POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Doa Seorang Ayah yang Tenggelam di Balik Dinding Pesantren

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 22, 2025
Doa Seorang Ayah yang Tenggelam di Balik Dinding Pesantren
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Menuliskan kisah nyata ini agak berat. Berat karena melawan aturan komunitas media sosial. Sangat sensitif dengan isu-isu anak di bawah umur yang diperlakukan secara asusila. Saya mencoba merangkai kata agar tak kena teguran medsos. Kenapa saya ngotot kisah nyata ini dipublikasikan, agar menjadi pelajaran berharga, terutama bagi pengasuh pondok pesantren di mana pun berada.

ND tak pernah menyangka, doa-doanya akan kembali kepadanya sebagai luka yang menganga. Ia adalah seorang ayah biasa, bukan ulama, bukan pejabat, hanya seorang lelaki yang ingin anaknya tumbuh menjadi anak salehah—membaca Qur’an dengan tartil, menjawab salam dengan lembut, dan menyebut nama orang tuanya dalam tiap doa malam. Maka dikirimlah anak perempuannya ke sebuah pondok pesantren di Sungai Kakap, Kubu Raya. Tempat yang katanya mendidik akhlak. Tempat yang katanya suci.

Tetapi malam tanggal 6 Mei 2025 menghapus semua keyakinan itu. Di ruang sederhana rumah mereka, sang anak duduk dengan mata sembab. Ia menggenggam tangan ayahnya erat—bukan seperti anak yang ingin bercerita, tapi seperti korban kapal karam yang berusaha menggapai pelampung terakhir.

“Ayah… aku… disetubuhi…” katanya, dengan suara yang nyaris hilang, seolah malu, seolah bersalah atas luka yang bukan ia minta. Lalu tangis pun pecah. Dunia ND ambruk seketika. Kakinya lemas, wajahnya memucat, dan jantungnya seperti diremas oleh tangan tak terlihat. Ia tak bisa berkata-kata. Seolah Tuhan mencabut semua huruf dari tenggorokannya.

Bukan sekali. Bukan dua kali. Mulai 31 Januari hingga awal Mei. Yang menyentuh anaknya bukan maling, bukan preman, tapi seorang ustaz, pimpinan pesantren itu sendiri. Seseorang yang dipercaya masyarakat. Seseorang yang biasa memimpin doa. Seseorang yang mengucapkan kata “taubat” dengan mudah, padahal tangannya penuh darah kehormatan.

📚 Artikel Terkait

Filosofi Rajawali Dididik, dan Burung Dara Dibentuk: Cetak Biru Kepemimpinan dari Rumah ke Sekolah

Menyinggahi  Kaki Gunung Raung di Kabupaten Banyuwangi di Hari Nan Fitri

Revolusi Gen Z Dari Nepal

Pemko Banda Aceh Mulai Berlakukan Barcode PeduliLindungi

ND menangis. Tapi bukan tangisan lembut. Itu tangisan seorang ayah yang merasa gagal menjaga amanah. Air mata bercampur dengan kemarahan, ketakutan, dan perasaan bersalah. Malam itu, ND ingin menjerit ke langit. Ingin menukar seluruh usianya untuk mengulang waktu dan menarik anaknya keluar dari tempat neraka itu. Tapi ia tahu, waktu tidak bisa disuap. Maka satu-satunya jalan adalah keadilan.

Ia melapor ke Polres Kubu Raya sehari sebelum Iduladha, hari di mana seorang ayah diuji untuk menyembelih anaknya. Tapi ini bukan pengorbanan suci. Ini adalah pengkhianatan terhadap doa-doa. Dan pelaku bukan Ibrahim, tapi iblis berjubah.

NK, sang pelaku, ditangkap seminggu kemudian. Tapi alih-alih meringkuk dalam jeruji, ia malah dirawat di rumah sakit. “Sakit,” katanya. Dunia begitu murah hati kepada orang bejat. Ia tak tahu bahwa ada anak perempuan yang setiap malam tak bisa tidur karena bayangan tangan kotornya.

Anak ND kini bungkam. Seperti burung yang kehilangan lagu. Ia takut cahaya, takut suara, takut sentuhan. Trauma menjalari tubuhnya seperti racun. Kata-kata tak mampu menggambarkan retaknya jiwanya. Lalu, ND? Ia tetap di sampingnya. Menjadi perisai, walau sudah sobek. Menjadi bahu, walau sudah gemetar.
Pesantren adalah benteng terakhir moral bangsa. Tapi jika benteng itu sudah dikuasai iblis, ke mana lagi anak-anak akan mencari cahaya? Mungkinkah kita mulai perlu curiga pada mereka yang terlalu banyak berceramah tentang syariat, tapi tak pernah bicara soal akhlak?

Kita semua, jika masih bisa menangis, menangislah. Sebab negeri ini makin bejat bukan karena kekurangan ustaz, tapi karena terlalu banyak yang mengaku ustaz padahal tak lebih dari bangkai berjubah putih.

Ini bukan hanya kisah duka. Ini peringatan keras. Kepada semua pengasuh pondok pesantren, jangan kau khianati amanah. Anak-anak itu bukan daging yang bisa kau santap diam-diam di balik jubahmu. Mereka adalah titipan. Doa orang tua. Cahaya masa depan. Jika kau tidak takut hukum, setidaknya takutlah pada air mata seorang ayah yang tiap malam memohon: Ya Allah, ambil saja nyawaku, asal anakku tak perlu mengalami ini lagi…

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Puisi Tabrani Yunis - Review Puisi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00