Dengarkan Artikel
Oleh Nurkamari
Guru MTs Tastafi, Pidie Jaya, Alumnus Jabal Ghafur, Pidie
Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam menciptakan generasi yang cerdas, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Di tengah tantangan zaman dan kesenjangan akses pendidikan antara kota dan desa, kehadiran perguruan tinggi yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat menjadi sangat penting.
Di sinilah peran Universitas Jabal Ghafur (Unigha) menjadi sangat relevan, terutama bagi masyarakat Aceh bagian timur. Berdiri sejak 17 Juni 1982, Universitas Jabal Ghafur merupakan salah satu perguruan tinggi swasta tertua dan paling konsisten di Provinsi Aceh, yang tidak hanya mencetak lulusan sarjana, tetapi juga membentuk manusia-manusia berkarakter, tangguh, dan memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi.
Universitas ini didirikan oleh para tokoh dan cendekiawan Kabupaten Pidie yang tergabung dalam Yayasan Pendidikan Jabal Ghafur. Mereka sadar betul bahwa masyarakat di daerah, khususnya luar kota, sangat membutuhkan sarana pendidikan tinggi yang terjangkau dan berkualitas.
Nama “Jabal Ghafur” diambil dari bahasa Arab yang berarti Gunung Pengampun, yang secara filosofis mencerminkan harapan agar universitas ini menjadi tempat yang tinggi nilai ilmunya, namun tetap menjunjung pengampunan, nilai spiritual, dan kemanusiaan dalam proses pendidikannya.
Sejak awal berdiri, Universitas Jabal Ghafur telah berkomitmen untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya, khususnya untuk masyarakat dengan keterbatasan ekonomi, maupun geografis. Kampus utama terletak di Gle Gapui, Kecamatan Sigli, Kabupaten Pidie, dengan lingkungan yang asri, udara sejuk, dan suasana pembelajaran yang mendukung, baik secara akademik maupun spiritual.
Namun, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pendidikan dari berbagai daerah, Unigha tidak berhenti di situ. Kampus ini juga memperluas jangkauannya dengan membuka beberapa cabang di berbagai wilayah Aceh, salah satunya yang cukup aktif adalah Kampus Cabang di Gampong Matang, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya.
Keberadaan kampus cabang ini merupakan bukti nyata bahwa Universitas Jabal Ghafur tidak hanya hadir di pusat kota, tetapi juga berani turun ke daerah terpencil, menghadirkan pendidikan bagi mereka yang selama ini mungkin hanya bisa bermimpi untuk kuliah.
📚 Artikel Terkait
Di Gampong Matang, kampus cabang ini menjadi harapan baru bagi para pemuda dan pemudi yang ingin meraih gelar sarjana tanpa harus meninggalkan kampung halaman atau terbebani biaya besar. Walaupun fasilitas tidak semewah kampus di kota besar, namun semangat mahasiswa di sini luar biasa. Mereka datang dengan niat belajar, kerja keras, dan keinginan untuk memperbaiki masa depan keluarga.
Unigha memiliki sejumlah fakultas dan program studi yang terus berkembang sesuai kebutuhan zaman, antara lain Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Ada pula Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Dosen-dosennya berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, dan banyak di antara mereka yang telah menempuh pendidikan pascasarjana di berbagai kampus ternama di Indonesia.
Namun demikian, di balik kiprah besarnya, Universitas Jabal Ghafur tak jarang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Mahasiswa kampus ini terlebih yang belajar di kampus cabang seringkali harus menelan anggapan miring: disebut kuliah di kampus kecil, kampus kampung, bahkan diragukan kemampuannya. Tapi semua itu justru menjadi bahan bakar semangat.
Sebab kami percaya, yang membuat seseorang berhasil bukan dari di mana ia kuliah, tapi seberapa besar perjuangan dan keikhlasan ia dalam belajar. Di kampus ini, banyak mahasiswa yang harus kuliah sambil bekerja, menempuh jarak jauh dengan sepeda motor tua, bahkan belajar dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Tapi justru dari keterbatasan itu, mereka tumbuh sebagai pribadi yang kuat dan pantang menyerah.
Tidak sedikit alumni Universitas Jabal Ghafur yang kini telah sukses berkiprah di berbagai bidang. Ada yang menjadi guru dan kepala sekolah, penyuluh pertanian, aparatur sipil negara (ASN), pegawai swasta, pengusaha, aktivis sosial, bahkan politisi lokal yang membawa aspirasi rakyat.
Mereka semua pernah duduk di bangku sederhana Universitas Jabal Ghafur, di ruang kelas tanpa pendingin ruangan, namun penuh dengan semangat dan nilai hidup yang mendalam. Kampus ini telah melahirkan ribuan lulusan, dan mereka membuktikan bahwa kampus kecil bukan halangan untuk menjadi orang besar.
Salah satu kekuatan Universitas Jabal Ghafur adalah suasana kekeluargaan yang sangat erat. Dosen tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing dan sahabat. Mahasiswa diajak untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan sosial, menjaga akhlak, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Kegiatan keagamaan dan sosial juga aktif dijalankan, membentuk mahasiswa yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap hidup bermasyarakat.
Kami tahu jalan kami tidak selalu mudah. Kami tidak punya gedung bertingkat sepuluh lantai atau laboratorium canggih seperti universitas ternama di ibu kota. Tapi kami punya tekad, punya niat yang kuat, dan punya semangat untuk berubah. Dan itu cukup. Karena dari kampus-kampus kecil seperti ini, lahir orang-orang besar yang tulus membangun negeri dari pelosok.
Maka dari itu, bagi siapa pun yang sedang berjuang di bangku kuliah Universitas Jabal Ghafur, baik di kampus utama maupun cabang jangan pernah merasa rendah diri. Kita memang bukan siapa-siapa di mata sebagian orang, tapi kita tahu betapa berharganya ilmu yang kita kejar, dan betapa berat perjuangan yang kita lalui. Dan percayalah, perjuangan yang dilakukan dalam diam, penuh kesungguhan dan ketulusan, kelak akan bersuara paling lantang lewat keberhasilan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






