POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

“Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah” Bagaimana yang Tidak Punya Ayah?

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
July 14, 2025
“Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah” Bagaimana yang Tidak Punya Ayah?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Esok pagi (14/7/2025), seluruh sekolah memulai tahun ajaran baru. Orang tua akan mengantar anaknya ke sekolah. Pemerintah menyarankan, ayah yang biasa bekerja untuk mengantarkan sendiri anaknya. Tak sekadar saran, malah dibuat surat ederan segala. Lantas, bagaimana bila si anak tak punya ayah? Inilah yang mau saya kupas, wak! Simak narasinya dengan seruput kopi tanpa gula.

Pagi itu, Indonesia terbangun bukan karena ayam berkokok, tapi karena sebuah surat edaran yang menghunjam dada lebih tajam dari tagihan listrik di akhir bulan. Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2025 dari BKKBN, tentang “Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah.” Sebuah program nasional yang konon katanya bertujuan mulia, mendekatkan ayah dan anak, mengukir momen sakral, dan menabur bunga-bunga kasih sayang di gerbang sekolah. Sayangnya, tidak semua anak punya ayah. Tidak semua bunga bisa tumbuh di tanah luka.

Seorang ibu curhat ke saya. Ibu itu membaca surat edaran itu sambil menggenggam dua tangan mungil anaknya. Yang satu baru masuk TK, yang satu baru akan duduk di bangku SD. Matanya bergetar. Bukan karena bahagia, tapi karena hatinya remuk, dihantam kenyataan bahwa ia harus memilih, membiarkan anaknya berangkat sekolah menyaksikan parade kebapakan nasional, atau melindungi mereka dari luka batin yang lebih tajam dari sembilu.

Bayangkan, wak! Nuan berdiri di gerbang sekolah. Di sekelilingmu, anak-anak lain melompat riang digandeng ayah mereka. Ada yang naik motor matic, ada yang datang dengan mobil dinas, bahkan ada yang diantar ayahnya yang mengenakan jas dan dasi, seperti sedang siap rapat akbar dengan Presiden. Lalu sampeyan? Berdiri sendiri. Menatap kosong. Mencari-cari sosok yang tak akan pernah datang. Sebab ayahmu… sudah lebih dulu pulang ke langit. Semenara negara tidak menyediakan pengganti.

Betapa kerasnya dunia ini, ketika cinta harus dibuktikan dengan kehadiran orang yang sudah tiada. Betapa ajaibnya negeri ini, bisa membuat cinta terasa menyakitkan hanya dengan satu edaran. Yang lebih ajaib lagi, tak ada opsi “tidak punya ayah” dalam formulir kebijakan. Semua anak diasumsikan lengkap. Seperti nasi kotak program dinas, wajib ada lauk, sayur, dan buah. Kalau cuma nasi dan kuah air mata, tidak sah.

📚 Artikel Terkait

Puisi Nurdin F. Joes : Hujan dan Air Mata

Kadisdikbud Aceh Besar Saweu Sikula Pulo Aceh

Dear Mahasiswa Tua

Seniman Aceh Gelar Panggung Sosial Budaya Ajang Amal Perform Solidaritas

Ini bukan sekadar program. Ini pertunjukan nasional. Sebuah festival kasih sayang versi eksklusif, hanya untuk mereka yang beruntung terlahir dari keluarga utuh. Anak-anak yatim? Piatu? Broken home? Maaf, kalian tidak masuk daftar tamu undangan. Silakan berdiri di pinggir lapangan, dan tontonlah dari jauh. Jangan menangis, karena itu bisa mencoreng citra kebijakan negara.

Mari kita rayakan absurditas ini dengan meriah. Ajak semua ayah turun ke sekolah! Biarkan anak-anak yang tidak punya ayah tahu bahwa mereka berbeda! Ayo, jadikan hari pertama sekolah sebagai ajang seleksi sosial! Siapa punya ayah dan siapa tidak! Siapa berhak bahagia dan siapa harus menunduk dalam sunyi!

Tapi tenang, kita masih punya harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, kebijakan tak lagi lahir dari meja-meja dingin, tapi dari hati-hati yang pernah patah. Dari pelukan ibu yang menggantikan seribu peran. Dari air mata anak-anak yang dipaksa dewasa oleh sistem yang lupa, tidak semua kasih sayang harus punya jenggot dan pakai kemeja batik.

Menjadi ayah bukan sekadar status biologis, tapi kehadiran emosional yang penuh kasih. Sayangnya, tidak semua anak mendapatkannya. Maka biarlah sekolah menjadi ruang aman, bukan etalase ketimpangan kasih sayang. Karena di hari pertama sekolah, yang paling dibutuhkan bukanlah ayah. Tapi pelukan, dari siapa pun yang ada dan mau memeluk.

Buat ente, para ibu hebat, para nenek kuat, para janda tangguh, para anak yang kehilangan tapi masih berjalan dengan kepala tegak, kalian luar biasa. Dunia tak layak menilai kalian hanya karena tidak membawa ayah ke sekolah.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00