• Latest
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru - 2025 07 02 20 44 43 | Cerita Perjalanan | Potret Online

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Juli 2, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Redaksi by Redaksi
Juli 2, 2025
in Cerita Perjalanan, Kisah Hidup
Reading Time: 7 mins read
0
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru - 2025 07 02 20 44 43 | Cerita Perjalanan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Asrul Sani Abu.

Hidup di negeri orang adalah sebuah perjalanan jiwa. Ketika saya meninggalkan Sulawesi Selatan untuk kuliah di University of Western Sydney, Hawkesbury Richmond, Australia, saya tahu dunia baru sedang menanti. Namun, apa yang saya temui jauh melampaui bayangan. Negeri kanguru ini membuka mata saya terhadap perbedaan, melatih kesabaran, dan membentuk cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan.

Suhu Dingin yang Mengubah Kebiasaan

Langkah pertama di Australia langsung disambut angin dingin musim gugur. Sebagai anak tropis, tubuh saya tidak terbiasa dengan suhu yang bisa turun hingga di bawah 10 derajat Celsius. Hal yang paling saya ingat adalah tubuh saya tidak pernah sekalipun berkeringat selama berada di sana. Di Indonesia, keringat adalah teman akrab yang menemani hari-hari di bawah terik matahari, tetapi di Australia, suhu dingin membuat tubuh selalu terasa segar, bahkan saat berjalan jauh atau berolahraga. Namun, di balik kenyamanan itu, ada rasa rindu akan kehangatan tropis yang membalut setiap sudut tanah air.

Budaya: Harmoni dalam Perbedaan

Di Australia, budaya disiplin dan penghormatan terhadap aturan adalah napas kehidupan. Di jalanan, pengemudi berhenti total untuk memberi jalan kepada pejalan kaki. Transportasi umum seperti kereta dan bus tiba tepat waktu, memberi rasa percaya pada sistem yang tertata.

Di Indonesia, suasana jauh lebih hidup. Klakson kendaraan adalah musik jalanan, dan interaksi antarorang terasa lebih hangat. Meski terkadang tidak tertib, ada nilai gotong royong dan kebersamaan yang selalu terasa dalam keseharian. Dua dunia ini begitu berbeda, namun keduanya mengajarkan saya untuk menyeimbangkan kedisiplinan dengan kehangatan sosial.

Masjid dan Agama: Menemukan Kedamaian di Tengah Tantangan

Sebagai seorang Muslim, mencari masjid di Australia adalah sebuah perjalanan tersendiri. Tidak seperti di Indonesia, di mana azan terdengar dari setiap sudut, di Australia saya harus mencari tahu di mana komunitas Muslim berkumpul. Namun, masjid di sana menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah rumah, tempat bertemu saudara sesama Muslim dari berbagai negara, berbagi cerita, dan saling menguatkan iman.

Makanan: Rasa yang Menghubungkan Hati

Hal yang paling saya rindukan dari Indonesia adalah makanannya. Di Australia, makanan cenderung sederhana seperti roti, kentang, salad, dan daging panggang. Tidak ada rasa kaya rempah seperti coto Makassar, sate, bakso, nasi goreng atau rendang. Mencari makanan halal juga menjadi tantangan, memaksa saya untuk belajar memasak sendiri. Di sela-sela kesibukan kuliah, saya sering memasak masakan Indonesia, sebuah cara untuk menghadirkan suasana kampung halaman di negeri orang.

Taman dan Perpustakaan: Ruang untuk Belajar dan Merenung

Taman-taman di Australia adalah tempat favorit saya. Hijau yang luas, udara segar, dan suasana tenang memberi ruang untuk merenung dan bersyukur. Taman-taman ini dirawat dengan baik, mencerminkan budaya hidup berdampingan dengan alam.

Di kampus, perpustakaan adalah pusat kehidupan akademik. Dengan koleksi buku yang luar biasa dan suasana hening, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Berbeda dengan Indonesia, di mana minat baca masih perlu ditingkatkan, di Australia membaca adalah bagian dari budaya. Perpustakaan menjadi tempat bertumbuhnya ide, tempat di mana saya menemukan inspirasi baru setiap harinya.

Olahraga dan Hubungan Sosial

Australia adalah negeri pecinta olahraga. Rugby, dan kriket adalah olahraga favorit mereka. Saya sempat mencoba bermain kriket atau sekedar bermain bola atau pingpong bersama teman-teman kampus, meski tetap lebih nyaman menonton sepak bola seperti yang biasa saya lakukan di Indonesia.

Hubungan sosial di Australia cenderung lebih individualistis. Mereka menghormati privasi, namun tetap ramah jika kita membutuhkan bantuan. Di Indonesia, hubungan sosial lebih erat. Ada tradisi traktir teman, membantu tanpa diminta, dan kebiasaan berkumpul yang menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat.

Pendidikan dan Pernikahan: Dua Dunia yang Berbeda

Pendidikan di Australia sangat mendorong kemandirian dan diskusi terbuka. Dosen lebih berperan sebagai fasilitator, bukan pengajar satu arah. Di Indonesia, pendekatan pendidikan cenderung lebih formal, namun tetap memiliki kelebihan dalam pembentukan karakter melalui nilai-nilai tradisional.

Pernikahan di Australia adalah urusan pribadi, sering kali hanya melibatkan pasangan dan teman dekat. Sederhana, namun penuh makna. Di Indonesia, pernikahan adalah acara besar, melibatkan keluarga besar, adat, dan tradisi. Keduanya mengajarkan bahwa cinta dan komitmen tidak selalu harus dirayakan dengan cara yang sama, namun nilainya tetap universal.

Pelajaran Hidup: Menyeberangi Dua Peradaban

Australia mengajarkan saya tentang keteraturan, kedisiplinan, dan pentingnya menghormati perbedaan. Indonesia mengingatkan saya tentang nilai kebersamaan, spiritualitas, dan keindahan tradisi. Dua dunia ini adalah guru kehidupan saya, memberi pelajaran yang tak ternilai untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hingga kini, kenangan itu terus hidup. Saya adalah produk dua peradaban, yang terus berusaha menjadi jembatan antara keduanya, membawa nilai terbaik dari kedua dunia untuk melangkah ke masa depan. Dari Hawkesbury hingga Makassar, perjalanan ini bukan sekadar pengalaman, tetapi sebuah warisan jiwa yang akan saya bawa dan share selamanya.

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru.

Hidup di negeri orang adalah sebuah perjalanan jiwa. Ketika saya meninggalkan Sulawesi Selatan untuk kuliah di University of Western Sydney, Hawkesbury Richmond, Australia, saya tahu dunia baru sedang menanti. Namun, apa yang saya temui jauh melampaui bayangan. Negeri kanguru ini membuka mata saya terhadap perbedaan, melatih kesabaran, dan membentuk cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan.

Suhu Dingin yang Mengubah Kebiasaan

Langkah pertama di Australia langsung disambut angin dingin musim gugur. Sebagai anak tropis, tubuh saya tidak terbiasa dengan suhu yang bisa turun hingga di bawah 10 derajat Celsius. Hal yang paling saya ingat adalah tubuh saya tidak pernah sekalipun berkeringat selama berada di sana. Di Indonesia, keringat adalah teman akrab yang menemani hari-hari di bawah terik matahari, tetapi di Australia, suhu dingin membuat tubuh selalu terasa segar, bahkan saat berjalan jauh atau berolahraga. Namun, di balik kenyamanan itu, ada rasa rindu akan kehangatan tropis yang membalut setiap sudut tanah air.

Budaya: Harmoni dalam Perbedaan

Di Australia, budaya disiplin dan penghormatan terhadap aturan adalah napas kehidupan. Di jalanan, pengemudi berhenti total untuk memberi jalan kepada pejalan kaki. Transportasi umum seperti kereta dan bus tiba tepat waktu, memberi rasa percaya pada sistem yang tertata.

Di Indonesia, suasana jauh lebih hidup. Klakson kendaraan adalah musik jalanan, dan interaksi antarorang terasa lebih hangat. Meski terkadang tidak tertib, ada nilai gotong royong dan kebersamaan yang selalu terasa dalam keseharian. Dua dunia ini begitu berbeda, namun keduanya mengajarkan saya untuk menyeimbangkan kedisiplinan dengan kehangatan sosial.

Masjid dan Agama: Menemukan Kedamaian di Tengah Tantangan

Sebagai seorang Muslim, mencari masjid di Australia adalah sebuah perjalanan tersendiri. Tidak seperti di Indonesia, di mana azan terdengar dari setiap sudut, di Australia saya harus mencari tahu di mana komunitas Muslim berkumpul. Namun, masjid di sana menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah rumah, tempat bertemu saudara sesama Muslim dari berbagai negara, berbagi cerita, dan saling menguatkan iman.

Makanan: Rasa yang Menghubungkan Hati

Hal yang paling saya rindukan dari Indonesia adalah makanannya. Di Australia, makanan cenderung sederhana seperti roti, kentang, salad, dan daging panggang. Tidak ada rasa kaya rempah seperti coto Makassar, sate, bakso, nasi goreng atau rendang. Mencari makanan halal juga menjadi tantangan, memaksa saya untuk belajar memasak sendiri. Di sela-sela kesibukan kuliah, saya sering memasak masakan Indonesia, sebuah cara untuk menghadirkan suasana kampung halaman di negeri orang.

Taman dan Perpustakaan: Ruang untuk Belajar dan Merenung

Taman-taman di Australia adalah tempat favorit saya. Hijau yang luas, udara segar, dan suasana tenang memberi ruang untuk merenung dan bersyukur. Taman-taman ini dirawat dengan baik, mencerminkan budaya hidup berdampingan dengan alam.

Di kampus, perpustakaan adalah pusat kehidupan akademik. Dengan koleksi buku yang luar biasa dan suasana hening, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Berbeda dengan Indonesia, di mana minat baca masih perlu ditingkatkan, di Australia membaca adalah bagian dari budaya. Perpustakaan menjadi tempat bertumbuhnya ide, tempat di mana saya menemukan inspirasi baru setiap harinya.

Olahraga dan Hubungan Sosial

Australia adalah negeri pecinta olahraga. Rugby, dan kriket adalah olahraga favorit mereka. Saya sempat mencoba bermain kriket atau sekedar bermain bola atau pingpong bersama teman-teman kampus, meski tetap lebih nyaman menonton sepak bola seperti yang biasa saya lakukan di Indonesia.

Hubungan sosial di Australia cenderung lebih individualistis. Mereka menghormati privasi, namun tetap ramah jika kita membutuhkan bantuan. Di Indonesia, hubungan sosial lebih erat. Ada tradisi traktir teman, membantu tanpa diminta, dan kebiasaan berkumpul yang menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat.

Pendidikan dan Pernikahan: Dua Dunia yang Berbeda

Pendidikan di Australia sangat mendorong kemandirian dan diskusi terbuka. Dosen lebih berperan sebagai fasilitator, bukan pengajar satu arah. Di Indonesia, pendekatan pendidikan cenderung lebih formal, namun tetap memiliki kelebihan dalam pembentukan karakter melalui nilai-nilai tradisional.

Pernikahan di Australia adalah urusan pribadi, sering kali hanya melibatkan pasangan dan teman dekat. Sederhana, namun penuh makna. Di Indonesia, pernikahan adalah acara besar, melibatkan keluarga besar, adat, dan tradisi. Keduanya mengajarkan bahwa cinta dan komitmen tidak selalu harus dirayakan dengan cara yang sama, namun nilainya tetap universal.

Pelajaran Hidup: Menyeberangi Dua Peradaban

Australia mengajarkan saya tentang keteraturan, kedisiplinan, dan pentingnya menghormati perbedaan. Indonesia mengingatkan saya tentang nilai kebersamaan, spiritualitas, dan keindahan tradisi. Dua dunia ini adalah guru kehidupan saya, memberi pelajaran yang tak ternilai untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hingga kini, kenangan itu terus hidup. Saya adalah produk dua peradaban, yang terus berusaha menjadi jembatan antara keduanya, membawa nilai terbaik dari kedua dunia untuk melangkah ke masa depan. Dari Hawkesbury hingga Makassar, perjalanan ini bukan sekadar pengalaman, tetapi sebuah warisan jiwa yang akan saya bawa dan share selamanya.

Vice President Indonesia Australia Student Association UWS Hawkesbury Australia 1992.

https://www.kompasiana.com/asrulsani/6737240034777c031c1d6542/perbedaan-utama-kehidupan-indonesia-australia

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru - 2025 07 03 06 02 32 | Cerita Perjalanan | Potret Online

Cerpen “Surat Terakhir di Tepi Bengawan Solo”

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com