POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Luar Biasa, Jokowi pun Diangkat Jadi Nabi

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 11, 2025
Luar Biasa, Jokowi pun Diangkat Jadi Nabi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saat ia menulis, mungkin Jokowi sedang minum kopi, dan tersedak. Tiba-tiba ada orang mengangkatnya sebagai nabi. Luar biasa narasi politik sekarang ni, wak. Mari kita ungkap kenapa sampai Pakdhe asal Solo itu diangkat jadi nabi? Siapkan kopinya agar otak selalu encer dan waras.

Pada tanggal 9 Juni 2025, sebuah cuitan sederhana menggetarkan fondasi akal sehat bangsa. Cuitan itu tidak berasal dari seorang filsuf, ulama, atau penyair mabuk eksistensial, melainkan dari seorang tokoh PSI Bali bernama Dedy Nur, Ketua Biro Ideologi dan Kaderisasi. Dengan jemari yang tampaknya lebih cepat dari pikirannya, ia menuliskan pernyataan yang, konon, lahir dari lubuk hati penuh cinta. “Jadi nabi pun sebenarnya beliau ini sudah memenuhi syarat.” Yang dimaksud tentu saja Joko Widodo, mantan presiden yang kini, oleh sebagian kecil penggemarnya, ditarik-tarik ke ranah kenabian.

Pernyataan ini ibarat melemparkan roket ke kandang ayam, kekacauan total, bulu beterbangan, dan akal sehat menyingkir mencari tempat aman. Media sosial, seperti biasa, bereaksi bak kawanan semut disiram kopi panas. Kritik mengalir bukan seperti air, tapi seperti lava, panas, marah, dan siap membakar siapa pun yang masih waras.

Jokowi, yang dulunya dikenal sebagai bapak sederhana dari Solo yang doyan blusukan, masuk gorong-gorong, dan senyum kepada rakyat meski anggaran defisit, kini dipromosikan naik kelas menjadi nabi. Nabi, wak! Gelar tertinggi dalam kosmologi wahyu. Sebuah status yang secara teologis hanya bisa dicapai lewat campur tangan Tuhan, bukan lewat algoritma media sosial atau loyalitas partai.

Tapi Dedy Nur tampaknya punya tafsir lain tentang kenabian. Bagi dia, cukup punya senyum tulus, suka menyapa rakyat kecil, dan mengakhiri masa jabatan dengan ‘sukses’ versi brosur partai, sudah cukup untuk dikarbit menjadi utusan Tuhan. Wahyu tampaknya tak lagi turun dari langit, melainkan dari X (sebelumnya Twitter), dikirim lewat sinyal 5G.

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Puisi Alami

Puasa dan Membaca

PHK Massal di media Massa dan Lahirnya Angkatan Displaced Journalist

Sontak muncul berbagai respons. Salah satunya dari akun @ch_chotimah2, yang dengan sinis menulis, “Jokowi itu pembohong, ingkar janji, pengkhianat, dan tak tahu terima kasih. Disebut oleh kader PSI memenuhi syarat untuk jadi Nabi, manusia pilihan Tuhan? Ini penghinaan terhadap Tuhan, bukan sekadar pengultusan.” Di situ publik mulai sadar, ini bukan sekadar pujian berlebihan. Ini sudah menjelma jadi teater kultus, tempat logika digantung di pintu, dan puja-puji menggantikan doa.

Fenomena ini sebetulnya bukan baru. PSI sudah lama menjadikan Jokowi semacam ikon suci. Tapi menyebut beliau layak menjadi nabi? Itu bukan lagi glorifikasi politik, itu eskalasi teologis. Suatu bentuk absurditas yang bahkan Nietzsche pun mungkin akan geleng-geleng kepala sambil menulis ulang “The Antichrist” dengan setting di Senayan.

Lucunya, hingga kini belum ada klarifikasi. PSI memilih diam, mungkin sedang berembuk dengan tim kreatif wahyu. Atau mereka sedang mempersiapkan Kitab Suci baru, versi demokrasi digital, dengan pasal-pasal tentang selfie bersama rakyat dan mukjizat peresmian jalan tol.

Yang pasti, hari itu bangsa ini tak hanya tertawa getir, tapi juga merenung dalam absurditasnya sendiri. Ketika kenabian dijadikan alat retoris demi mendongkrak popularitas mantan presiden, maka kita patut bertanya, apakah ini negara demokrasi? Atau sinetron eskatologis dengan rating yang makin menggila?

Sebab di negeri ini, kadang lebih mudah menyebut seseorang nabi dari mengkritik tanpa dicap pembenci. Jika kelak Jokowi benar-benar diangkat menjadi “Nabi Reformasi Blusukan ke-25”, maka satu-satunya mukjizat yang bisa menyelamatkan bangsa ini adalah, kesadaran kolektif bahwa terlalu cinta pada manusia biasa, bisa berakhir pada bencana luar biasa.

Apakah ini cara untuk membesarkan partai, agar namanya selalu trending di medsos? Saya tak tahulah, wak. Namun, inilah fakta politik di negeri ini. Ente lah yang menilai, saya cuma menarasikannya saja.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Pemenang Lomba Menulis - Bincang Sore POTRET

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00