Dengarkan Artikel
(Kisah Siti Manggopoh)
Oleh Ilhamdi Sulaiman
Angin pagi menyapu lembah Manggopoh, membawa kabar dari ladang dan suara rintik dari gunung yang jauh. Tapi di rumah gadang di pinggir kampung, bukan alam yang mengguncang hati Siti. Hari itu, suaminya, Abdurrahman, ditangkap Belanda.
“Dia hanya menolak bayar pajak, Mak!” teriak Siti, suaranya menggema di balik dinding bambu rumah gadang yang mulai tua. “Dia bukan pemberontak. Tapi orang yang tahu harga diri!”
Sarifah, ibunya, hanya bisa memeluk cucunya yang menangis. “Sabar, Nak. Hukum Belanda tak kenal hati.”
Tapi Siti bukan perempuan yang bisa duduk diam ketika keadilan diinjak. Ia anak dari Minangkabau, tanah yang ditinggikan adatnya, dijunjung marwahnya. Ia perempuan, tapi darahnya panas seperti bara. Malam itu, ia berkumpul dengan para ninik mamak dan pemuda kampung di surau.
“Kita bukan hamba,” katanya lantang, mata menyala. “Kita bukan ladang kering yang bisa dibakar pajak seenaknya. Tanah ini milik kita, bukan Belanda!”
Ada yang ragu. Ada yang takut. Tapi ada pula yang mengangguk, terutama para perempuan. Mereka sudah lama diperas, bukan hanya hartanya, tapi juga harga dirinya.
Dua minggu kemudian, gudang senjata Belanda di pinggir nagari dibakar. Senjata dirampas. Siti memimpin para perempuan menyusup malam, menyamar sebagai pengantar makanan, menyisipkan bom rakitan dalam raga nasi.
Dan pada suatu pagi yang lengang, pertempuran pun meletus. Siti, dengan kerudung dililit ketat dan golok di tangan, berdiri di barisan depan. Di belakangnya, seruan perempuan menggema:
“Kaba indak boleh tinggal sabantaang! Tanah awak alah digadaikan! Kini waktunyo dibali dengan darah!”
Bentrok tak terhindarkan. Peluru beterbangan, tetapi semangat lebih tajam dari timah panas. Siti menebas satu serdadu Belanda, lalu meraih senjatanya. Di tengah hujan mesiu, ia terus bergerak, hingga akhirnya… ia jatuh. Terluka, tapi tidak tumbang.
Ia ditangkap. Dimasukkan ke dalam penjara di Padang. Tapi perjuangan tak berhenti. Cerita tentang “Perempuan Perkasa dari Manggopoh” menyebar. Dari surau ke surau, dari dapur ke dapur, dari anak-anak kecil sampai para datuk, semua menyebut namanya dengan hormat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






