POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Balita Pencari Nafkah: Antara Kemiskinan dan Kesiapan Menjadi Orang Tua

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
July 4, 2025
Balita Pencari Nafkah: Antara Kemiskinan dan Kesiapan Menjadi Orang Tua
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

Di sudut sebuah kedai jajanan kaki lima, saya menyaksikan pemandangan yang menusuk relung hati. Seorang anak, kira-kira berusia 3 atau 4 tahun, berjalan dari meja ke meja, menggenggam sebuah kotak kecil dengan stiker bertuliskan “Mohon bantuannya.” Di belakangnya, duduk seorang ibu yang menatap pasrah, sesekali memantau anaknya sambil sesekali menunduk, entah karena lelah, malu, atau sudah kebal dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.

Saya pun penasaran dan bertanya pada ibu itu, bukan karena ingin menghakimi, tapi karena hati saya menjerit menyaksikan balita yang seharusnya masih bermain, sudah mengenal arti “mengais rupiah.” Namun si ibu hanya menjawab lirih, “Kalau ada jalan lain yang lebih mudah, saya pun tidak ingin begini.”

Kalimat itu menggantung di udara. Ya, tentu saja, ini tentang kemiskinan. Tapi apakah cukup hanya berhenti pada alasan itu?

Fenomena ini bukanlah hal baru di kota-kota besar. Kita telah terbiasa menyaksikan anak-anak kecil mengamen, mengemis, bahkan menjajakan barang di jalanan. Tapi ketika yang melakukannya adalah anak balita, kita dihadapkan pada dilema moral yang jauh lebih kompleks. Ini bukan sekadar soal kemiskinan, ini juga soal kesiapan menjadi orang tua.

📚 Artikel Terkait

BERGABUNG DI KELAS INOVASI DAN KELAS MENULIS PGRI

PRAKIRAAN KONDISI POLITIK 2023

Surat-Surat yang Tersangkut di Langit Gaza

Masjid Sebagai Ruang Keadilan Sosial

Menjadi orang tua bukan hanya soal biologis, tapi juga soal tanggung jawab, mental, dan etika. Kita seringkali mendengar pepatah, “Setiap anak membawa rezekinya masing-masing.” Namun, ketika keyakinan ini digunakan sebagai justifikasi untuk menggantungkan kehidupan keluarga pada pundak mungil seorang anak, maka pepatah itu kehilangan maknanya yang luhur.

Anak kecil bukanlah mesin pencetak uang. Mereka bukan alat pemuas lapar orang dewasa yang kehilangan arah atau putus asa. Memaksa anak mengamen atau mengemis bukan hanya soal pelanggaran hak anak, tapi juga bentuk eksploitasi yang dibungkus dengan dalih “keadaan memaksa.” Padahal, yang terpaksa sesungguhnya adalah anak itu—terpaksa kehilangan masa kecil, terpaksa menjadi dewasa sebelum waktunya, dan terpaksa memahami arti lapar yang bukan menjadi tanggung jawabnya.

Kemiskinan memang kejam, tapi keputusan untuk melahirkan anak di tengah keterbatasan ekonomi seharusnya bukan hanya bertumpu pada keyakinan spiritual semata, tetapi juga harus disertai kesiapan logis dan emosional. Jika sejak awal kita tahu bahwa kita belum mampu, mengapa kita tega menempatkan anak dalam lingkaran penderitaan yang kita sendiri tidak sanggup menanggungnya?

Negara punya tanggung jawab. Masyarakat juga punya peran. Tapi yang pertama dan utama adalah kesadaran setiap individu yang memilih menjadi orang tua. Kesadaran bahwa anak bukan pelengkap status sosial, bukan alasan untuk bertahan dalam pernikahan, dan bukan pula sumber penghasilan alternatif.

Maka dari itu, saat kita menyaksikan anak-anak jalanan yang menggenggam kaleng dan menyanyikan lagu-lagu yang bahkan belum mereka pahami maknanya, kita seharusnya bertanya bukan hanya “di mana negara?” tapi juga “di mana hati para orang tua?”

Karena sejatinya, seorang anak adalah anugerah, bukan alat tukar untuk mencari rupiah. Dan ketika kita menjadikan mereka sebagai tameng hidup, kita telah gagal memenuhi peran sebagai orang tua—sebagai pelindung, sebagai pemberi harapan, bukan pencabut masa depan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Delegitimasi Narasi Gencatan Senjata: Iran Menuding Donald Trump Menyebarkan Disinformasi demi Kepentinan Geopolitik

Delegitimasi Narasi Gencatan Senjata: Iran Menuding Donald Trump Menyebarkan Disinformasi demi Kepentinan Geopolitik

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00