Dengarkan Artikel
Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Kabupaten Blora
Di Pegunungan Floraria, desa kecil bernama Sembada hidup dalam ketenangan yang nyaris beku. Di sanalah Maria tinggal bersama adiknya, Fabiela—gadis kecil lincah berusia tujuh tahun yang menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kedua orang tua mereka meninggal dalam longsor tiga tahun silam. Sejak itu, Maria tak pernah meninggalkan desa, tak pernah benar-benar bermimpi. Sampai hari itu datang.
Saat kabut pagi belum sepenuhnya sirna, Fabiela mengejar seekor kupu-kupu berwarna biru langit hingga ke tepi jurang. Jeritannya menggema. Maria berlari, napasnya memburu—dan dari langit, sesosok pria bersayap turun menyambarnya sebelum tubuh mungil itu jatuh.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai Alberto—seorang manusia bersayap yang menyebut dirinya “pengembara langit”. Tubuhnya tegap, matanya hangat, dan senyumnya… entah mengapa membuat dada Maria terasa sesak.
“Terima kasih,” kata Maria pelan.
Alberto hanya tersenyum. “Aku hanya singgah. Tapi mungkin… aku ingin tinggal sedikit lebih lama.”
Hari-hari berikutnya, Maria menemukan dirinya menantikan suara langkah ringan Alberto setiap sore. Dia akan muncul entah dari mana, dengan sebatang bunga liar di tangan, atau sekeranjang apel curian dari kebun utara yang dia anggap sebagai “hadiah langit.”
Dia humoris, namun penuh perhatian. Saat Fabiela demam, Alberto terbang mencari tumbuhan obat ke puncak gunung. Saat Maria merasa lelah, ia duduk di dekatnya, hanya diam, mendengarkan.
Dan tanpa sadar, Maria jatuh cinta.
Namun cinta tak pernah sederhana.
Suatu malam, di tengah sinar bulan dan bisik angin, Alberto mengajak Maria naik ke tebing tinggi tempat mereka biasa berbicara tentang langit dan bumi. Di sana, ia berbicara dengan nada yang tak biasa.
“Aku tak bisa tinggal selamanya, Maria.”
Maria membeku. “Kau… akan pergi?”
📚 Artikel Terkait
“Aku bukan bagian dari dunia ini. Tubuhku bisa bertahan, tapi jiwaku milik langit. Jika aku tinggal terlalu lama, aku akan kehilangan segalanya—sayapku, kekuatanku… hidupku.”
Maria menunduk. “Kalau begitu… ajak aku pergi.”
Alberto menoleh cepat, matanya membelalak. “Tidak. Kau punya Fabiela. Dia masih kecil. Dia butuhmu. Aku… aku tak bisa egois.”
“Aku mencintaimu, Alberto…” bisik Maria, suaranya nyaris tak terdengar.
“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Dan aku mencintaimu lebih dari dunia manapun yang pernah kulintasi. Tapi cinta yang sejati… kadang harus tahu kapan melepaskan.”
Maria menangis malam itu. Alberto memeluknya erat, dengan sayap-sayapnya melingkupi tubuhnya seperti tirai hangat. Tak ada kata perpisahan. Hanya isak tertahan dan angin yang membelai rambutnya.
Namun keesokan paginya, Alberto masih ada.
“Aku menunggu,” katanya. “Sampai kau yakin. Aku tahu kau tak bisa memilih dengan mudah. Tapi bila kau ingin ikut bersamaku, aku akan terbang bersamamu, membawa Fabiela, mencari dunia baru.”
Konflik mulai muncul. Penduduk desa mulai bertanya-tanya, lalu mencurigai. Alberto dianggap pembawa malapetaka. Beberapa mengancam akan mengusirnya, bahkan melukai Fabiela jika Maria tidak segera menjauh dari pria bersayap itu.
Maria bingung. Hatinya terkoyak. Haruskah ia mempertahankan cinta, atau menjaga satu-satunya keluarga yang tersisa?
Pada suatu malam yang dingin, Maria duduk di samping Fabiela yang tertidur. Air matanya mengalir tanpa suara. Di luar jendela, sayap-sayap putih membentang dalam kegelapan.
Alberto menatapnya, tak berkata-kata.
Maria berdiri. “Aku tak bisa pergi sekarang.”
Alberto mengangguk, matanya memerah. Ia meraih tangan Maria, menciumnya pelan. “Kalau begitu… izinkan aku tinggal sedikit lebih lama. Sampai luka ini tak terasa sepedih malam ini.”
Dan sejak malam itu, tak ada perpisahan, tak ada kepastian. Hanya dua hati yang saling mencinta dalam diam, dan janji dalam bisu: bahwa jika suatu saat sayap tak lagi menjadi batas, mereka akan terbang bersama.
TAMAT
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






