POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam

RedaksiOleh Redaksi
July 2, 2025
Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Kadang merasa sedih, daerah sendiri kok gini, sih. Sebelumnya, ada pengaruh Ponpes yang “menggitukan” ya gitu deh, santriwatinya. Padahal, ia baru lulus P3K. Sekarang giliran pengelola Panti Asuhan, gitu lagi. Pelakunya oknum PNS lagi. Oknum ya, bulan semua. Duh, sang predator, tak bisa lihat bening dikit, main tancap. Ingat umur, anak bini di rumah, dan ingat Tuhan. Mari kita ungkap kasus yang lagi heboh di Pontianak ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak.

Pada Minggu malam, 29 Juni 2025, di saat langit Pontianak mulai beranjak gelap dan warga sibuk menikmati akhir pekan dengan mancing di tepian Sungai Kapuas, nonton Dracin, dan doa-doa sebelum tidur, satu operasi senyap dilakukan oleh Unit Jatanras Satreskrim Polresta Pontianak. Bukan operasi biasa. Bukan pula penggerebekan tikus-tikus berdasi. Ini tentang seorang laki-laki, berstatus Pegawai Negeri Sipil, penjaga panti sosial, yang seharusnya melindungi anak-anak terlantar, tapi justru menjelma menjadi predator paling menjijikkan yang pernah ada.

Dialah pagar makan tanaman. Bukan hanya makan, tapi mencabik-cabik, menyesap dengan rakus kepolosan anak-anak yang mempercayainya. “Ayap ye,” kata orang Sambas.

Bayangkan, wak! Di tempat yang mestinya menjadi pelukan terakhir dari dunia yang menelantarkan, seorang oknum malah menjadikan panti sosial sebagai panggung bejatnya. Ia tidak hanya mencederai fisik korban, ia menghancurkan kepercayaan anak-anak pada manusia.

Ia bukan tamu tak diundang. Ia adalah staf tetap di instansi pemerintahan, yang seharusnya mengabdi pada rakyat, pada bangsa, pada kemanusiaan. Tapi yang terjadi, ia malah mengabdi pada iblis di kepalanya. Seorang predator berseragam, yang mendekat bukan untuk menolong, tapi untuk memangsa.

Korban? Seorang anak di bawah umur. Anak yang semestinya bermain bola, belajar membaca, dan tertawa di sore hari. Kini, ia malah harus belajar tentang trauma, tentang ketakutan, tentang luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata. Luka yang mungkin akan dibawanya sampai dewasa, sampai usia pensiun, bahkan sampai liang kubur.

Perbuatan ini tidak hanya biadab, ia melampaui batas kata “jahat”. Ini bukan kejahatan biasa. Ini adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab, pengkhianatan terhadap manusia kecil yang tidak bisa melawan. Saat tindakan ini terendus dan mulai viral, pelaku tidak gentar. Ia malah berusaha membungkam. Mengintimidasi. Menutup mulut korban, agar aibnya terkubur bersama rasa takut.

Tapi tidak semudah itu, Ferguso.

📚 Artikel Terkait

Fenomena Perceraian

DALAM BANTAL TANPA KAPAS

Puisi-Puisi Safri Naldi

INDAHNYA DUNIA

Unit Jatanras dan Unit PPA Satreskrim Polresta Pontianak bekerja senyap, tapi tajam. Mereka bukan sekadar polisi, mereka pagar baja di tengah runtuhnya kepercayaan publik. Mereka melawan tekanan, menembus kabut intimidasi, dan akhirnya menangkap pelaku. Tidak dengan tepuk tangan, tapi dengan gigi gemeretak dan dada membara. Karena siapa pun yang tahu kasus ini, pasti ingin menggenggam keadilan dan menghantamkan palu hukum berkali-kali ke kepala pelaku.

Kini, kasus sedang didalami. Karena dugaan awal, ini bukan aksi pertama. Bukan kejahatan tunggal. Mungkin sudah ada korban-korban lain, yang lebih muda, lebih diam, lebih terluka.

Kita harus bertanya,
di mana sistem pengawasan?
Bagaimana bisa pelaku bergerak selama ini tanpa terendus?
Apa SOP panti sosial kita, bila seorang predator bisa bebas berkeliaran di dalamnya?

Peribahasa “pagar makan tanaman” kini bukan lagi sindiran lembut. Ia telah berubah menjadi jerit ngeri anak-anak yang dikhianati oleh orang dewasa. Sebuah tragedi kemanusiaan yang harus dicatat, disorot, dan dikutuk habis-habisan.

Tak ada alasan, tak ada pembenaran, tak ada ruang maaf.

Siapa pun yang menyentuh anak-anak dengan niat bejat, adalah musuh bersama umat manusia. Negara, bila masih punya nurani, wajib memvonis pelaku dengan hukuman paling berat yang bisa diakomodasi undang-undang, karena jika hukum gagal memberi rasa takut, maka bangsa ini hanya menunggu giliran berikutnya, ketika serigala berkaki dua kembali menyamar sebagai pelindung.

Semoga keadilan bukan hanya kata-kata. Semoga anak-anak, yang kini menangis dalam diam, tahu… bahwa dunia belum sepenuhnya gelap. Bahwa masih ada yang berdiri untuk mereka.

Meski terlambat. Meski tidak semua luka bisa sembuh.

Foto Ai, bukan yang sebenarnya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00