Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Afnizal, S.Sos., M.Sos.
Alumnus Sosiologi USK dan Magister Sosiologi USU, Sekarang Bertugas Sebagai Guru Sosiologi MAN 1 Aceh Timur
Terdapat perbedaan dalam proses pembelajaran, pada generasi yang dikenal dengan sebutan milenial dengan generasi yang disebut Gen-Z serta Gen-Alpha. Era Gen-Millenial,pembelajaran yang terjadi lebih tradisional, berbentuk kuliah dan diskusi kelas, serta penggunaan teknologi yang lebih terbatas. Perihal tersebut dimungkinkan Gen-Milenial hidup pada era awal internet dan teknologi digital, serta pembelajaran yang lebih fokus pada konten informasi yang disampaikan dalam proses pembelajaran.
Sedangkan proses pembelajaran yang dialami oleh Gen-Z cenderung lebih fleksibel dan berbasis daring atau online. Pengalaman belajar mereka lebih terbiasa dengan konteks fleksibel seperti kursus online dan video tutorial. Demikian juga penggunaan teknologi dalam era Gen-Z cenderung lebih maju dan meluas, serta lebih menitikberatkan pengalaman belajar pada pengamalan praktis bukan hanya konten materi.
Lain halnya dengan Gen-Alpha yang cenderung lebih kreatif dan inovatif, dalam pengalaman proses pembelajaran mereka. Serta terdapat perbedaan yang sangat kentara lainnya,misalnya penggunaan teknologi yang lebih canggih di era mereka.
Tugas yang bisa diselesaikan secara sat-set dalam hitungan menit bahkan detik, dengan bantuan artificial intelligence. Sehingga pembelajaran yang terasa lebih personal dan adaptif dialami oleh Gen-Alpha.
Informasi tersebut memberikan gambaran kepada kita, tersinyalir harus ada penyesuaian dalam memberikan penilaian kepada Gen-Z dan Alpha. Pengalaman dan proses pembelajaran yang berbeda tentu harus sejalan dengan cara memberikan penilaian. Acuan dalam memberikan koreksi dan cara merespon perilaku belajar mereka, ketika proses pembelajaran dianggap telah usai atau tibanya pembagian raport di akhir masa studi.
Kecanggihan teknologi dan kecepatan penyebaran informasi dalam genggaman Gen-Z dan Gen-Alpha. Membuat mereka cenderung mengetahui lebih cepat berbagai situasi, termasuk dalam proses pemberian nilai oleh seorang guru.Nyaris, mengerikan memang ketika berbagai rahasia terkadang tidak lagi memiliki “harga diri”. Siswa dengan mudah mengetahui dari konten dan informasi yang menyebar, bahwa ada proses pengubahan nilai “oleh seorang guru kepada siswa”.
Tuntutan guru untuk “tidak boleh” memberikan nilai rendah kepada siswa, sehingga mau tidak mau guru harus memberikan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal atau KKM. Dan berbagai rahasia lainnya menjadi tidak rahasia lagi di zaman kini. Guru pun tahu kalau siswa tahu rahasia ini.
📚 Artikel Terkait
Fenomena tersebut memberikan beberapa efek negatif kepada siswa atau pelajar. Siswa akan kehilangan motivasi belajar, menurunnya rasa tanggung jawab terhadap nilai mereka. Hilangnya nilai-nilai pendidikan, mereka akan kehilangan kesadaran akan pentingnya bersikap jujur dan pentingnya belajar. Serta mungkin bisa juga berdampak kepada kurangnya kepercayaan oleh siswa terhadap sistem pendidikan dan guru.
Dapat dibayangkan, merasa nilai mereka tidak adil misalnya.Siswa yang pintar dapat merasakan kekecewaan, dikarenakan usaha yang telah dilakukan oleh mereka cenderung dihargai hampir sama dengan siswa yang terlihat malas belajar, sering bolos sekolah dan tidak mau melakukan tugas dan tanggungjawab mereka dengan baik.
Kebenaran semacam ini, tentu dapat menyebabkan kondisi yang dilematis pada pribadi guru. Dilema moral, dapat muncul ketika seorang guru menghadapi situasi pemberian nilai raport. Dalam ‘renungan sucinya”, guru membatin antara harus memberikan nilai sesuai tuntutan, sedangkan di sisi lain, harus berhadapan dengan risiko merugikan pribadi siswa pada dasarnya.
Akan tetapi, meskipun diliputi kekecewaan. Seorang guru yang baik mungkin harus bersikap pragmatis dalam hal ini. Adanya keyakinan untuk perubahan, bukan berpangku tangan dan meyakini bahwa hasilnya absolut. Tetapi harus meyakini bahwa upaya dan perubahan dapat dilakukan dengan meyakini konsep-konsep, tolak ukur dapat ditegakkan berupa tindakan-tindakan konkret yang mungkin bisa diusahakan. Salah satunya adalah mencoba menata ulang dan mengupayakan perubahan dalam proses pemberian nilai raport.
Minat siswa Gen-Z dan Gen-Alpha dalam melihat nilai raport, dan responsif terhadap nilai rapor mereka masih dianggap penting. Sederhananya, perihal ini dikarenakan raport secara umum disinyalir dapat meningkatkan motivasi belajar dengan adanya umpan balik yang konstruktif dan memotivasi. Di samping itu rapor juga dapat mengembangkan keterampilan belajar dengan penilaian yang spesifik dan dapat diukur, serta raport juga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Penjelasan tersebut menjawab pertanyaan, apakah masih relevan untuk dibagikan raport. Hanya saja, tersisa pertanyaan. Bagaimana seharusnya raport dapat diinovasikan bagi Gen-Z dan Alpha.
Beberapa cara dapat dilakukan, untuk mengembangkan sistem penilaian yang lebih baik bagi Gen-Z dan Gen-Alpha, berupa penggunaan teknologi seperti aplikasi penilaian online yang sangat familiar bagi mereka. Harapannya, membantu memudahkan proses penilaian dan memberikan umpan balikyang instan serta memancing ketertarikan dalam melihat nilai rapor yang diberikan.
Cara lain yang dapat dikembangkan seperti penggunaan metode yang beragam, berupa proyek presentasi misalnya, dan kuis. Sehingga dapat membantu pengembangan keterampilan belajar. Penilaian dengan penggunaan umpan balik yang konstruktif juga berpotensi dapat mengembangkan keterampilan belajar siswa, di mana hal tersebut adalah upaya peningkatan motivasi belajar. Serta karakteristik penilaian yang jelas dapat membantu memastikan bahwa penilaian yang dilakukan adalah adil dan dapat diandalkan bagi Gen-Z dan Gen-Alpha.
Di samping itu merujuk kepada negara yang dianggap lebih andal dalam menangani masalah pendidikan, merupakan upaya lain yang dapat dilakukan. Meskipun harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Misalnya Jepang, yang fokus dalam pemberian nilai raport pada acuan kesadaran perilaku siswa, hubungan antara guru siswa dan orang tua di rumah (dengan deskripsi dan umpan balik yang harus direspon), serta pola yang membentuk kesadaran berpikir, merupakan fokus utama dalam pemberiannilai raport, sehingga tidak ada istilah perangkingan nilai pada raport siswa di Jepang.
Kendatipun, acapkali dalam keseharian masih terdapat ujian, nilai ulangan dengan predikat angka-angka. Namun secara umum pemberian nilai di akhir masa studi atau nilai raport fokus utamanya adalah pada “nilai diri” berupa catatan-catatan dan deskripsi terhadap siswa.
Perlu digarisbawahi, sebagaimana yang telah disinggung.Pola adopsi terhadap sistem pendidikan di luar negeri harus dilakukan dengan hati-hati, harus melihat banyak konteks dan sudut pandang. Seperti sistem pendidikan, sistem kebudayaandan proses pembelajaran, serta ketersediaan fasilitas di lembaga pendidikan menjadi tolak ukur yang harus dijadikan bahan analisis, sehingga tidak menimbulkan ketimpangan baru di dalam pemberian nilai rapor.
Karena akhirnya, kita menaruh harapan besar supaya ada peningkatan berarti dalam kualitas dan mutu pendidikan di negeri kita. Kalau tidak hari ini, mungkin, minggu depan. Kalau tidak minggu ini mungkin bulan depan. Kalau tidak bulan ini, mungkin tahun depan dan seterunya. Semoga.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






