Dengarkan Artikel
Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Salah satu misteri terbesar yang ditinggalkan oleh Christiaan Snouck Hurgronjeāseorang ilmuwan brilian sekaligus penasihat kolonial yang kontroversialāadalah surat wasiatnya. Setelah kematiannya pada tahun 1936 (Schacht, 1937: 192), terungkap bahwa wasiat terakhirnya disegel dengan instruksi ketat untuk tidak dibuka hingga seratus tahun setelah kematiannya. Dengan demikian, pada tahun 2036, dunia akan mendapatkan akses ke dokumen yang berpotensi menjadi kunci terakhir untuk memahami pemikiran terdalam dari sosok yang penuh dengan dualitas ini.
Perintah penundaan pembukaan wasiat selama satu abad ini adalah tradisi legal di Belanda, juga secara sempurna mencerminkan kehidupan Snouck Hurgronje sendiri, yang dipenuhi dengan lapisan-lapisan kerahasiaan dan identitas ganda. Ia adalah seorang ilmuwan Eropa yang berhasil hidup sebagai seorang sarjana Muslim bernama āAbd al-GhaffÄr di Mekkah (Van Koningsveld, 2016: 88), membaur begitu dalam hingga ia bisa memetakan kehidupan sosial dan keagamaan di kota suci itu secara mendetail (Hurgronje, 2007). Ia juga adalah seorang suami bagi perempuan-perempuan Sunda di Priangan, memiliki keturunan Indo-Eropa yang riwayatnya baru terungkap secara luas bertahun-tahun kemudian (Rohmana, 2018: 35).
Di sisi lain, ia adalah penasihat utama Pemerintah Kolonial Belanda, yang analisis tajamnya tentang masyarakat Aceh dalam karyanya De Atjehers (Hurgronje, 1893) digunakan sebagai landasan strategis oleh Jenderal Van Heutsz untuk menaklukkan perlawanan Aceh (van Dijk, 2021: 326).
Dualitas antara perannya sebagai seorang etnograf yang empatik dan seorang analis kebijakan perang yang dingin merupakan inti dari perdebatan tak berujung mengenai warisannya (Benda, 1958: 338).
Maka, spekulasi mengenai isi surat wasiat tersebut sangat beragam. Apakah wasiat itu berisi pengakuan akhir mengenai keyakinan agamanya? Ataukah wasiat itu memuat pesan-pesan atau warisan yang ditujukan secara khusus kepada para keturunannya di Indonesia, yang mungkin tidak pernah ia temui lagi setelah kembali ke Eropa?
š Artikel Terkait
Mungkinkah wasiat itu mengandung informasi sensitif mengenai kebijakan internal pemerintah kolonial, atau penilaian pribadinya yang blak-blakan tentang para pejabat tinggi Belanda dan para elite pribumi yang menjadi informannya (Laffan, 2003)?
Snouck mungkin sengaja menundanya selama 100 tahun untuk memastikan semua pihak yang terlibat telah tiada, sehingga yang tersisa hanyalah catatan sejarah.
Bisa jadi wasiat tersebut berisi perspektif terakhirnya mengenai Perang Aceh atau kebijakan Islam di Hindia Belanda, sebuah upaya untuk meluruskan interpretasi atas karyanya dan mengendalikan narasinya sendiri dari balik kubur.
Apapun isinya kelak, tindakan menyegel wasiat selama satu abad adalah langkah yang sangat khas Snouck Hurgronje. Ia adalah seorang ahli dalam mengelola informasi dan citra. Dengan keputusan ini, ia memastikan bahwa bahkan lama setelah jasadnya tiada, namanya akan terus menjadi subjek keingintahuan dan spekulasi. Wasiat tahun 2036 adalah teka-teki terakhir dari seorang intelektual zeni yang hidupnya adalah sebuah teka-teki itu sendiri.
Berdasarkan catatan sejarah dan arsip yang ada di sini, di Leiden, surat wasiat Christiaan Snouck Hurgronje memang dibuat dan disimpan di kota ini, tempat ia menghabiskan sisa hidupnya sebagai profesor dan meninggal pada tahun 1936. Kantor notaris yang asli, yang menyusun dan menyimpan surat wasiat tersebut pada tahun 1936, adalah kantor Notaris G.A. de Jongh di Leiden.
Namun, setelah hampir 90 tahun, dokumen tersebut tidak lagi disimpan di kantor notaris komersial yang mungkin sudah tidak ada lagi atau telah berganti nama. Sesuai dengan hukum di Belanda, arsip notaris yang telah berumur puluhan tahun akan diserahkan kepada arsip publik untuk pelestarian permanen.
Saat ini, dokumen surat wasiat Christiaan Snouck Hurgronje disimpan secara resmi di Erfgoed Leiden en Omstreken (Pusat Warisan Budaya Leiden dan Sekitarnya). Lembaga ini adalah pusat arsip regional yang menyimpan arsip-arsip notaris (notariƫle archieven) dari kota Leiden, termasuk dari periode ketika Snouck Hurgronje meninggal. Di sinilah dokumen tersebut disegel dan dijaga, menunggu untuk dibuka secara resmi pada tahun 2036.
š„ 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






