POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Aceh Selatan: Negeri Kutukan bagi Orang-Orang Hebat?

RedaksiOleh Redaksi
June 10, 2025
Aceh Selatan: Negeri Kutukan bagi Orang-Orang Hebat?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Riski Alfandi

Aceh Selatan adalah tanah yang subur, penuh potensi sumber daya alam dan manusia. Namun ironisnya, tanah ini seperti mengandung kutukan tak kasat mata: ia melahirkan banyak orang hebat, tetapi menolak kehebatan itu tumbuh di tanahnya sendiri. Orang-orang terbaik dari Aceh Selatan justru bersinar di luar, menjadi ilmuwan, birokrat, pengusaha, pemimpin di level nasional bahkan internasional. Satamgnya hampir semuanya sepakat: “Kalau mau sukses, jangan kembali ke Aceh

Selatan.”

Fenomena ini bukan hanya soal migrasi kesuksesan, tetapi sebuah ironi struktural yang menyimpan luka sosial dan politik yang mendalam. Kita perlu menelaah ini secara tajam melalui tiga sudut pandang utama: struktur sosial, patologi budaya, dan teori reproduksi sosial.

Struktur Sosial yang Menghambat Mobilitas

Menurut teori struktur sosial fungsionalis (Durkheim dan Parsons), masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu mengakomodasi dan menghargai mobilitas vertikal — perpindahan individu dari strata bawah ke atas berdasarkan prestasi.

Namun di Aceh Selatan, terjadi kebalikan. Orang-orang hebat bukan diangkat dan dirayakan, tetapi seringkali dipinggirkan, dicurigai, bahkan dimatikan potensinya. Ini akibat struktur sosial yang didominasi oleh kekuasaan lama — jaringan politik lokal, feodalisme kultural, dan nepotisme

birokratik — yang melihat kehebatan sebagai ancaman, bukan sebagai aset.

Struktur ini bukan hanya stagnan, tapi represif: ia mempertahankan status quo dengan membungkam inovasi. Hasilnya? 

Orang-orang cemerlang lari — bukan karena tidak cinta tanah kelahiran, tapi karena tak mungkin tumbuh di tanah yang enggan menerima perubahan.

Patologi Budaya: Sindrom Crab dalam Ember

Dalam budaya lokal, ada semacam sindrom “crab mentality”: ketika satu individu mencoba naik ke atas, yang lain akan menariknya turun. Bukannya membangun ekosistem sinergi, banyak komunitas lokal justru merawat mentalitas sinisme terhadap perubahan, keberhasilan, dan ide-ide

baru.

📚 Artikel Terkait

Retorika Hidup Beragama

Inilah Pengalaman Pengurus IGPKhI Aceh Ikuti Pertukaran Guru ke Amerika Serikat

Buku Harian Yang Hilang

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Budaya ini bukan hadir begitu saja, tapi merupakan warisan dari trauma kolektif sejarah konflik, marginalisasi, serta sistem politik pasca-otonomi daerah yang justru memperkuat elitisme sempit. 

Pierre Bourdieu, dalam konsepnya tentang habitus dan doxa, menjelaskan bahwa

kebiasaan dan persepsi sosial itu diwariskan dan direproduksi secara sistematis oleh institusi, termasuk keluarga, sekolah, dan pemerintahan lokal.

Dalam konteks Aceh Selatan, habitus yang terbentuk adalah: “jangan terlalu menonjol, jangan terlalu cerdas, jangan mengganggu zona nyaman.” Maka tak heran bila banyak tokoh yang lebih memilih menjadi besar di luar daerah daripada melawan arus kultural yang melelahkan ini.

Reproduksi Sosial Gagal: Pendidikan sebagai Alat Status Quo

Banyak orang hebat yang lahir dari Aceh Selatan membuktikan bahwa potensi SDMnya luar biasa. Tapi sistem sosial lokal gagal membangun reproduksi sosial yang progresif. Sekolah- sekolah masih mengajarkan hafalan, bukan kreativitas. Pemerintah daerah lebih sibuk pada

proyek, bukan pembinaan talenta. Organisasi pemuda dan adat lebih berperan sebagai alat kekuasaan ketimbang pengembang kader lokal.

Teori Reproduction Theory dari Bourdieu dan Passeron menunjukkan bagaimana institusi pendidikan bisa menjadi alat dominasi kelas jika tidak diarahkan untuk membongkar struktur ketimpangan. Di Aceh Selatan, sekolah dan kampus seringkali justru memperkuat dogma lama, bukan mendobraknya. Akibatnya, mereka yang berpikiran kritis dan terbuka sering dipaksa

memilih: tunduk atau pergi.

Mengapa Mereka Tak Mau Pulang?

Banyak diaspora Aceh Selatan menyatakan bahwa pulang ke kampung halaman berarti membunuh mimpi sendiri. Mereka tidak pulang bukan karena tidak cinta, tetapi karena tahu betul: tanah ini belum siap menerima mereka. Mereka tahu bahwa inovasi akan dipolitisasi, integritas akan

dianggap arogansi, dan ide perubahan akan dikubur oleh birokrasi setempat yang lebih tertarik pada proyek jangka pendek daripada perencanaan masa depan.

Ini bukan soal pesimisme, tapi realisme. Kita sedang menyaksikan eksodus potensi.

Penutup: Kutukan Itu Bukan Takdir, Tapi Konstruksi Sosial Aceh Selatan bukan benar-benar negeri terkutuk. Kutukan itu adalah hasil konstruksi sosial — yang bisa dihancurkan, jika ada kesadaran kolektif. Tapi selama elit lokal sibuk mempertahankan posisi dengan mematikan potensi, selama budaya sinisme dan politik sempit terus dipelihara, selama anak-anak muda tak diberi ruang untuk gagal dan tumbuh, maka kutukan itu akan tetap nyata.

Sudah saatnya Aceh Selatan bertanya, 

Berapa banyak lagi anak terbaik yang harus pergi sebelum kita sadar bahwa kita sedang

kehilangan masa depan kita sendiri?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share11SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

The God Delusion - Bincang Sore POTRET

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00