Dengarkan Artikel
Oleb Rivaldi
Aceh Selatan adalah daerah yang unik. Di satu sisi, ia dikaruniai lanskap alam yang luar biasa: mulai dari pegunungan Leuser yang megah, hamparan pesisir barat yang eksotis, hingga kekayaan flora-fauna yang jarang ditemui di tempat lain. Di sisi lain, kabupaten ini menyimpan kisah sedih tentang ketimpangan pembangunan, minimnya terobosan kebijakan, dan rendahnya keberpihakan terhadap rakyat kecil.
Potensi yang Tidak Diurus Serius
Sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Aceh Selatan seharusnya mampu tampil sebagai poros ekonomi baru di wilayah barat. Daerah ini memiliki potensi yang sangat luar biasa besar di sektor perikanan, pertanian, pariwisata, dan hasil hutan. Sayangnya, sebagian besar dari potensi tersebut masih terpendam, bahkan sebagian telah rusak karena ketidakmampuan pemerintah daerah dalam mengelolanya secara terencana dan berkelanjutan.
Banyak masyarakat pesisir menggantungkan hidup pada hasil laut, namun tak jarang mereka mengeluh karena akses terhadap cold storage, pasar, atau bantuan alat tangkap yang layak masih minim. Di sektor pertanian dan perkebunan, nasib petani sering kali terlunta-lunta oleh harga pasar yang tidak stabil dan kurangnya jaminan dari pemerintah. Belum lagi problem klasik seperti irigasi yang rusak, jalan produksi yang terbengkalai, dan buruknya akses transportasi antar kecamatan.
Wisata yang Indah Tapi Tak Dikenal,
Objek wisata seperti Air Dingin Tapaktuan, Pulo Dua, Gunung Tuan Tapa, atau pantai-pantai di Kecamatan Trumon dan Bakongan sebenarnya bisa menjadikan Aceh Selatan sebagai destinasi unggulan nasional. Namun, yang terjadi hari ini adalah pengelolaan yang serampangan. Banyak tempat wisata dibiarkan tanpa fasilitas dasar, seperti toilet, akses jalan, atau tempat sampah. Tak ada promosi yang serius, tidak ada branding daerah, dan yang lebih menyedihkan: tidak ada roadmap wisata jangka panjang.
Wisata hanya ramai saat hari libur, dikelola secara swadaya oleh masyarakat, sementara pemerintah daerah seolah hanya menjadikan sektor ini sebagai pajangan laporan tahunan. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan ekonomi kreatif dan menggandeng pelaku UMKM serta komunitas lokal, wisata bisa menjadi penopang ekonomi baru.
Infrastruktur dan Pelayanan Publik: Masih Tertinggal
📚 Artikel Terkait
Tak bisa dipungkiri bahwa Aceh Selatan masih tertinggal dibandingkan kabupaten-kabupaten lain, baik dari sisi pembangunan infrastruktur maupun kualitas pelayanan publik. Banyak desa yang belum memiliki akses internet yang stabil. Pelayanan di puskesmas sering dikeluhkan karena minimnya tenaga medis dan kurangnya alat kesehatan. Sekolah-sekolah di pedalaman masih kekurangan guru, dan fasilitas pendidikan belum memadai.
Di saat kabupaten lain sudah bergerak cepat menuju digitalisasi, Aceh Selatan masih bergulat dengan persoalan jalan berlubang, jembatan tua, dan listrik yang byarpet. Ini bukan hanya soal anggaran, tetapi juga soal manajemen birokrasi dan kemauan politik untuk bergerak lebih cepat dan berpihak pada rakyat.
Masalah Tata Kelola dan Kepemimpinan yang Lemah
Salah satu akar persoalan utama di Aceh Selatan adalah lemahnya tata kelola pemerintahan. Korupsi, nepotisme, dan politik transaksional menjadi hantu yang terus menghantui roda pemerintahan daerah. Banyak kebijakan lahir bukan dari kebutuhan rakyat, tapi dari kepentingan elite. Proyek-proyek sering tak tepat sasaran dan tidak berdampak jangka panjang.
Kepemimpinan di Aceh Selatan perlu dievaluasi secara menyeluruh. Diperlukan sosok pemimpin yang berani melawan arus lama, terbuka terhadap kritik, dan memiliki visi jauh ke depan. Sudah saatnya pemimpin daerah tidak hanya menjadi pejabat administratif, tetapi menjadi lokomotif perubahan yang mampu menggerakkan potensi daerah secara kolektif.
Rakyat Harus Bangkit dan Bersikap
Perubahan tak akan datang jika rakyat tetap diam. Masyarakat Aceh Selatan harus bangkit, tidak hanya menjadi penonton dari kegagalan pembangunan, tapi juga menjadi aktor utama dalam menuntut perubahan. Kampus, tokoh adat, organisasi pemuda, dan masyarakat sipil harus bersatu mengawal anggaran, menyuarakan aspirasi, dan memastikan pemerintah bekerja sebagaimana mestinya.
Demokrasi lokal tidak boleh mati karena apatisme. Suara rakyat adalah penentu arah masa depan Aceh Selatan. Sudah terlalu lama daerah ini tertinggal, sudah terlalu banyak potensi yang terbuang.
Penutup: Aceh Selatan Bisa Bangkit, Jika…
Aceh Selatan atau negri pala ini bukan daerah miskin. Ia hanya miskin keberanian. Keberanian untuk berubah, untuk meninggalkan pola lama, dan untuk membangun dengan hati. Jika pemerintah serius, jika masyarakat ikut mengawal, dan jika generasi muda berani mengambil peran, maka Aceh Selatan bukan hanya akan dikenal karena legenda Tuan Tapa, tetapi juga karena berhasil menciptakan legenda baru: tentang daerah yang bangkit dari keterpurukan dan menjadi contoh pembangunan berbasis rakyat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






