Dengarkan Artikel
Oleh Nurkamari
Guru MTs Tastafi, Pidie Jaya, Alumnus Jabal Ghafur, Pidie
“Lulus kuliah, tapi kerja cuma gitu doang?” “Kapan nyusul yang lain? Mereka udah ASN, udah nikah, udah punya rumah…” “Masa kuliah tinggi-tinggi cuma jadi guru honorer swasta?” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin tidak asing lagi di telingamu. Kadang datang dari orang lain, kadang justru muncul dari dalam diri sendiri. Dan jujur saja, itu menyakitkan. Seolah perjuanganmu selama ini begadang menyusun skripsi, menahan lapar saat akhir bulan, menyelesaikan studi tepat waktu tak ada artinya ketika kamu hanya menjadi guru honorer di sekolah swasta kecil. Tapi, mari kita berhenti sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Duduk tenang, dan coba dengarkan suara hatimu yang sudah terlalu sering merasa kalah.
Banyak anak muda merasa tidak cukup hanya karena membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain. Kita melihat teman-teman yang sudah bekerja di instansi terkenal, mengenakan seragam ASN, punya gaji tetap, bahkan sudah menikah dan hidup mapan.
Sementara kita masih sibuk menghitung sisa gaji untuk bertahan hidup, membantu orang tua, dan terus bertanya-tanya “Apakah aku gagal?” Padahal, siapa bilang kamu kalah? Kamu yang bangun pagi untuk mengajar anak-anak dengan segala keterbatasan, yang menulis RPP dan menyiapkan materi dengan upah yang kadang tidak sepadan, yang mengajar bukan karena uang, tapi karena panggilan hati kamu luar biasa. Tidak semua orang mampu bertahan seperti kamu. Tidak semua orang bisa tetap tulus saat tidak banyak yang menghargai.
📚 Artikel Terkait
Hidup ini bukan perlombaan. Tidak ada garis finish yang harus dicapai duluan. Tidak ada medali emas untuk siapa yang paling cepat sukses, menikah, atau punya rumah. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Ada yang mapan di usia 22, ada juga yang baru menemukan jalannya di usia 35. Tidak ada yang terlambat, selama kamu masih mau melangkah. Dan menjadi guru honorer di sekolah swasta bukan pekerjaan yang rendahan. Justru itu pekerjaan mulia. Kamu membentuk masa depan, menanamkan nilai, dan menjadi cahaya untuk anak-anak yang masih mencari arah.
Mungkin ada kalanya kamu malu saat orang bertanya di mana kamu bekerja. Mungkin kamu pura-pura tersenyum saat ditanya, “Udah daftar CPNS lagi belum?” Padahal kamu sudah mencoba berkali-kali, belajar keras, berdoa siang malam, tapi belum juga berhasil. Tidak apa-apa. Menangislah jika kamu ingin. Biarkan rasa lelah itu keluar. Tapi setelah itu, bangkitlah pelan-pelan. Peluk dirimu sendiri dan katakan, “Aku belum jadi apa-apa, tapi aku sedang menuju ke sana.” Jangan biarkan standar orang lain menghapus nilaimu sendiri. Kamu sudah berjalan sejauh ini, dan itu bukan hal kecil.
Bahagia itu bukan soal pencapaian besar. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana satu ucapan “terima kasih” dari muridmu, senyum tulus dari orang tua, atau rasa tenang saat tidur karena kamu tahu hari ini kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Kamu bukan gagal. Kamu hanya sedang menjalani fase hidup yang mungkin tidak semua orang sanggup hadapi fase bertahan, merangkak, memberi tanpa banyak dihargai. Dan itu justru menunjukkan bahwa kamu kuat. Sangat kuat.
Tidak semua orang akan mengerti perjuanganmu. Tidak semua orang akan melihat peluhmu. Tapi kamu tahu, dan Tuhan tahu. Kamu mungkin bukan siapa-siapa di mata dunia, tapi kamu adalah segalanya bagi murid-muridmu. Kamu harapan bagi keluargamu. Dan lebih dari itu, kamu adalah manusia yang sedang belajar menjadi sabar, ikhlas, dan tangguh. Maka, jangan pernah merasa “cuma” guru honorer. Kata “cuma” tidak layak berdiri di depan pekerjaan sebaik dan semulia itu.
Hidupmu bukan lomba. Kamu tidak perlu sampai duluan. Kamu hanya perlu terus berjalan dengan jujur, dengan hati, dan dengan sabar. Dan percayalah, kamu cukup. Kamu sedang menuju tempat terbaikmu, pelan tapi pasti.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





