POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengenal Francesca Albanese, Wanita Pemberani Dunia

RedaksiOleh Redaksi
July 5, 2025
Mengenal Francesca Albanese, Wanita Pemberani Dunia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saya secara subjektif menggelarinya wanita ini paling pemberani dunia abad ini. Apa keberaniannya? Dia melawan Israel lewat tulisan dan diplomasi dunia. Mari kita berkenalan mojang asal Italia ini yang tak kenal takut melawan kebiadaban negara Zionist. Siapkan kopi tanpa gulanya agar otak tetap encer dan waras, tak mudah baperan.

Di zaman ketika moralitas ditukar dengan saham, dan nyawa manusia nilainya kalah dari saham Amazon dan Booking.com, muncul satu nama yang bukan sekadar pelapor, tapi penyalak nurani dunia, Francesca P. Albanese. Ia tidak datang membawa senjata, tapi membawa sesuatu yang jauh lebih mematikan bagi kekuasaan yang zalim, kebenaran.

Lahir pada 30 Maret 1977 di Ariano Irpino, Italia, Francesca adalah contoh sempurna dari paradoks, seorang perempuan lembut, akademisi tenang, namun kalimat-kalimatnya bisa mengguncang fondasi diplomasi internasional yang beku. Lulusan cum laude dari Universitas Pisa di bidang hukum, kemudian meraih gelar Master of Laws bidang Hak Asasi Manusia dari SOAS University of London, dan kini sedang menyelesaikan Ph.D di Universitas Amsterdam dalam hukum pengungsi internasional, Francesca bukan cuma cerdas, dia berbahaya bagi mereka yang menyembunyikan kejahatan di balik perjanjian dagang.

Sebagai Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967 (sejak Mei 2022), Francesca berdiri di podium Dewan HAM PBB dan menggugat dunia, “Israel bertanggung jawab atas salah satu genosida paling kejam dalam sejarah modern.”

Boom! Suara itu lebih meledak dari 85.000 ton bahan peledak yang telah dijatuhkan ke Gaza, senjata-senjata canggih yang katanya untuk “pertahanan diri”, tapi hasilnya adalah kuburan massal. Gaza, menurut Francesca, telah dijadikan laboratorium militer, tempat Israel menguji coba drone pembunuh, radar pintar, dan bom yang lebih “efisien”. Dan siapa investor riset ini? Amazon, Microsoft, BNP Paribas, Booking, Hyundai, daftar dosa yang tidak bisa disimpan dalam Excel.

Francesca tidak asing dengan penderitaan Palestina. Ia pernah bekerja di Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR), dan di Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Dia bukan komentator. Dia saksi sejarah yang memilih menulis dengan tinta keberanian.

Ia bahkan menyebut Gaza Humanitarian Foundation, yayasan bantuan yang dibentuk Israel, sebagai jebakan kematian. Di sana, 33 pencari bantuan dibantai. Bantuan yang seharusnya menyelamatkan justru mengundang rudal. “Air dan roti dibagikan, lalu roket diluncurkan,” begitu kira-kira prinsip kerjanya.

Data tak berhenti, lebih dari 200.000 warga Palestina telah tewas atau terluka. Dalam dua hari terakhir saja, 26 pembantaian dilakukan. Sekolah, rumah sakit, pasar, tenda pengungsi, tidak satu pun luput. Direktur RS Indonesia pun ikut menjadi target, seolah membawa stetoskop dianggap tindakan subversif.

📚 Artikel Terkait

KETIKA MASA KECIL TERENGGUT DEMI BERTAHAN HIDUP KELUARGA

Puisi-Puisi Asep Pediansyah Minggu Ini

UN itu, Buruk Rupa, Cermin Dibelah

Ketika Purnawirawan Bicara: Refleksi Moral untuk Kedewasaan Demokrasi Indonesia

Di tengah itu semua, Francesca menulis laporan yang menyebut 48 perusahaan internasional sebagai bagian dari ekonomi pendudukan. Bukan cuma produsen senjata, tapi juga bank, raksasa energi, universitas, dan bahkan situs pariwisata. “Koloni-koloni menyebar, dibiayai bank, didukung energi fosil, dinormalisasi oleh supermarket,” katanya. Dunia yang dulu menyebut dirinya bebas, kini justru menjadi kurir bagi kolonialisme pemukim.

Francesca tidak berhenti di laporan. Ia secara resmi menghubungi semua perusahaan itu, memberikan data hukum, menunjukkan pelanggaran demi pelanggaran terhadap hak menentukan nasib sendiri, hak asasi manusia, hingga potensi keterlibatan dalam kejahatan terhadap kemanusiaan, bahkan genosida. Dari 48 perusahaan, hanya 18 yang merespons, dan hanya beberapa yang menunjukkan itikad baik. Sisanya? Menyalahkan gravitasi, mungkin.

“Mereka tidak mengerti hukum internasional. Mereka pikir hukum itu cuma alat untuk menghindar dari tanggung jawab,” tegas Francesca.

Itu bukan pendapat semata. Ia telah menulis buku seperti Palestinian Refugees in International Law (Oxford University Press, 2020) dan J’Accuse (2024), serta mendirikan Global Network on the Question of Palestine (GNQP). Akademik? Ya. Aktivis? Jelas. Tapi di atas semua itu, ia manusia yang tidak takut melawan mesin penghancur yang disembah dunia: kapitalisme berdarah.

Dalam situasi absurd ini, Francesca berdiri tegak sebagai satu dari sedikit makhluk hidup yang masih menyebut genosida sebagai genosida. Di saat dunia memilih diam, karena saham naik, karena rapat dagang penting, atau karena mereka takut kehilangan kerja sama militer, dia memanggil nama-nama korporasi besar dan menyodorkan cermin. Di cermin itu, tampak wajah mereka, bukan pahlawan perdamaian, tapi penjahat berseragam bisnis.

Francesca P. Albanese telah melakukan lebih banyak dari apa yang dilakukan negara-negara besar yang katanya pembela hak asasi manusia. Suaranya adalah doa yang marah, gugatan yang membakar, dan sinar yang menembus pekat propaganda.

Lalu, kita? Kita punya dua pilihan, ikut diam dan menjadi bagian dari sejarah kelam ini… atau ikut berdiri bersama Francesca, dan membuktikan bahwa manusia belum sepenuhnya binasa.

Karena jika dunia membiarkan ini terus terjadi, maka sejarah akan mencatat bahwa Gaza bukan sekadar lokasi geografi, melainkan monumen kegagalan kemanusiaan global.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Going To New York - Review

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00