Dengarkan Artikel
Oleh TM Zulfikar,
Pemerhati Lingkungan di Aceh
Pernyataan Ulil Abshar Abdala (Gus Ulil) yang menyebut aktivis lingkungan sebagai “Wahabi lingkungan” adalah simplifikasi intelektual yang patut dikritisi secara serius. Sebuah ucapan yang tidak hanya mereduksi urgensi perjuangan penyelamatan lingkungan, tapi juga mengabaikan realitas kerusakan ekologis yang nyata, sistematis, dan meluas. Bila kaum peduli lingkungan disebut Wahabi, maka kita patut bertanya: siapa sebenarnya yang sedang berideologi buta terhadap nafsu pembangunan eksploitatif?
Gus Ulil, sebagai figur pemikir publik, seharusnya menempatkan diri dalam posisi adil dan cermat sebelum menjatuhkan label yang mengandung nuansa stigmatis. Dalam dunia aktivisme lingkungan, kritik keras terhadap pembangunan yang rakus bukan fanatisme, melainkan reaksi etis terhadap krisis. Hutan hilang, sungai mati, udara sesak, dan ruang hidup menyempit bukan mitos. Itu fakta. Dan fakta tak bisa dikompromikan atas nama “toleransi terhadap pembangunan.”
Kalangan pejuang lingkungan tidak menolak pembangunan. Yang ditolak adalah pembangunan yang membunuh keberlanjutan, merusak bentang alam, dan menggusur masyarakat adat. Bila mempertahankan ruang hidup disebut “Wahabi”, maka dunia ini butuh lebih banyak Wahabi yang waras dalam menjaga bumi—daripada liberalisme yang kehilangan akar ekologis.
📚 Artikel Terkait
Pernyataan Gus Ulil menandakan satu hal: bahkan di ruang intelektual, keberpihakan pada lingkungan masih dianggap ekstrem. Ini gejala yang berbahaya. Ketika nalar ekologis dicap radikal, maka yang tersisa hanyalah ruang kosong untuk oligarki dan arogansi investasi.
Kita perlu meluruskan arah diskusi publik. Isu lingkungan bukan soal ideologi kanan atau kiri, bukan soal konservatif atau progresif. Ini soal keberlangsungan hidup manusia. Hutan bukan soal kayu, sungai bukan cuma soal debit air. Semua adalah ekosistem yang saling terhubung. Dan ketika satu bagian rusak, kita semua menanggung akibatnya.
Jadi sebelum kita menyebut para penjaga lingkungan sebagai Wahabi, mari kita tanya diri sendiri: siapa yang sebenarnya menuhankan pertumbuhan ekonomi hingga mengorbankan segalanya? Siapa yang buta terhadap peringatan ilmiah, laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dan kesaksian masyarakat lokal?
Kalau keberpihakan pada lingkungan dianggap radikal, maka ketidakpedulian adalah bentuk radikalisme yang lebih berbahaya. Karena ia membiarkan kehancuran terjadi sambil mengatasnamakan moderasi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






