POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pujangga Lama dan Pujangga Baru Punah, Karena Tidak Mendapat Tempat Dalam Negara Sistem Republik

Jacob EresteOleh Jacob Ereste
June 17, 2025
Pujangga Lama dan Pujangga Baru Punah, Karena Tidak Mendapat Tempat Dalam Negara Sistem Republik
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Jacob Ereste

Para pujangga pada masa lalu dapat teguh dan tekun berkarya dan mampu mengatasi masalah ekonomi keluarganya: ini karena, mendapat dukungan dan bantuan dari pihak keraton, yang sadar dan memahami betapa pentingnya kesaksian yang dapat diperoleh dari para pujangga. Ada bentuk kesaksian sejarah, ilmu pengetahuan serta perjalanan budaya yang terus menerus berkembang hingga dapat menjadi dokumen penting bagi keraton, yakni sosok sang raja atau ratu yang pernah memerintah pada kurun tersebut.

Tentu saja lain ceritanya bagi raja atau ratu yang korup, tidak memiliki reputasi dan karier yang baik untuk dikenang oleh rakyat melalui kesaksian sejarah. Apalagi raja atau ratu yang bersangkutan ingin menyembunyikan perilaku buruknya selama berkuasa. Karena itu, tak semua penguasa pada jaman kerajaan, maupun sampai era republik sekarang ini yang mau ditulis tentang dirinya, cara dalam memerintah hingga sikap abainya terhadap rakyat. Karena sang raja atau ratu gemar hidup mewah, meski rakyatnya dalam dera kesengsaraan.

Jadi aspek yang penting dalam dunia kapujanggan tidak dapat terus berlanjut, karena pihak negara yang bertanggung jawab untuk menjaga budaya dan kehidupan para pujangga, tidak pernah masuk dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Sehingga dunia kepustakaan kita pun menjadi kering dan meranggas. Ibarat kakap hidup di atas batu, mati segan hidup pun tak mau.

Agaknya, itulah sebabnya legenda cukup banyak karena bisa tumbuh liar dan berkembang dalam beragam corak dan warna yang sulit ditelusuri asal-usulnya. Kendati tetap mengandung unsur sejarah, budaya dan kepercayaan dari satu masyarakat, sehingga menjadi sulit dipisahkan dari unsur mitos dan fiksi. Maka, legenda berada di antara ada dan tiada, lantaran dominan tidak tertulis dan tidak dibukukan. Akibatnya, tentu saja sulit untuk diteliti dan dikaji secara akademis. Namun legenda tetap memiliki pesan moral, nilai spiritual atau secamam.kearifan lokal.

Legenda yang masih bisa diceritakan secara tersamar di antara seperti Legenda Tangkuban Perahu, Sosok Pangeran Sipahit Lidah, Roro Jongrang dan Malin Kundang serta sejumlah legenda lain yang sayup-sayup seperti hilang ditelan bumi.

Karya sastra para pujangga — tentu saja dari masa lalu, karena masa kini tidak lagi ada pujangga yang lahir, apalagi hendak mengharapkan karyanya — bisa saja berujud puisi seperti Kakawin, pantun, syair, seloka dan gurindam. Karya para pujangga dalam bentuk prosa bisa berupa cerita rakyat, hikayat, babat dan suluk yang memuat sejarah, ajaran atau tuntunan hidup serta kisah para pahlawan.

📚 Artikel Terkait

Darmansah Di Mata Sahabatnya Semasa di SPG

Menyelamatkan Jejak Sistem Perkeretaapian Kolonial di Koetaradja

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Nilai Yang Bergeser

Ada juga naskah para pujangga yang ditulis di atas daun lontar atau manuskrip seperti karya Ila Ga Ligo. Namun ada juga yang ditulis di atas kertas Daluang, atau kulit kayu yang memuat ilmu dan pengetahuan, hukum, agama hingga filsafat.

Ada juga yang disebut Suluk atau teks mistik — yang memuat pemahaman dan pengetahuan tentang spiritual dan biasanya sangat sufistik. Seperti Suluk Wujil, Suluk Sukarsa sangat kuat dan mengesankan paparan dari perjalanan batin yang sangat sakral

Artinya dapat dipahami bahwa karya para pujangga tidak hanya bernilai sastra, tapi juga panduan etika, moral dan akhlak mulia bagi manusia yang ingin menyempurnakan hidupnya, kendati kesempurnaan itu sendiri mungkin tidak akan pernah tercapai.

Karena itu, dalam kesadaran serupa inilah bahwa sesungguhnya esensi terpenting dari spiritualitas itu adalah menjadi — sebuah proses yang lebih penting dari apa yang dianggap suatu hasil, atau capaian yang mampu diraih. Jadi Serat seperti.yang ada dalam.khazanah sastra dan budaya Jawa, bukan sekedar sastra, tetapi wadah dari warisan luhur para leluhur yang memiliki nilai filsafat dan kehidupan dalam dimensi spiritual yang ditulis dalam bentuk karya sastra seperti prosa atau puisi.

Adapun esensi dari Serat itu sendiri memuat ajaran etika dan moral serta sikap bijak untuk membimbing manusia hidup seimbang antara lahir dan batin. Bahkan takaran kepemimpinan serta ketatanegaraan hingga petunjuk pengobatan termuat juga di dalamnya.

Namun yang lebih penting, tentu saja sebagai sarana pendidikan pembentukan karakter yang meliputi rasa hormat, welas asih, kesabaran serta sikap rendah hati yang terkendali dan dapat dikontrol.

Serat Centini, Serat Wedhatama, Serat Kalitadha dan Serat Wulangreh cukup dikenal oleh generasi 50 tahun ke atas yang masih hidup sampai hari ini. Intinya dari Serat Centhini ialah tuntunan mencari makna hidup dan kesempurnaan spiritual secara fisik, batin, intelektual maupun kultural yang melatar belakangi pengetahuan dan keilmuan serta pengalaman hidup sebelumnya. Sehingga berpadunya dimensi spiritualitas, tasawuf, filsafat hingga kemampuan mengeksplorasi erotisne sebagai bagian dari pengalaman untuk memahami tentang hati diri. Hingga puncaknya, kesadaran tentang hidup dan mati yang pasti sampai menyadari tentang kefanaan dunia yang sesungguhnya sebagai awal menuju alam keabadian.

Mungkin, begitulah nasib dari semua kejadian dan peristiwa yang harus dialami, seperti ketiadaan pujangga pada era milenial sekarang ini. Sebab banyak orang terlanjur mabuk duniawi — bukan ukhrowi — yang cuma ada dalam kamus surgawi. Tampaknya begitulah tragika para pujangga lama yang sempat diteruskan oleh pujangga baru, sungguh tidak mendapat tempat di dalam negara yang menganut sistem republik. Para penyair Indonesia pun hari ini, berada diluar ruang sunyi dan miskin. Walau tetap percaya dan yakin kelak akan lahir karya besar dari kegigihan yang tak hendak menyerah.

Banten, 17 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Jacob Ereste

Jacob Ereste

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Tubuh Perempuan Dalam Perang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00