POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Merayakan Hari Kebudayaan: Sebuah Ikhtiar Memuliakan Jati Diri Bangsa

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
July 14, 2025
Merayakan Hari Kebudayaan: Sebuah Ikhtiar Memuliakan Jati Diri Bangsa
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah dan Ketua Satupena Blora

Penetapan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, adalah langkah yang pantas kita sambut dengan penuh kegembiraan.

Bukan hanya soal menambah tanggal penting di kalender nasional, tetapi lebih dari itu, inisiatif ini membuka ruang kontemplasi bagi kita semua tentang siapa diri kita sebenarnya sebagai bangsa yang lahir dari ragam budaya.

Dalam konteks ini, kebijakan tersebut sesungguhnya hadir bukan semata sebagai seremoni simbolik, melainkan sebagai upaya transformatif untuk menggugah kesadaran kolektif akan pentingnya kebudayaan sebagai ruh kehidupan berbangsa.

Kita hidup di tengah era globalisasi, ketika budaya luar begitu mudah merasuki keseharian kita, baik melalui media sosial, musik, gaya hidup, hingga pola pikir.

Sering kali, tanpa disadari, warisan budaya sendiri justru terpinggirkan atau dianggap kuno oleh generasi muda.

Penetapan Hari Kebudayaan di tanggal 17 Oktober menjadi momentum untuk merefleksikan kembali bahwa budaya adalah identitas, penanda keberadaan kita di antara bangsa-bangsa lain.

Lebih dari sekadar tari-tarian, batik, atau bahasa daerah, budaya mencakup nilai, etika, filosofi hidup, dan cara kita memaknai dunia.

Ketika Fadli Zon menekankan pentingnya Hari Kebudayaan, pesan yang ia sampaikan sejatinya bukan sekadar melestarikan, tetapi juga memodernisasi dan mentransformasikan kebudayaan agar tetap relevan di masa kini dan masa depan.

Kebijakan ini juga selaras dengan amanat UUD 1945 yang menggariskan bahwa negara berkewajiban memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.

Kebudayaan bukan hanya ornamen, melainkan daya hidup dan sumber inspirasi bangsa.

Kita sebagai masyarakat tentu harus menyambut baik dan mendukung penuh kebijakan ini, tidak hanya melalui seremoni peringatan setiap tahun, tetapi juga melalui tindakan nyata.

📚 Artikel Terkait

2025,Tahun Emas Musik Klasik Indonesia

Ketua MPU Banda Aceh Tutup Kegiatan Pendidikan Kader Ulama

Di Ambang Waktu yang Singkat

Menghadirkan Dunia Tanpa Gadget Bagi Anak

Misalnya, dengan memperkenalkan kesenian daerah kepada anak-anak, menghidupkan kembali tradisi lokal yang hampir punah, atau sekadar menggunakan produk budaya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih penting lagi, Hari Kebudayaan dapat menjadi pemicu untuk memperkuat riset kebudayaan, mengarsipkan naskah-naskah kuno, serta mendigitalisasi karya seni tradisi agar dapat diakses generasi mendatang.

Tantangan terbesar kita hari ini adalah menjaga agar kebudayaan tidak menjadi barang museum: indah, tetapi mati.

Sebaliknya, kebudayaan harus menjadi sumber daya yang dinamis, bisa menggerakkan ekonomi kreatif, membuka lapangan kerja, dan menjadi landasan pembangunan yang berkelanjutan.

Langkah Fadli Zon, yang juga dikenal sebagai sastrawan dan pegiat budaya, memberi teladan penting, bahwa politik dan kebudayaan bukan dua entitas yang terpisah.

Justru keduanya bisa saling menguatkan, bahwa politik sebagai alat untuk melindungi dan memajukan kebudayaan, sementara kebudayaan memberi arah dan makna bagi kebijakan politik.

Hari Kebudayaan juga dapat menjadi ruang dialog antarbudaya di Indonesia yang sangat majemuk, memperkuat semangat toleransi, solidaritas, dan saling menghormati perbedaan.

Di tengah arus radikalisme dan politik identitas yang kerap memecah belah, budaya dapat menjadi perekat yang menyatukan kita sebagai bangsa.

Oleh karena itu, kita patut mengapresiasi dan mendukung langkah ini sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam memuliakan warisan leluhur kita.

Dengan Hari Kebudayaan, kita punya kesempatan untuk membangun kesadaran kolektif, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang tidak pernah tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Sebagai masyarakat, mari kita jadikan tanggal 17 Oktober bukan hanya tanggal merah di kalender, tetapi hari yang betul-betul diisi dengan refleksi, edukasi, dan aksi nyata.

Karena pada akhirnya, mencintai budaya sendiri adalah mencintai masa depan bangsa.

Langkah kecil yang dimulai hari ini dapat menjadi pijakan besar bagi anak cucu kita kelak.

Dengan demikian, penetapan Hari Kebudayaan bukan hanya sebuah keputusan administratif, tetapi tonggak penting dalam perjalanan bangsa menuju kematangan dan kejayaan yang berakar pada jati diri sendiri.

Semoga inisiatif ini terus kita rawat dan kita hidupkan, demi Indonesia yang berbudaya, berdaya, dan bermartabat di mata dunia. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
“Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah” Bagaimana yang Tidak Punya Ayah?

"Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah" Bagaimana yang Tidak Punya Ayah?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00