Dengarkan Artikel
Oleh : Nuriman Abdullah, S.Pd.I, M.Ed, Ph.D
Dosen Sosiologi Pendidikan pada UINSUNA Lhokseumawe.
Email: nuriman.abdul@gmail.com
Dalam dunia yang riuh oleh gelar, sertifikat, dan pujian akademik, kita dihadapkan pada krisis eksistensial: siapa sebenarnya golongan pencari ilmu? Apakah mereka yang memenuhi bangku-bangku kuliah, ataukah mereka yang rela menggigil dalam sujud panjang, mengais makna di balik setiap firman Tuhan?
Jika ditinjau dari kacamata “Muraqi ubudiyah,” seorang pengamat spiritualitas penghambaan, realitas keilmuan hari ini tidak hanya menyedihkan, tetapi juga menjurus ke arah pembusukan batiniah.
📚 Artikel Terkait
Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar alat akumulasi pengetahuan, tetapi sarana taqarrub ilallah, pendekatan diri kepada Allah. Namun dalam kenyataannya, banyak pencari ilmu hari ini menjadikan ilmu sebagai kendaraan ego. Mereka tidak mendekat kepada Allah, tetapi justru menegakkan menara kesombongan intelektual. Mereka sibuk menyusun teori, tapi hampa dari rasa takut kepada-Nya.
Dalam kitab “Muraqi ubudiyah” mencatat hal ini bahwa individu semacam itu tidak sedang belajar, melainkan sedang memproduksi kesombongan spiritual.
Mereka berkata “saya tahu”, padahal yang benar adalah “Allah yang membuat saya tahu”. Mereka berdiri di mimbar, berbicara tentang akhlak, tapi menghina koleganya di ruang dosen. Mereka mengajar tentang keadilan, tetapi menindas individu lain yang berbeda pandangan. Inilah penyakit kaum pencari ilmu palsu: mereka tidak sedang mencari Allah, melainkan mencari tepuk tangan.
Tiga Golongan Pencari Ilmu perspektif Kitab Muraqi Ubudiyah
Jika kita telaah dari perspektif kitab Muraqi Ubudiyah, maka pencari ilmu terbagi menjadi tiga golongan besar:
- Pencari Ilmu karena Allah (Li Wajhillah)
Mereka ini sedikit jumlahnya, bahkan nyaris punah di tengah dunia akademik modern. Mereka mencari ilmu bukan untuk gelar, bukan untuk gaji, bukan untuk gengsi. Mereka mencari ilmu untuk mengetahui hakikat diri dan Tuhannya. - Mereka tidak banyak bicara, tapi dalam diamnya ada getaran iman. Ketika membaca kitab, mereka membaca dengan hati yang bergetar, tidak sekadar otak yang menganalisis. Dalam kehadiran mereka, terasa aroma ibadah. Mereka mengajar bukan dengan suara keras, tetapi dengan akhlak yang mempesona. Ini golongan yang ditangisi para malaikat saat mereka wafat.
- Pencari Ilmu karena Dunia (Li Dunia)
Golongan ini menjamur di universitas, pesantren, bahkan madrasah. Mereka belajar untuk pangkat, jabatan, publikasi, dan akreditasi. Mereka membaca banyak buku, tapi tidak membaca dirinya sendiri. Mereka bangga dengan karya ilmiah, tapi lupa bahwa hidup mereka sendiri penuh plagiarisme akhlak. - Mereka tidak mencuri tulisan, tapi mencuri hak-hak individu lain, rekan kerja, dan bahkan Tuhan. Mereka mungkin memiliki banyak murid, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi manusia.
Dari perspektif muraqi ubudiyah, golongan ini sedang bermain api. Ilmu mereka hanya akan menjadi hujjah (alasan) untuk menghantarkan mereka ke neraka, sebagaimana sabda Nabi:
“Barangsiapa menuntut ilmu agar bisa membanggakan diri di hadapan ulama atau membantah orang bodoh, maka dia di neraka.” (Diriwayatkan oleh:
Sunan Ibnu Majah, no. 253; Sunan Ad-Darimi, no. 379).- Pencari Ilmu karena Identitas (Li Naqlil Izzah)
Golongan ini lebih berbahaya. Mereka tidak mencari ilmu untuk Allah, dan bahkan bukan juga demi dunia sepenuhnya, melainkan demi konstruksi sosial. - Mereka ingin dianggap “intelektual Muslim”, “cendekiawan religius”, “akademisi berakhlak”, meski semua itu topeng. Mereka meramaikan seminar, menulis di jurnal internasional, namun kosong dari ketundukan hakiki.
Dalam kitab Muraqi ubudiyah dicatat bahwa mereka sebagai orang-orang yang terjebak dalam ibadah simbolik. Lidah mereka sering menyebut asma Allah, tapi hati mereka lebih khusyuk pada nama-nama editor jurnal. Mereka lebih takut tidak terakreditasi daripada tidak diterima di sisi Tuhan.
Lebih jauh, dari perspektif Kitab Muraqi Ubudiyah, kampus atau universitas seharusnya menjadi mihrab peradaban: tempat sujudnya akal kepada wahyu. Namun kini kampus telah berubah menjadi pasar ambisi, tempat tawar-menawar prestise dan kekuasaan. Dalam konteks seperti ini, Ilmu tidak lagi membebaskan, tetapi menjerat. Ia tidak membentuk kehambaan, tetapi memperkuat keakuan.- Inilah yang terjadi ketika pencari ilmu tidak lagi bermuraqabah (merasa diawasi Allah), melainkan hanya berlogika dan menundukkan orang-orang demi mencapai syhawat dunia nya.
Kitab Muraqi ubudiyah menyerukan revolusi batiniah, bahwa setiap pencari ilmu harus kembali menjadikan hatinya sebagai alat baca. Ilmu harus dibaca dengan hati yang penuh tawadhuk dan rasa penghambaan diri kepada sang khaliq, bukan sekadar dengan kecerdasan logika. Setiap kalimat yang dibaca seharusnya menggetarkan rasa takut kita kepada Sang Penulis Semesta.
Ilmu yang tidak membawa pada kehambaan adalah ilmu yang akan menjadi azab. Maka, pertanyaan terbesar bagi setiap pencari ilmu adalah: “Apakah ilmu ini mendekatkanku kepada-Nya, atau justru menjerumuskanku ke dalam kesombongan terselubung?”
Dalam dunia yang semakin mengglorifikasi sertifikasi dan pencapaian akademik, penting bagi kita untuk menumbuhkan kembali jiwa muraqabah dalam menuntut ilmu. Bahwa menjadi ilmuwan tidak cukup dengan memiliki publikasi internasional, tapi harus memiliki hati yang tunduk dan mata batin yang terbuka.
Golongan pencari ilmu sejati adalah mereka yang ketika disebut nama Allah, hatinya bergetar. Mereka belajar bukan untuk menunjukkan siapa diri mereka, tapi untuk menemukan siapa diri mereka di hadapan Tuhan. Mereka tidak tertarik menjadi terkenal, tapi ingin dikenal oleh Allah.
Mereka sadar bahwa kelak, bukan nilai IPK atau jumlah jurnal yang ditanya, tapi apakah ilmu itu membuatmu lebih tunduk atau justru lebih tinggi kepala?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






