• Latest
Aceh Selatan: Kaya Potensi, Tapi Terjebak dalam Ketertinggalan yang Sistemik

Aceh Selatan: Kaya Potensi, Tapi Terjebak dalam Ketertinggalan yang Sistemik

Juli 3, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Aceh Selatan: Kaya Potensi, Tapi Terjebak dalam Ketertinggalan yang Sistemik

Rivaldiby Rivaldi
Juli 3, 2025
Reading Time: 3 mins read
Aceh Selatan: Kaya Potensi, Tapi Terjebak dalam Ketertinggalan yang Sistemik
601
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleb Rivaldi

Aceh Selatan adalah daerah yang unik. Di satu sisi, ia dikaruniai lanskap alam yang luar biasa: mulai dari pegunungan Leuser yang megah, hamparan pesisir barat yang eksotis, hingga kekayaan flora-fauna yang jarang ditemui di tempat lain. Di sisi lain, kabupaten ini menyimpan kisah sedih tentang ketimpangan pembangunan, minimnya terobosan kebijakan, dan rendahnya keberpihakan terhadap rakyat kecil.

Potensi yang Tidak Diurus Serius

Sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Aceh Selatan seharusnya mampu tampil sebagai poros ekonomi baru di wilayah barat. Daerah ini memiliki potensi yang sangat luar biasa besar di sektor perikanan, pertanian, pariwisata, dan hasil hutan. Sayangnya, sebagian besar dari potensi tersebut masih terpendam, bahkan sebagian telah rusak karena ketidakmampuan pemerintah daerah dalam mengelolanya secara terencana dan berkelanjutan.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Banyak masyarakat pesisir menggantungkan hidup pada hasil laut, namun tak jarang mereka mengeluh karena akses terhadap cold storage, pasar, atau bantuan alat tangkap yang layak masih minim. Di sektor pertanian dan perkebunan, nasib petani sering kali terlunta-lunta oleh harga pasar yang tidak stabil dan kurangnya jaminan dari pemerintah. Belum lagi problem klasik seperti irigasi yang rusak, jalan produksi yang terbengkalai, dan buruknya akses transportasi antar kecamatan.

Wisata yang Indah Tapi Tak Dikenal,
Objek wisata seperti Air Dingin Tapaktuan, Pulo Dua, Gunung Tuan Tapa, atau pantai-pantai di Kecamatan Trumon dan Bakongan sebenarnya bisa menjadikan Aceh Selatan sebagai destinasi unggulan nasional. Namun, yang terjadi hari ini adalah pengelolaan yang serampangan. Banyak tempat wisata dibiarkan tanpa fasilitas dasar, seperti toilet, akses jalan, atau tempat sampah. Tak ada promosi yang serius, tidak ada branding daerah, dan yang lebih menyedihkan: tidak ada roadmap wisata jangka panjang.

Wisata hanya ramai saat hari libur, dikelola secara swadaya oleh masyarakat, sementara pemerintah daerah seolah hanya menjadikan sektor ini sebagai pajangan laporan tahunan. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan ekonomi kreatif dan menggandeng pelaku UMKM serta komunitas lokal, wisata bisa menjadi penopang ekonomi baru.

Infrastruktur dan Pelayanan Publik: Masih Tertinggal

Tak bisa dipungkiri bahwa Aceh Selatan masih tertinggal dibandingkan kabupaten-kabupaten lain, baik dari sisi pembangunan infrastruktur maupun kualitas pelayanan publik. Banyak desa yang belum memiliki akses internet yang stabil. Pelayanan di puskesmas sering dikeluhkan karena minimnya tenaga medis dan kurangnya alat kesehatan. Sekolah-sekolah di pedalaman masih kekurangan guru, dan fasilitas pendidikan belum memadai.

Di saat kabupaten lain sudah bergerak cepat menuju digitalisasi, Aceh Selatan masih bergulat dengan persoalan jalan berlubang, jembatan tua, dan listrik yang byarpet. Ini bukan hanya soal anggaran, tetapi juga soal manajemen birokrasi dan kemauan politik untuk bergerak lebih cepat dan berpihak pada rakyat.

Masalah Tata Kelola dan Kepemimpinan yang Lemah

Salah satu akar persoalan utama di Aceh Selatan adalah lemahnya tata kelola pemerintahan. Korupsi, nepotisme, dan politik transaksional menjadi hantu yang terus menghantui roda pemerintahan daerah. Banyak kebijakan lahir bukan dari kebutuhan rakyat, tapi dari kepentingan elite. Proyek-proyek sering tak tepat sasaran dan tidak berdampak jangka panjang.

Kepemimpinan di Aceh Selatan perlu dievaluasi secara menyeluruh. Diperlukan sosok pemimpin yang berani melawan arus lama, terbuka terhadap kritik, dan memiliki visi jauh ke depan. Sudah saatnya pemimpin daerah tidak hanya menjadi pejabat administratif, tetapi menjadi lokomotif perubahan yang mampu menggerakkan potensi daerah secara kolektif.

Rakyat Harus Bangkit dan Bersikap

Perubahan tak akan datang jika rakyat tetap diam. Masyarakat Aceh Selatan harus bangkit, tidak hanya menjadi penonton dari kegagalan pembangunan, tapi juga menjadi aktor utama dalam menuntut perubahan. Kampus, tokoh adat, organisasi pemuda, dan masyarakat sipil harus bersatu mengawal anggaran, menyuarakan aspirasi, dan memastikan pemerintah bekerja sebagaimana mestinya.

Demokrasi lokal tidak boleh mati karena apatisme. Suara rakyat adalah penentu arah masa depan Aceh Selatan. Sudah terlalu lama daerah ini tertinggal, sudah terlalu banyak potensi yang terbuang.

Penutup: Aceh Selatan Bisa Bangkit, Jika…

Aceh Selatan atau negri pala ini bukan daerah miskin. Ia hanya miskin keberanian. Keberanian untuk berubah, untuk meninggalkan pola lama, dan untuk membangun dengan hati. Jika pemerintah serius, jika masyarakat ikut mengawal, dan jika generasi muda berani mengambil peran, maka Aceh Selatan bukan hanya akan dikenal karena legenda Tuan Tapa, tetapi juga karena berhasil menciptakan legenda baru: tentang daerah yang bangkit dari keterpurukan dan menjadi contoh pembangunan berbasis rakyat.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Langkah yang Tertinggal

Langkah yang Tertinggal

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com