POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Memaknai Hari Raya Kurban di Era Artificial Intelligence

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
June 7, 2025
Memaknai Hari Raya Kurban di Era Artificial Intelligence
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah

Hari Raya Kurban tidak sekadar ritual penyembelihan hewan. Ia adalah perwujudan ketaatan, pengorbanan, dan solidaritas sosial yang mengakar dalam sejarah iman dan kemanusiaan. Di era Artificial Intelligence (AI), nilai-nilai ini justru semakin relevan untuk direnungkan ulang.

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, manusia sering tergoda untuk menggampangkan segalanya. AI mampu menulis, berpikir, bahkan membuat keputusan. Namun, AI tidak memiliki hati. Ia tak bisa berkurban karena ia tak punya rasa cinta, ikhlas, atau pengorbanan.

Kurban bukan hanya tentang daging dan darah. Ia tentang niat yang tersembunyi dalam dada. Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan bahwa puncak ketakwaan terletak pada kesediaan melepaskan yang paling dicinta demi kehendak Ilahi. Ini bukan sekadar sejarah, tapi cermin untuk zaman ini.

Era AI menguji manusia dalam bentuk baru, bukan lagi sembelihan fisik, melainkan ego digital yang haus eksistensi. Kita berkorban bukan dengan pisau, tapi dengan menahan diri dari narsisme media sosial, melepaskan adiksi terhadap validasi digital, dan memberi ruang bagi empati yang nyata.

Hari Raya Kurban menantang kita untuk bertanya, apakah kita siap mengorbankan kesenangan sesaat demi nilai yang abadi? Apakah kita sanggup membagi waktu kita untuk sesama, di saat algoritma mengatur ritme hidup kita tanpa henti?

📚 Artikel Terkait

HABA Si PATok

Tiga Bule Resmi Perkuat Timnas Jelang Lawan Australia

Politik Dinasti dan Masa Depan Reformasi Demokrasi di Indonesia: Telaah Kritis dalam Perspektif Sosial, Politik, dan Kesejahteraan Bangsa

Terapkan KSWPD, BPKK Banda Aceh Gandeng DPM-PTSP dan Satpol PP

Teknologi bukan musuh. AI adalah alat, bukan tuan. Justru dengan AI, kita bisa memetakan kemiskinan, memantau distribusi kurban, dan memastikan bahwa daging sampai ke pelosok yang selama ini terlupakan. Inilah makna kurban yang diperluas, bukan hanya memberi, tapi memastikan pemberian itu tepat guna.

Namun, tanpa nilai spiritual dan moral yang kuat, AI hanya mempercepat ketimpangan. Maka, pendidikan nilai melalui momentum seperti Idul Adha menjadi penting. Ia menyadarkan bahwa teknologi setinggi apapun tetap harus dibingkai oleh etika, kasih sayang, dan semangat pengorbanan.

AI mungkin mampu meniru suara manusia, menyalin wajah, bahkan menulis puisi. Tapi ia tak akan pernah menangis karena cinta, atau gemetar karena takut kepada Tuhan. Hanya manusia yang mampu mengalami itu. Maka, kita mesti kembali pada jati diri: makhluk spiritual yang berakal.

Hari Raya Kurban juga menjadi ruang refleksi atas relasi kita dengan makhluk lain. Di saat AI membuat hidup kita lebih cepat, kurban justru mengajarkan untuk melambat, menyentuh kehidupan lain dengan rasa hormat. Kita tidak hanya menyembelih hewan, kita juga belajar menyembelih keserakahan.

Di era big data, kurban menjadi pengingat bahwa angka-angka bukan segalanya. Yang bermakna adalah kisah di balik setiap daging yang dibagikan, senyum yang lahir dari sebuah pemberian, dan doa-doa yang terucap diam-diam dari hati yang bersyukur.

Memaknai kurban hari ini, berarti menata ulang cara hidup. Apakah kita hidup untuk mengumpulkan data dan pencapaian? Ataukah kita hidup untuk memberi makna, berbagi, dan berani melepaskan sesuatu yang kita cintai demi yang lebih luhur?

Kurban mengajarkan bahwa kemanusiaan dimulai dari keberanian untuk memberi. Di dunia yang makin otomatis, mari kita jaga kemanusiaan kita dengan tetap menjadi pribadi yang hangat, peduli, dan siap berkorban. Sebab di situlah letak kekuatan kita sebagai manusia. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00