• Latest
Raport Untuk Gen Z dan Alpha

Raport Untuk Gen Z dan Alpha

Juni 21, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Raport Untuk Gen Z dan Alpha

Redaksiby Redaksi
Juni 21, 2025
Reading Time: 4 mins read
Raport Untuk Gen Z dan Alpha
597
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Muhammad Afnizal, S.Sos., M.Sos.

Alumnus Sosiologi USK dan Magister Sosiologi USU, Sekarang Bertugas Sebagai Guru Sosiologi MAN 1 Aceh Timur

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Terdapat perbedaan dalam proses pembelajaran, pada generasi yang dikenal dengan sebutan milenial dengan generasi yang disebut Gen-Z serta Gen-Alpha. Era Gen-Millenial,pembelajaran yang terjadi lebih tradisional, berbentuk kuliah dan diskusi kelas, serta penggunaan teknologi yang lebih terbatas. Perihal tersebut dimungkinkan Gen-Milenial hidup pada era awal internet dan teknologi digital, serta pembelajaran yang lebih fokus pada konten informasi yang disampaikan dalam proses pembelajaran.

Sedangkan proses pembelajaran yang dialami oleh Gen-Z cenderung lebih fleksibel dan berbasis daring atau online. Pengalaman belajar mereka lebih terbiasa dengan konteks fleksibel seperti kursus online dan video tutorial. Demikian juga penggunaan teknologi dalam era Gen-Z cenderung lebih maju dan meluas, serta lebih menitikberatkan pengalaman belajar pada pengamalan praktis bukan hanya konten materi.

Lain halnya dengan Gen-Alpha yang cenderung lebih kreatif dan inovatif, dalam pengalaman proses pembelajaran mereka. Serta terdapat perbedaan yang sangat kentara lainnya,misalnya penggunaan teknologi yang lebih canggih di era mereka. 

Tugas yang bisa diselesaikan secara sat-set dalam hitungan menit bahkan detik, dengan bantuan artificial intelligence. Sehingga pembelajaran yang terasa lebih personal dan adaptif dialami oleh Gen-Alpha.

Informasi tersebut memberikan gambaran kepada kita, tersinyalir harus ada penyesuaian dalam memberikan penilaian kepada Gen-Z dan Alpha. Pengalaman dan proses pembelajaran yang berbeda tentu harus sejalan dengan cara memberikan penilaian. Acuan dalam memberikan koreksi dan cara merespon perilaku belajar mereka, ketika proses pembelajaran dianggap telah usai atau tibanya pembagian raport di akhir masa studi.

Kecanggihan teknologi dan kecepatan penyebaran informasi dalam genggaman Gen-Z dan Gen-Alpha. Membuat mereka cenderung mengetahui lebih cepat berbagai situasi, termasuk dalam proses pemberian nilai oleh seorang guru.Nyaris, mengerikan memang ketika berbagai rahasia terkadang tidak lagi memiliki “harga diri”. Siswa dengan mudah mengetahui dari konten dan informasi yang menyebar, bahwa ada proses pengubahan nilai “oleh seorang guru kepada siswa”. 

Tuntutan guru untuk “tidak boleh” memberikan nilai rendah kepada siswa, sehingga mau tidak mau guru harus memberikan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal atau KKM. Dan berbagai rahasia lainnya menjadi tidak rahasia lagi di zaman kini. Guru pun tahu kalau siswa tahu rahasia ini.

Fenomena tersebut memberikan beberapa efek negatif kepada siswa atau pelajar. Siswa akan kehilangan motivasi belajar, menurunnya rasa tanggung jawab terhadap nilai mereka. Hilangnya nilai-nilai pendidikan, mereka akan kehilangan kesadaran akan pentingnya bersikap jujur dan pentingnya belajar. Serta mungkin bisa juga berdampak kepada kurangnya kepercayaan oleh siswa terhadap sistem pendidikan dan guru.

Dapat dibayangkan, merasa nilai mereka tidak adil misalnya.Siswa yang pintar dapat merasakan kekecewaan, dikarenakan usaha yang telah dilakukan oleh mereka cenderung dihargai hampir sama dengan siswa yang terlihat malas belajar, sering bolos sekolah dan tidak mau melakukan tugas dan tanggungjawab mereka dengan baik.

Kebenaran semacam ini, tentu dapat menyebabkan kondisi yang dilematis pada pribadi guru. Dilema moral, dapat muncul ketika seorang guru menghadapi situasi pemberian nilai raport. Dalam ‘renungan sucinya”, guru membatin antara harus memberikan nilai sesuai tuntutan, sedangkan di sisi lain, harus berhadapan dengan risiko merugikan pribadi siswa pada dasarnya. 

Akan tetapi, meskipun diliputi kekecewaan. Seorang guru yang baik mungkin harus bersikap pragmatis dalam hal ini. Adanya keyakinan untuk perubahan, bukan berpangku tangan dan meyakini bahwa hasilnya absolut. Tetapi harus meyakini bahwa upaya dan perubahan dapat dilakukan dengan meyakini konsep-konsep, tolak ukur dapat ditegakkan berupa tindakan-tindakan konkret yang mungkin bisa diusahakan.   Salah satunya adalah mencoba menata ulang dan mengupayakan perubahan dalam proses pemberian nilai raport.

Minat siswa Gen-Z dan Gen-Alpha dalam melihat nilai raport, dan responsif terhadap nilai rapor mereka masih dianggap penting. Sederhananya, perihal ini dikarenakan raport secara umum disinyalir dapat meningkatkan motivasi belajar dengan adanya umpan balik yang konstruktif dan memotivasi. Di samping itu rapor juga dapat mengembangkan  keterampilan belajar dengan penilaian yang spesifik dan dapat diukur, serta raport juga dapat meningkatkan kualitas pendidikan. 

Penjelasan tersebut menjawab pertanyaan, apakah masih relevan untuk dibagikan raport. Hanya saja, tersisa pertanyaan. Bagaimana seharusnya raport dapat diinovasikan bagi Gen-Z dan Alpha.

Beberapa cara dapat dilakukan, untuk mengembangkan sistem penilaian yang lebih baik bagi Gen-Z dan Gen-Alpha, berupa penggunaan teknologi seperti aplikasi penilaian online yang sangat familiar bagi mereka. Harapannya, membantu memudahkan proses penilaian dan memberikan umpan balikyang instan serta memancing ketertarikan dalam melihat nilai rapor yang diberikan. 

Cara lain yang dapat dikembangkan seperti penggunaan metode yang beragam, berupa proyek presentasi misalnya, dan kuis. Sehingga dapat membantu pengembangan keterampilan belajar. Penilaian dengan penggunaan umpan balik yang konstruktif juga berpotensi dapat mengembangkan keterampilan belajar siswa, di mana hal tersebut adalah upaya peningkatan motivasi belajar. Serta karakteristik penilaian yang jelas dapat membantu memastikan bahwa penilaian yang dilakukan adalah adil dan dapat diandalkan bagi Gen-Z dan Gen-Alpha.

Di samping itu merujuk kepada negara yang dianggap lebih andal dalam menangani masalah pendidikan, merupakan upaya lain yang dapat dilakukan. Meskipun harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Misalnya Jepang, yang fokus dalam pemberian nilai raport pada acuan kesadaran perilaku siswa, hubungan antara guru siswa dan orang tua di rumah (dengan deskripsi dan umpan balik yang harus direspon), serta pola yang membentuk kesadaran berpikir, merupakan fokus utama dalam pemberiannilai raport, sehingga tidak ada istilah perangkingan nilai pada raport siswa di Jepang. 

ADVERTISEMENT

Kendatipun, acapkali dalam keseharian masih terdapat ujian, nilai ulangan dengan predikat angka-angka. Namun secara umum pemberian nilai di akhir masa studi atau nilai raport fokus utamanya adalah pada “nilai diri” berupa catatan-catatan dan deskripsi terhadap siswa.

Perlu digarisbawahi, sebagaimana yang telah disinggung.Pola adopsi terhadap sistem pendidikan di luar negeri harus dilakukan dengan hati-hati, harus melihat banyak konteks dan sudut pandang. Seperti sistem pendidikan, sistem kebudayaandan proses pembelajaran, serta ketersediaan fasilitas di lembaga pendidikan menjadi tolak ukur yang harus dijadikan bahan analisis, sehingga tidak menimbulkan ketimpangan baru di dalam pemberian nilai rapor. 

Karena akhirnya, kita menaruh harapan besar supaya ada peningkatan berarti dalam kualitas dan mutu pendidikan di negeri kita. Kalau tidak hari ini, mungkin, minggu depan. Kalau tidak minggu ini mungkin bulan depan. Kalau tidak bulan ini, mungkin tahun depan dan seterunya. Semoga.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Negeriku Kaya Raya, Tapi Banyak Pencuri

Negeriku Kaya Raya, Tapi Banyak Pencuri

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com