• Latest
Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam

Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam

Juli 2, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam

Redaksiby Redaksi
Juli 2, 2025
Reading Time: 3 mins read
Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Kadang merasa sedih, daerah sendiri kok gini, sih. Sebelumnya, ada pengaruh Ponpes yang “menggitukan” ya gitu deh, santriwatinya. Padahal, ia baru lulus P3K. Sekarang giliran pengelola Panti Asuhan, gitu lagi. Pelakunya oknum PNS lagi. Oknum ya, bulan semua. Duh, sang predator, tak bisa lihat bening dikit, main tancap. Ingat umur, anak bini di rumah, dan ingat Tuhan. Mari kita ungkap kasus yang lagi heboh di Pontianak ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak.

Pada Minggu malam, 29 Juni 2025, di saat langit Pontianak mulai beranjak gelap dan warga sibuk menikmati akhir pekan dengan mancing di tepian Sungai Kapuas, nonton Dracin, dan doa-doa sebelum tidur, satu operasi senyap dilakukan oleh Unit Jatanras Satreskrim Polresta Pontianak. Bukan operasi biasa. Bukan pula penggerebekan tikus-tikus berdasi. Ini tentang seorang laki-laki, berstatus Pegawai Negeri Sipil, penjaga panti sosial, yang seharusnya melindungi anak-anak terlantar, tapi justru menjelma menjadi predator paling menjijikkan yang pernah ada.

Dialah pagar makan tanaman. Bukan hanya makan, tapi mencabik-cabik, menyesap dengan rakus kepolosan anak-anak yang mempercayainya. “Ayap ye,” kata orang Sambas.

Bayangkan, wak! Di tempat yang mestinya menjadi pelukan terakhir dari dunia yang menelantarkan, seorang oknum malah menjadikan panti sosial sebagai panggung bejatnya. Ia tidak hanya mencederai fisik korban, ia menghancurkan kepercayaan anak-anak pada manusia.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Ia bukan tamu tak diundang. Ia adalah staf tetap di instansi pemerintahan, yang seharusnya mengabdi pada rakyat, pada bangsa, pada kemanusiaan. Tapi yang terjadi, ia malah mengabdi pada iblis di kepalanya. Seorang predator berseragam, yang mendekat bukan untuk menolong, tapi untuk memangsa.

Korban? Seorang anak di bawah umur. Anak yang semestinya bermain bola, belajar membaca, dan tertawa di sore hari. Kini, ia malah harus belajar tentang trauma, tentang ketakutan, tentang luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata. Luka yang mungkin akan dibawanya sampai dewasa, sampai usia pensiun, bahkan sampai liang kubur.

Perbuatan ini tidak hanya biadab, ia melampaui batas kata “jahat”. Ini bukan kejahatan biasa. Ini adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab, pengkhianatan terhadap manusia kecil yang tidak bisa melawan. Saat tindakan ini terendus dan mulai viral, pelaku tidak gentar. Ia malah berusaha membungkam. Mengintimidasi. Menutup mulut korban, agar aibnya terkubur bersama rasa takut.

Tapi tidak semudah itu, Ferguso.

Unit Jatanras dan Unit PPA Satreskrim Polresta Pontianak bekerja senyap, tapi tajam. Mereka bukan sekadar polisi, mereka pagar baja di tengah runtuhnya kepercayaan publik. Mereka melawan tekanan, menembus kabut intimidasi, dan akhirnya menangkap pelaku. Tidak dengan tepuk tangan, tapi dengan gigi gemeretak dan dada membara. Karena siapa pun yang tahu kasus ini, pasti ingin menggenggam keadilan dan menghantamkan palu hukum berkali-kali ke kepala pelaku.

Kini, kasus sedang didalami. Karena dugaan awal, ini bukan aksi pertama. Bukan kejahatan tunggal. Mungkin sudah ada korban-korban lain, yang lebih muda, lebih diam, lebih terluka.

Kita harus bertanya,
di mana sistem pengawasan?
Bagaimana bisa pelaku bergerak selama ini tanpa terendus?
Apa SOP panti sosial kita, bila seorang predator bisa bebas berkeliaran di dalamnya?

Peribahasa “pagar makan tanaman” kini bukan lagi sindiran lembut. Ia telah berubah menjadi jerit ngeri anak-anak yang dikhianati oleh orang dewasa. Sebuah tragedi kemanusiaan yang harus dicatat, disorot, dan dikutuk habis-habisan.

Tak ada alasan, tak ada pembenaran, tak ada ruang maaf.

Siapa pun yang menyentuh anak-anak dengan niat bejat, adalah musuh bersama umat manusia. Negara, bila masih punya nurani, wajib memvonis pelaku dengan hukuman paling berat yang bisa diakomodasi undang-undang, karena jika hukum gagal memberi rasa takut, maka bangsa ini hanya menunggu giliran berikutnya, ketika serigala berkaki dua kembali menyamar sebagai pelindung.

Semoga keadilan bukan hanya kata-kata. Semoga anak-anak, yang kini menangis dalam diam, tahu… bahwa dunia belum sepenuhnya gelap. Bahwa masih ada yang berdiri untuk mereka.

Meski terlambat. Meski tidak semua luka bisa sembuh.

Foto Ai, bukan yang sebenarnya.

ADVERTISEMENT

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 351x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com