POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Saat Plastik Bertemu AI

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
June 5, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro


Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 mengangkat tema yang mendesak sekaligus menjanjikan, mengakhiri polusi plastik. Dunia sepakat, plastik bukan lagi solusi, melainkan krisis yang harus ditangani dengan visi dan inovasi.

Kabar baiknya, kita hidup di era kecerdasan buatan, di mana kemampuan manusia didorong melampaui batas oleh algoritma dan data. Tapi apakah AI akan menjadi sekutu alam atau justru musuh baru dalam baju kemewahan teknologi?

Plastik telah menjelma menjadi simbol kontradiksi modernitas yang mudah, murah, dan merusak. Kita mencintainya karena kenyamanan, tapi membencinya karena jejak panjang kerusakan yang ditinggalkan di laut, tanah, dan tubuh manusia.

Kita harus jujur, selama ini kita hanya “mengelola” plastik, bukan menghentikannya. Kita mendaur ulang sebagian kecilnya, sementara sisanya mengendap di dasar ekosistem. Kita menunggu solusi ajaib, padahal kita sendiri yang menciptakan masalahnya.

Di sinilah AI hadir bukan sebagai penyihir, tetapi sebagai alat reflektif. Dengan AI, kita bisa memetakan jejak plastik secara real time, merancang bahan pengganti yang ramah lingkungan, bahkan memprediksi dampak jangka panjang dari pola konsumsi kita.

Bayangkan robot pemilah sampah di TPS, yang dengan akurasi tinggi mampu membedakan plastik PET dari PVC. Atau model AI yang menganalisis tren pasar untuk mengurangi produksi kemasan sekali pakai. Ini bukan masa depan, ini sedang terjadi.

📚 Artikel Terkait

Menumbuhkan Kecintaan Sastra di Kalangan Generasi Muda Lewat Puisi Esai

Kami Orang Papua Mencintai Republik Ini, Hanya Saja Republik Ini yang Tidak Mencintai Kami

Elliott Ness

DPR Sekolah, Cara Unik Menyaingi Gawai

Namun, teknologi tanpa kesadaran adalah kekosongan. Kita tidak bisa menyerahkan tanggung jawab penuh pada mesin. AI tak bisa menggantikan empati, tanggung jawab, dan kesadaran kolektif. Ia hanya memperbesar niat baik atau buruk kita.

Maka perubahan harus dimulai dari hulu: dari hati yang peduli, pikiran yang sadar, dan kebijakan yang berpihak pada masa depan. Pendidikan harus menanamkan cinta lingkungan sejak dini, bukan sekadar teori, tapi melalui praktik dan keteladanan.

Lalu bagaimana peran kita sebagai individu di era AI ini? Kita harus menjadi “manusia pembelajar” yang menggunakan teknologi untuk memperkuat gerakan lingkungan. Mengunduh aplikasi pelacak jejak karbon, memilih produk berlabel hijau, atau ikut kampanye digital.

Di sisi lain, industri pun tidak boleh bersembunyi di balik jargon hijau. Mereka harus transparan dan kolaboratif. AI bisa mengawasi rantai produksi, namun hanya etika dan regulasi yang dapat mengarahkannya menuju keberlanjutan.

Republik Korea sebagai tuan rumah perayaan global 2025 memberi contoh menarik. Negara ini dikenal dengan kecanggihan teknologinya, namun juga mulai mengembangkan inisiatif hijau di ruang publik, desain kota, dan sistem pengelolaan limbah.

Kita bisa belajar bahwa modernitas tidak harus identik dengan kehancuran alam. Justru sebaliknya: teknologi bisa menjadi lensa yang memperjelas keterhubungan kita dengan bumi, bukan tirai yang menutupinya.

Dalam refleksi ini, Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah alarm spiritual untuk membangunkan nurani kolektif. Kita diingatkan bahwa bumi bukan milik kita, melainkan warisan yang harus kita jaga untuk generasi selanjutnya.

Saat plastik bertemu AI, yang dibutuhkan bukan hanya kecerdasan buatan, tetapi kebijaksanaan sejati. Dunia yang bersih tidak tercipta dari klik dan kode semata, melainkan dari keberanian manusia untuk hidup lebih sadar, sederhana, dan saling menjaga.

Jadi, mari gunakan era AI ini sebagai momentum. Bukan untuk menciptakan ilusi kemajuan, melainkan untuk menata ulang cara hidup. Karena jika kita gagal belajar dari plastik, mungkin kita akan belajar dari kerusakan yang tidak bisa dibatalkan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Untaian Puisi Mustiar Ar

Untaian Puisi Mustiar Ar

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00