• Latest
Pujangga Lama dan Pujangga Baru Punah, Karena Tidak Mendapat Tempat Dalam Negara Sistem Republik

Pujangga Lama dan Pujangga Baru Punah, Karena Tidak Mendapat Tempat Dalam Negara Sistem Republik

Juni 17, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pujangga Lama dan Pujangga Baru Punah, Karena Tidak Mendapat Tempat Dalam Negara Sistem Republik

Jacob Eresteby Jacob Ereste
Juni 17, 2025
Reading Time: 4 mins read
Pujangga Lama dan Pujangga Baru Punah, Karena Tidak Mendapat Tempat Dalam Negara Sistem Republik
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Jacob Ereste

Para pujangga pada masa lalu dapat teguh dan tekun berkarya dan mampu mengatasi masalah ekonomi keluarganya: ini karena, mendapat dukungan dan bantuan dari pihak keraton, yang sadar dan memahami betapa pentingnya kesaksian yang dapat diperoleh dari para pujangga. Ada bentuk kesaksian sejarah, ilmu pengetahuan serta perjalanan budaya yang terus menerus berkembang hingga dapat menjadi dokumen penting bagi keraton, yakni sosok sang raja atau ratu yang pernah memerintah pada kurun tersebut.

Tentu saja lain ceritanya bagi raja atau ratu yang korup, tidak memiliki reputasi dan karier yang baik untuk dikenang oleh rakyat melalui kesaksian sejarah. Apalagi raja atau ratu yang bersangkutan ingin menyembunyikan perilaku buruknya selama berkuasa. Karena itu, tak semua penguasa pada jaman kerajaan, maupun sampai era republik sekarang ini yang mau ditulis tentang dirinya, cara dalam memerintah hingga sikap abainya terhadap rakyat. Karena sang raja atau ratu gemar hidup mewah, meski rakyatnya dalam dera kesengsaraan.

Jadi aspek yang penting dalam dunia kapujanggan tidak dapat terus berlanjut, karena pihak negara yang bertanggung jawab untuk menjaga budaya dan kehidupan para pujangga, tidak pernah masuk dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Sehingga dunia kepustakaan kita pun menjadi kering dan meranggas. Ibarat kakap hidup di atas batu, mati segan hidup pun tak mau.

Agaknya, itulah sebabnya legenda cukup banyak karena bisa tumbuh liar dan berkembang dalam beragam corak dan warna yang sulit ditelusuri asal-usulnya. Kendati tetap mengandung unsur sejarah, budaya dan kepercayaan dari satu masyarakat, sehingga menjadi sulit dipisahkan dari unsur mitos dan fiksi. Maka, legenda berada di antara ada dan tiada, lantaran dominan tidak tertulis dan tidak dibukukan. Akibatnya, tentu saja sulit untuk diteliti dan dikaji secara akademis. Namun legenda tetap memiliki pesan moral, nilai spiritual atau secamam.kearifan lokal.

Legenda yang masih bisa diceritakan secara tersamar di antara seperti Legenda Tangkuban Perahu, Sosok Pangeran Sipahit Lidah, Roro Jongrang dan Malin Kundang serta sejumlah legenda lain yang sayup-sayup seperti hilang ditelan bumi.

Karya sastra para pujangga — tentu saja dari masa lalu, karena masa kini tidak lagi ada pujangga yang lahir, apalagi hendak mengharapkan karyanya — bisa saja berujud puisi seperti Kakawin, pantun, syair, seloka dan gurindam. Karya para pujangga dalam bentuk prosa bisa berupa cerita rakyat, hikayat, babat dan suluk yang memuat sejarah, ajaran atau tuntunan hidup serta kisah para pahlawan.

Ada juga naskah para pujangga yang ditulis di atas daun lontar atau manuskrip seperti karya Ila Ga Ligo. Namun ada juga yang ditulis di atas kertas Daluang, atau kulit kayu yang memuat ilmu dan pengetahuan, hukum, agama hingga filsafat.

Ada juga yang disebut Suluk atau teks mistik — yang memuat pemahaman dan pengetahuan tentang spiritual dan biasanya sangat sufistik. Seperti Suluk Wujil, Suluk Sukarsa sangat kuat dan mengesankan paparan dari perjalanan batin yang sangat sakral

Artinya dapat dipahami bahwa karya para pujangga tidak hanya bernilai sastra, tapi juga panduan etika, moral dan akhlak mulia bagi manusia yang ingin menyempurnakan hidupnya, kendati kesempurnaan itu sendiri mungkin tidak akan pernah tercapai.

Karena itu, dalam kesadaran serupa inilah bahwa sesungguhnya esensi terpenting dari spiritualitas itu adalah menjadi — sebuah proses yang lebih penting dari apa yang dianggap suatu hasil, atau capaian yang mampu diraih. Jadi Serat seperti.yang ada dalam.khazanah sastra dan budaya Jawa, bukan sekedar sastra, tetapi wadah dari warisan luhur para leluhur yang memiliki nilai filsafat dan kehidupan dalam dimensi spiritual yang ditulis dalam bentuk karya sastra seperti prosa atau puisi.

Adapun esensi dari Serat itu sendiri memuat ajaran etika dan moral serta sikap bijak untuk membimbing manusia hidup seimbang antara lahir dan batin. Bahkan takaran kepemimpinan serta ketatanegaraan hingga petunjuk pengobatan termuat juga di dalamnya.

Namun yang lebih penting, tentu saja sebagai sarana pendidikan pembentukan karakter yang meliputi rasa hormat, welas asih, kesabaran serta sikap rendah hati yang terkendali dan dapat dikontrol.

Serat Centini, Serat Wedhatama, Serat Kalitadha dan Serat Wulangreh cukup dikenal oleh generasi 50 tahun ke atas yang masih hidup sampai hari ini. Intinya dari Serat Centhini ialah tuntunan mencari makna hidup dan kesempurnaan spiritual secara fisik, batin, intelektual maupun kultural yang melatar belakangi pengetahuan dan keilmuan serta pengalaman hidup sebelumnya. Sehingga berpadunya dimensi spiritualitas, tasawuf, filsafat hingga kemampuan mengeksplorasi erotisne sebagai bagian dari pengalaman untuk memahami tentang hati diri. Hingga puncaknya, kesadaran tentang hidup dan mati yang pasti sampai menyadari tentang kefanaan dunia yang sesungguhnya sebagai awal menuju alam keabadian.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Mungkin, begitulah nasib dari semua kejadian dan peristiwa yang harus dialami, seperti ketiadaan pujangga pada era milenial sekarang ini. Sebab banyak orang terlanjur mabuk duniawi — bukan ukhrowi — yang cuma ada dalam kamus surgawi. Tampaknya begitulah tragika para pujangga lama yang sempat diteruskan oleh pujangga baru, sungguh tidak mendapat tempat di dalam negara yang menganut sistem republik. Para penyair Indonesia pun hari ini, berada diluar ruang sunyi dan miskin. Walau tetap percaya dan yakin kelak akan lahir karya besar dari kegigihan yang tak hendak menyerah.

ADVERTISEMENT

Banten, 17 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Tubuh Perempuan Dalam Perang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com