POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Perempuan Perkasa

Ilhamdi SulaimanOleh Ilhamdi Sulaiman
July 8, 2025
Perempuan Perkasa
🔊

Dengarkan Artikel

(Kisah Siti Manggopoh)

Oleh Ilhamdi Sulaiman

Angin pagi menyapu lembah Manggopoh, membawa kabar dari ladang dan suara rintik dari gunung yang jauh. Tapi di rumah gadang di pinggir kampung, bukan alam yang mengguncang hati Siti. Hari itu, suaminya, Abdurrahman, ditangkap Belanda.

“Dia hanya menolak bayar pajak, Mak!” teriak Siti, suaranya menggema di balik dinding bambu rumah gadang yang mulai tua. “Dia bukan pemberontak. Tapi orang yang tahu harga diri!”

Sarifah, ibunya, hanya bisa memeluk cucunya yang menangis. “Sabar, Nak. Hukum Belanda tak kenal hati.”

Tapi Siti bukan perempuan yang bisa duduk diam ketika keadilan diinjak. Ia anak dari Minangkabau, tanah yang ditinggikan adatnya, dijunjung marwahnya. Ia perempuan, tapi darahnya panas seperti bara. Malam itu, ia berkumpul dengan para ninik mamak dan pemuda kampung di surau.

“Kita bukan hamba,” katanya lantang, mata menyala. “Kita bukan ladang kering yang bisa dibakar pajak seenaknya. Tanah ini milik kita, bukan Belanda!”

Ada yang ragu. Ada yang takut. Tapi ada pula yang mengangguk, terutama para perempuan. Mereka sudah lama diperas, bukan hanya hartanya, tapi juga harga dirinya.

Dua minggu kemudian, gudang senjata Belanda di pinggir nagari dibakar. Senjata dirampas. Siti memimpin para perempuan menyusup malam, menyamar sebagai pengantar makanan, menyisipkan bom rakitan dalam raga nasi.

Dan pada suatu pagi yang lengang, pertempuran pun meletus. Siti, dengan kerudung dililit ketat dan golok di tangan, berdiri di barisan depan. Di belakangnya, seruan perempuan menggema:

“Kaba indak boleh tinggal sabantaang! Tanah awak alah digadaikan! Kini waktunyo dibali dengan darah!”

Bentrok tak terhindarkan. Peluru beterbangan, tetapi semangat lebih tajam dari timah panas. Siti menebas satu serdadu Belanda, lalu meraih senjatanya. Di tengah hujan mesiu, ia terus bergerak, hingga akhirnya… ia jatuh. Terluka, tapi tidak tumbang.

Ia ditangkap. Dimasukkan ke dalam penjara di Padang. Tapi perjuangan tak berhenti. Cerita tentang “Perempuan Perkasa dari Manggopoh” menyebar. Dari surau ke surau, dari dapur ke dapur, dari anak-anak kecil sampai para datuk, semua menyebut namanya dengan hormat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Bulan Rajab Sebagai Momentum Refleksi Diri dan Tingkatkan Kualitas Diri

Ketika Anak-Anak Belajar Entrepreneurship Dengan Ceria di Marketing Day

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Puasa, Lapar, dan Makna Sabar

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Kala Soeryadarama Isman Pamerkan Tradisi “Peusijuek”

Kala Soeryadarama Isman Pamerkan Tradisi “Peusijuek”

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00