POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Api di Selatan, Duka di Langit

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
June 15, 2025
Api di Selatan, Duka di Langit
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro


Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Ketegangan di Timur Tengah terus memuncak setelah Israel dan Iran melancarkan serangan militer baru satu sama lain pada Sabtu (14/6/2025) malam waktu setempat. [1]

Di selatan Iran, tempat gas mengalir dari dada bumi,
ada ladang yang dulu bersenandung tiap pagi.

Namanya South Pars, urat nadi energi,
menyatu dengan laut dan langit,
seperti doa yang terus naik tanpa henti.

Tapi pagi itu, suara berubah.
Bukan siulan pipa,
melainkan jerit logam dan gelegar yang memecah.

Rudal-rudal tak punya nama,
tapi kita tahu dari mana datangnya.

Langit bukan lagi pelindung,
tapi cermin dari dendam yang bersarang dalam hitung-hitungan geopolitik.

“Ini bukan hanya tentang ladang gas,” kata seorang teknisi,
“ini tentang siapa yang boleh bernapas dan siapa yang dicekik.”

-000-

Anak itu bertanya kepada ibunya:
“Bu, kenapa langit marah?”

Ibunya hanya bisa memeluk,
sambil menatap layar ponsel yang menampilkan kobaran di fase empat belas.

Gas meledak, bukan untuk memasak,
tapi untuk mencipta sunyi yang memanjang ke malam.

“Langit sedang sakit,” katanya lirih,
“karena manusia lupa caranya bicara tanpa senjata.”

-000-

Gas, yang mestinya simbol kemakmuran,
kini jadi sumbu peperangan.

Ladang-ladang itu bukan sekadar tempat kerja,
tapi medan tempat kekuasaan bersaing dalam senyap.

Mereka tak saling tembak di parlemen,
tapi saling hantam lewat mesin.

Mesin yang digerakkan bukan oleh cinta,
melainkan rasa takut kehilangan pengaruh di mata dunia.

Israel melempar pesan lewat api,
Iran menjawab dengan siaga dan diam.

📚 Artikel Terkait

‎HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy Ketuk Tularkan Inspirasi dan Pancang Pilar Tekad Jadikan PT BALAD GRUP Sebagai Perusahaan Budidaya Periksa Dunia

Oli Palsu yang Menggegerkan Publik Kalbar

Petuah Jitu Memilih dan Memulai Bisnis

YUK JADI PENGUSAHA SAJA

Sementara rakyat di antaranya
hanya bisa menyalakan lilin
di rumah yang setengah terbakar dan setengah bertanya.

-000-

Di fase empat belas itu,
produksi gas dihentikan,
seperti cinta yang tak sempat tumbuh,
seperti dialog yang diputus sebelum disambut.

Ada doa-doa yang tak jadi sampai ke langit
karena ditelan ledakan dan kebisingan.

Ada harapan yang gagal jadi kenyataan
karena pemimpin terlalu sibuk membuat strategi pertahanan.

“Energi adalah jantung dunia,” kata ilmuwan.

Tapi siapa sangka jantung itu bisa ditembak
dan tetap kita anggap biasa?

-000-

Angin membawa kabar ke kota-kota di selatan:
“Jangan panik, tapi waspada.”

Namun, bagaimana tidak panik
jika suara ledakan lebih cepat dari suara kebijakan?

Dari Bushehr hingga Shiraz,
orang-orang mengumpulkan malam
dalam kantong tidur yang dirajut kecemasan.

Di sebuah masjid, imam membaca ayat perlindungan,
tapi di layar yang sama,
dunia melihat bendera dibakar,
dan perjanjian damai dilipat tanpa dibaca.

-000-

Aku tak bisa menulis ini tanpa bergetar.

Karena puisi ini bukan tentang metafora.

Ia adalah ledakan yang tiba-tiba terasa di dada.

Ia adalah napas gas yang berubah jadi racun,
bukan karena substansinya,
tapi karena ambisi manusia.

Kita hidup di dunia di mana pipa gas bisa lebih kuat dari konstitusi,
dan suara rudal bisa lebih keras dari suara rakyat.

Tapi aku tetap ingin percaya,
bahwa satu kata “cukup” bisa menghentikan semuanya.

-000-

Di akhir ini,
aku tidak menulis tentang siapa yang menang.

Karena tak ada kemenangan dalam reruntuhan.

Tak ada pemenang dari ledakan yang membakar napas bumi sendiri.

Yang ada hanya anak-anak yang bertanya,
ibu-ibu yang mengungsi,
dan ladang gas yang sekarang jadi ladang luka.

Kita bisa memilih, melanjutkan perang atas nama pengaruh,
atau mengakhiri luka atas nama kehidupan.

Karena langit, laut, dan bumi
tak butuh rudal untuk terus berputar, mereka hanya butuh manusia yang lebih mencintai
daripada menghitung strategi perang.

Rumah Kayu Cepu, 15 Juni 2025


Catatan:
[1] Puisi esai ini terinspirasi dari berita “Israel vs Iran Memanas: Ladang Gas Terbesar Diserang Hujan Rudal”, CNBC Indonesia, 15 Juni 2025.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20250615054906-4-641088/israel-vs-iran-memanas-ladang-gas-terbesar-diserang-hujan-rudal

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Kopdes Merah Putih Perusak Kemandirian Bangsa

Kopdes Merah Putih Perusak Kemandirian Bangsa

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00