POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Gaza di Antara Damai Palsu dan Neraka

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 28, 2025
Gaza di Antara Damai Palsu dan Neraka
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saat Donald Trump sukses mendamaikan Iran vs Israel, dunia tepuk tangan. Padahal, ia memulai, ia pula mengakhiri. Damai memang bisa dicapai oleh “Tom and Jerry,” tidak dengan Gaza Palestina. Usai damai, daerah ini malah dibom lagi. Siapkan lagi kopi tanpa gulanya, wak!

Ketika Iran dan Israel akhirnya menandatangani gencatan senjata, 24 Juni 2025, dunia bernapas lega. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelipkan harapan dalam setiap jeda koma siaran pers mereka. Donald Trump, yang entah bagaimana bisa kembali jadi Presiden, mengangkat dua tangan ke langit dan berkata, “Peace is very close,” seperti nabi-nabi zaman kapitalisme. Dunia pun bersorak. Tapi Gaza? Gaza justru menerima kiriman rudal berikutnya dengan alamat yang tidak pernah keliru, rakyat sipil.

Dalam dunia paralel yang absurd ini, gencatan senjata bukan berarti diam. Ia berarti fokus dialihkan. Gaza menjadi layar utama dengan resolusi tinggi dan ledakan surround stereo 9.1. Sejak 13 Juni, ketika Israel mulai membombardir Iran sebagai bentuk pembuktian testosteron geopolitik, lebih dari 860 warga Palestina di Gaza tewas. Tapi siapa yang peduli? Karena tampaknya, dalam kamus diplomasi internasional, kata “Palestina” letaknya persis di antara “pengabaian” dan “pengalihan isu.”

Pada 25 Juni saja, dalam satu hari yang tidak terlalu istimewa bagi para pemegang senjata, 78 orang di Gaza menemui ajalnya. Termasuk 33 jiwa yang sedang mengantre bantuan makanan. Ya, di Gaza, lapar bisa membunuhmu, dan bantuan bisa jadi alasan untuk dirudal. “Weaponized hunger,” kata PBB, ungkapan elegan untuk kenyataan yang biada, membunuh orang bukan karena mereka melawan, tapi karena mereka bertahan hidup.

Gencatan senjata dengan Iran justru membuka lembaran baru penderitaan Gaza. Seperti sepasang kekasih yang berbaikan sambil menendang tetangga. Militer Israel kini kembali fokus, kembali “serius,” dan kembali menyebut perang ini sebagai “operasi pembebasan sandera.” Tapi rakyat Gaza tahu, mereka bukan sandera, mereka cuma figuran tak berdialog dalam drama yang tak pernah mereka pilih.

📚 Artikel Terkait

Gampong Ramah Anak

Mengajar Al-Quran di Negeri Paman Sam

Masa Depan Mereka

GTK Antusias Donorkan Darah di Cabdindik Aceh Selatan

Qatar dan Mesir sibuk menjadi mak comblang yang mempertemukan dua orang yang saling membenci tapi harus duduk semeja. Trump bilang gencatan senjata di Gaza sudah “sangat dekat,” tapi kita tahu, di kamusnya “dekat” bisa berarti setelah pemilu berikutnya, atau mungkin setelah dunia runtuh. Sementara para diplomat menulis pernyataan manis dari dalam ruangan ber-AC, di luar sana, anak-anak Gaza menulis surat dengan darah di pasir.

Perdana Menteri Netanyahu kini bukan lagi politisi. Ia lebih mirip gladiator kuno yang haus sorak sorai. Buronan ICC ini baru saja mengalahkan Iran dalam versi diplomasi Hollywood, dan kini Gaza adalah arena gladiatornya. Tidak ada niat mundur, tidak ada niat damai. Hanya ada “kemauan untuk menyelesaikan,” yang dalam praktiknya berarti lebih banyak tank, lebih banyak drone, lebih banyak keheningan yang pecah oleh dentuman.

Sementara itu, PBB terus membuat laporan yang tak akan dibaca, dan media dunia lebih sibuk meliput siapa menang Grammy. Gaza? Gaza tetap berdiri, atau lebih tepatnya, tetap bertahan dalam puing. Karena Gaza bukan sekadar tempat. Ia adalah ujian bagi siapa pun yang masih mengaku manusia. Sejauh ini, kita semua gagal. Dengan gemilang.

Perang modern bukan soal menang atau kalah. Ini tentang siapa yang paling jago berdalih, paling kuat menekan, dan paling sabar menghadapi hipokrisi global. Gaza menjadi catatan kaki dari perjanjian damai dunia, tempat manusia diuji bukan hanya dengan peluru, tapi dengan ketidakpedulian kolektif.

Di zaman ini, bahkan damai pun bisa jadi senjata. Gaza? Gaza sedang jadi panggung sandiwara dunia, di mana semua aktor sudah lupa naskah, dan penontonnya, hanya bisa menatap dengan air mata dan doa. Saya tidak tahu sampai kapan Israel terus membunuhi warga Gaza. Dicap genosida pun negeri Yahudi itu tak pernah berhenti menumpahkan darah. Mungkin sampai warga di sana dihabisi semua baru berhenti membunuh. Mungkin orang Israel itu tak pernah ngopi kali, ya..?

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Menjadi Bos Kecil dalam Dunia Besar: Catatan Seorang Penulis yang Mencari Arti

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00