilonia dan Romawi. Di Eropa, mereka menjadi kambing hitam atas segala krisis ekonomi dan sosial. Dari pengusiran di Spanyol tahun 1492 hingga genosida Nazi dalam Holocaust yang menewaskan 6 juta jiwa (Yad Vashem, 2022), Yahudi menyimpan trauma sejarah yang panjang. Pengalaman ini membentuk semangat mereka untuk bertahan dan tidak lagi menjadi korban, yang kemudian dituangkan dalam proyek pendirian negara Israel.
- Lahirnya Israel dan Perubahan Peran Global
Pendirian Israel pada 1948 didukung penuh oleh negara-negara Barat, terutama Inggris dan AS. Namun, ini menyebabkan eksodus besar-besaran bangsa Palestina dari wilayah yang telah mereka diami selama ratusan tahun. Sejak saat itu, simpati global terhadap Yahudi sebagai korban Holocaust berubah menjadi kritik atas tindakan agresif Israel. Laporan dari Amnesty International (2022) dan Human Rights Watch (2021) menyebutkan adanya praktik apartheid terhadap rakyat Palestina oleh Israel.
- Zionisme: Ideologi Kebangkitan atau Hegemoni?
Zionisme lahir di akhir abad ke-19 sebagai gerakan nasionalisme Yahudi untuk kembali ke “Tanah yang Dijanjikan”. Namun, dalam praktiknya, Zionisme sering dipandang sebagai proyek ekspansionis. Banyak tokoh Yahudi sendiri yang mengkritik Zionisme, seperti Noam Chomsky dan kelompok Neturei Karta. Mereka menilai bahwa penggunaan agama sebagai pembenaran kolonisasi tanah Palestina adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan agama.
- Persepsi di Indonesia: Mitos, Konspirasi, dan Ketidaktahuan
Di Indonesia, Yahudi sering dikaitkan dengan mitos-mitos gelap, seperti “Yahudi menguasai ekonomi dunia” atau “mereka adalah musuh Islam”. Padahal, jumlah Yahudi di Indonesia nyaris tidak signifikan, dan tidak ada bukti empiris atas teori konspirasi semacam itu. Menurut The Jakarta Post (2021), narasi anti-Semit berkembang luas di media sosial dan ceramah-ceramah informal, sering kali tanpa literasi geopolitik yang memadai.
- Yahudi: Bukan Bangsa Seragam
Kita perlu memahami bahwa Yahudi bukanlah entitas yang tunggal. Ada Yahudi yang sangat religius dan ada yang sekuler. Ada yang keturunan Eropa (Ashkenazi), ada yang dari Timur Tengah dan Afrika Utara (Sephardic dan Mizrahi). Bahkan ada Yahudi yang hidup di dunia Arab selama ratusan tahun secara damai, seperti di Yaman dan Maroko. Menggeneralisasi mereka sebagai satu identitas politik adalah penyederhanaan yang menyesatkan.
📚 Artikel Terkait
- Realitas Geopolitik dan Krisis Kemanusiaan
Konflik Israel-Palestina adalah salah satu titik api terpanjang dalam sejarah modern. Tapi ini bukan semata-mata soal agama. Ini soal hak tanah, dominasi politik, dan ketimpangan kekuatan. Israel didukung militer dan ekonomi oleh AS, sedangkan Palestina menghadapi blokade, penggusuran, dan krisis kemanusiaan. Banyak lembaga internasional telah menyuarakan keprihatinan, termasuk PBB dan ICC. Dalam konteks ini, menyoroti ketidakadilan bukan berarti anti-Yahudi, tapi membela kemanusiaan.
- Indonesia dan Diplomasi Moral Global
Sebagai negara mayoritas Muslim yang menjunjung nilai Pancasila, Indonesia punya posisi moral untuk menjadi suara keadilan. Kita tidak harus membenci Yahudi untuk membela Palestina. Kita bisa mengkritik Israel tanpa menumbuhkan kebencian agama. Kita juga harus mendorong narasi perdamaian, bukan hanya karena tekanan politik, tapi karena tanggung jawab moral dan sejarah kita sebagai bangsa merdeka.
- Penutup: Melampaui Stereotip, Menuju Keadilan
Sudah saatnya kita berhenti melihat Yahudi hanya dari lensa konflik. Mereka adalah manusia, sama seperti kita. Ada yang salah jalan, ada yang jadi korban, dan ada yang berjuang untuk perdamaian. Kritik terhadap kebijakan Israel bukanlah serangan terhadap Yahudi, dan membela Palestina bukan berarti membenci agama lain. Mari gunakan akal sehat, fakta, dan empati dalam membaca dunia. Karena pada akhirnya, perdamaian bukan milik mereka yang kuat, tapi milik mereka yang adil.
Referensi:
Yad Vashem. (2022). The Holocaust.
Amnesty International. (2022). Israel’s Apartheid Against Palestinians.
Human Rights Watch. (2021). A Threshold Crossed: Israeli Authorities and the Crimes of Apartheid and Persecution.
The Jakarta Post. (2021). Understanding Anti-Semitism in Indonesia.
Chomsky, N. (2002). Power and Terror: Post 9/11 Talks and Interviews.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






