• Latest
Merayakan Hari Kebudayaan: Sebuah Ikhtiar Memuliakan Jati Diri Bangsa

Merayakan Hari Kebudayaan: Sebuah Ikhtiar Memuliakan Jati Diri Bangsa

Juli 14, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Merayakan Hari Kebudayaan: Sebuah Ikhtiar Memuliakan Jati Diri Bangsa

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
Juli 14, 2025
Reading Time: 3 mins read
Merayakan Hari Kebudayaan: Sebuah Ikhtiar Memuliakan Jati Diri Bangsa
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah dan Ketua Satupena Blora

Penetapan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, adalah langkah yang pantas kita sambut dengan penuh kegembiraan.

Bukan hanya soal menambah tanggal penting di kalender nasional, tetapi lebih dari itu, inisiatif ini membuka ruang kontemplasi bagi kita semua tentang siapa diri kita sebenarnya sebagai bangsa yang lahir dari ragam budaya.

Dalam konteks ini, kebijakan tersebut sesungguhnya hadir bukan semata sebagai seremoni simbolik, melainkan sebagai upaya transformatif untuk menggugah kesadaran kolektif akan pentingnya kebudayaan sebagai ruh kehidupan berbangsa.

Kita hidup di tengah era globalisasi, ketika budaya luar begitu mudah merasuki keseharian kita, baik melalui media sosial, musik, gaya hidup, hingga pola pikir.

Sering kali, tanpa disadari, warisan budaya sendiri justru terpinggirkan atau dianggap kuno oleh generasi muda.

Penetapan Hari Kebudayaan di tanggal 17 Oktober menjadi momentum untuk merefleksikan kembali bahwa budaya adalah identitas, penanda keberadaan kita di antara bangsa-bangsa lain.

Lebih dari sekadar tari-tarian, batik, atau bahasa daerah, budaya mencakup nilai, etika, filosofi hidup, dan cara kita memaknai dunia.

Ketika Fadli Zon menekankan pentingnya Hari Kebudayaan, pesan yang ia sampaikan sejatinya bukan sekadar melestarikan, tetapi juga memodernisasi dan mentransformasikan kebudayaan agar tetap relevan di masa kini dan masa depan.

Kebijakan ini juga selaras dengan amanat UUD 1945 yang menggariskan bahwa negara berkewajiban memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.

Kebudayaan bukan hanya ornamen, melainkan daya hidup dan sumber inspirasi bangsa.

Kita sebagai masyarakat tentu harus menyambut baik dan mendukung penuh kebijakan ini, tidak hanya melalui seremoni peringatan setiap tahun, tetapi juga melalui tindakan nyata.

Misalnya, dengan memperkenalkan kesenian daerah kepada anak-anak, menghidupkan kembali tradisi lokal yang hampir punah, atau sekadar menggunakan produk budaya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih penting lagi, Hari Kebudayaan dapat menjadi pemicu untuk memperkuat riset kebudayaan, mengarsipkan naskah-naskah kuno, serta mendigitalisasi karya seni tradisi agar dapat diakses generasi mendatang.

Tantangan terbesar kita hari ini adalah menjaga agar kebudayaan tidak menjadi barang museum: indah, tetapi mati.

Sebaliknya, kebudayaan harus menjadi sumber daya yang dinamis, bisa menggerakkan ekonomi kreatif, membuka lapangan kerja, dan menjadi landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Langkah Fadli Zon, yang juga dikenal sebagai sastrawan dan pegiat budaya, memberi teladan penting, bahwa politik dan kebudayaan bukan dua entitas yang terpisah.

Justru keduanya bisa saling menguatkan, bahwa politik sebagai alat untuk melindungi dan memajukan kebudayaan, sementara kebudayaan memberi arah dan makna bagi kebijakan politik.

Hari Kebudayaan juga dapat menjadi ruang dialog antarbudaya di Indonesia yang sangat majemuk, memperkuat semangat toleransi, solidaritas, dan saling menghormati perbedaan.

Di tengah arus radikalisme dan politik identitas yang kerap memecah belah, budaya dapat menjadi perekat yang menyatukan kita sebagai bangsa.

Oleh karena itu, kita patut mengapresiasi dan mendukung langkah ini sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam memuliakan warisan leluhur kita.

Dengan Hari Kebudayaan, kita punya kesempatan untuk membangun kesadaran kolektif, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang tidak pernah tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Sebagai masyarakat, mari kita jadikan tanggal 17 Oktober bukan hanya tanggal merah di kalender, tetapi hari yang betul-betul diisi dengan refleksi, edukasi, dan aksi nyata.

Karena pada akhirnya, mencintai budaya sendiri adalah mencintai masa depan bangsa.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Langkah kecil yang dimulai hari ini dapat menjadi pijakan besar bagi anak cucu kita kelak.

ADVERTISEMENT

Dengan demikian, penetapan Hari Kebudayaan bukan hanya sebuah keputusan administratif, tetapi tonggak penting dalam perjalanan bangsa menuju kematangan dan kejayaan yang berakar pada jati diri sendiri.

Semoga inisiatif ini terus kita rawat dan kita hidupkan, demi Indonesia yang berbudaya, berdaya, dan bermartabat di mata dunia. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
“Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah” Bagaimana yang Tidak Punya Ayah?

"Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah" Bagaimana yang Tidak Punya Ayah?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com