Dengarkan Artikel
Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah
Hari Raya Kurban tidak sekadar ritual penyembelihan hewan. Ia adalah perwujudan ketaatan, pengorbanan, dan solidaritas sosial yang mengakar dalam sejarah iman dan kemanusiaan. Di era Artificial Intelligence (AI), nilai-nilai ini justru semakin relevan untuk direnungkan ulang.
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, manusia sering tergoda untuk menggampangkan segalanya. AI mampu menulis, berpikir, bahkan membuat keputusan. Namun, AI tidak memiliki hati. Ia tak bisa berkurban karena ia tak punya rasa cinta, ikhlas, atau pengorbanan.
Kurban bukan hanya tentang daging dan darah. Ia tentang niat yang tersembunyi dalam dada. Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan bahwa puncak ketakwaan terletak pada kesediaan melepaskan yang paling dicinta demi kehendak Ilahi. Ini bukan sekadar sejarah, tapi cermin untuk zaman ini.
Era AI menguji manusia dalam bentuk baru, bukan lagi sembelihan fisik, melainkan ego digital yang haus eksistensi. Kita berkorban bukan dengan pisau, tapi dengan menahan diri dari narsisme media sosial, melepaskan adiksi terhadap validasi digital, dan memberi ruang bagi empati yang nyata.
Hari Raya Kurban menantang kita untuk bertanya, apakah kita siap mengorbankan kesenangan sesaat demi nilai yang abadi? Apakah kita sanggup membagi waktu kita untuk sesama, di saat algoritma mengatur ritme hidup kita tanpa henti?
📚 Artikel Terkait
Teknologi bukan musuh. AI adalah alat, bukan tuan. Justru dengan AI, kita bisa memetakan kemiskinan, memantau distribusi kurban, dan memastikan bahwa daging sampai ke pelosok yang selama ini terlupakan. Inilah makna kurban yang diperluas, bukan hanya memberi, tapi memastikan pemberian itu tepat guna.
Namun, tanpa nilai spiritual dan moral yang kuat, AI hanya mempercepat ketimpangan. Maka, pendidikan nilai melalui momentum seperti Idul Adha menjadi penting. Ia menyadarkan bahwa teknologi setinggi apapun tetap harus dibingkai oleh etika, kasih sayang, dan semangat pengorbanan.
AI mungkin mampu meniru suara manusia, menyalin wajah, bahkan menulis puisi. Tapi ia tak akan pernah menangis karena cinta, atau gemetar karena takut kepada Tuhan. Hanya manusia yang mampu mengalami itu. Maka, kita mesti kembali pada jati diri: makhluk spiritual yang berakal.
Hari Raya Kurban juga menjadi ruang refleksi atas relasi kita dengan makhluk lain. Di saat AI membuat hidup kita lebih cepat, kurban justru mengajarkan untuk melambat, menyentuh kehidupan lain dengan rasa hormat. Kita tidak hanya menyembelih hewan, kita juga belajar menyembelih keserakahan.
Di era big data, kurban menjadi pengingat bahwa angka-angka bukan segalanya. Yang bermakna adalah kisah di balik setiap daging yang dibagikan, senyum yang lahir dari sebuah pemberian, dan doa-doa yang terucap diam-diam dari hati yang bersyukur.
Memaknai kurban hari ini, berarti menata ulang cara hidup. Apakah kita hidup untuk mengumpulkan data dan pencapaian? Ataukah kita hidup untuk memberi makna, berbagi, dan berani melepaskan sesuatu yang kita cintai demi yang lebih luhur?
Kurban mengajarkan bahwa kemanusiaan dimulai dari keberanian untuk memberi. Di dunia yang makin otomatis, mari kita jaga kemanusiaan kita dengan tetap menjadi pribadi yang hangat, peduli, dan siap berkorban. Sebab di situlah letak kekuatan kita sebagai manusia. (*)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






