• Latest

Hidup Tak Perlu Heboh

Mei 31, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hidup Tak Perlu Heboh

Redaksiby Redaksi
Mei 31, 2025
Reading Time: 3 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Mila Muzakkar

“Kadang kala ada baiknya kita kehilangan memori tentang masa lalu yang meninggalkan luka agar seseorang bisa bergerak maju tanpa beban masa lalu.”
(Komaruddin Hidayat, 2024)

Kutipan di atas aku ambil dari buku Pak Komar, Theology of Hope (terbit 2024). Sebuah renungan hidup yang dalam, terutama buat generasi kita hari ini. By the way, buku ini aku dapat langsung dari Pak Kom, loh!

Siang itu, di ruangan kaca depan perpustakaan Sekolah Madaniah Bogor, aku bertemu Pak Komar. Sambutannya hangat dan akrab, seolah kami udah sering ngobrol santai. Padahal, itulah kali pertama aku benar-benar ngobrol sedekat itu dengan Pak Kom.

Dua buku yang kutulis dalam setahun ini—Hijrah Berkali-Kali ala Denny JA dan Karena Perempuan, Aku Di-Cancel—kuberikan ke beliau. Cerita pun mengalir.

“Aku sudah mengunjungi lebih dari 50 negara. Tapi aku selalu rindu pulang ke Indonesia,” cerita Pak Kom.

Baginya, kesempatan mencicipi indahnya dan beragamnya negara lain tuh biasa aja. Nggak ada yang terlalu istimewa.

Ini agak beda, sih. Umumnya, orang-orang yang bisa ke luar negeri—apalagi dalam rangka menghadiri acara-acara antarbangsa—dianggap keren banget. Bisa berhari-hari posting foto dan video di semua kanal medsos supaya semua orang tahu.


Pak Kom lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana di desa Pabelan, Jawa Tengah. Kayak anak-anak desa lainnya yang orang tuanya taat beragama, sejak kecil ia dimasukkan ke pesantren dengan harapan bisa jadi anak yang lebih “bener.”

Dari ceritanya, aku menangkap: nggak ada yang istimewa di desanya, teman-temannya, bahkan keluarganya. Semua biasa aja. Nggak ada yang terlalu layak dikenang.

Lelaki itu menjalani hidup yang juga biasa aja. Nggak punya mimpi ke luar kota, apalagi luar negeri. Tapi lewat buku-buku yang ia baca di pesantren, Pak Kom udah “jalan-jalan” ke berbagai belahan dunia, termasuk mengenal nama-nama besar seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur).

Waktu berlalu. Anak desa itu nekad merantau ke Ibu Kota tanpa modal apa-apa. Modalnya cuma dua: berani dan mau. Di terminal, orang-orang bertahan hidup dengan jualan tisu dan makanan. “Aku juga bisa kayak gitu,” pikirnya. Di masjid, dengan modal bersih-bersih dan bisa azan, seseorang bisa tinggal dan menikmati fasilitas masjid. “Aku juga bisa,” katanya lagi.

Dengan dua modal itu, ia daftar kuliah di IAIN Jakarta (sekarang UIN Jakarta). Dan… ia lulus! Padahal, awalnya pun ia nggak tahu gimana cara bayar uang masuknya. “Boleh nggak saya cicil, Pak?” katanya ke pihak kampus.

Dan… viola. Jadilah seorang Komaruddin Hidayat seperti yang kita kenal hari ini: pernah jadi rektor di dua kampus, komisaris independen di berbagai bank syariah, penulis buku-buku reflektif, dan kini dipercaya sebagai Ketua Dewan Pers Indonesia.

Apa yang istimewa? Nggak ada. Semua dijalani biasa aja. Tapi kalau dirunut dari awal hidupnya di desa, jelas banget kalau beliau terus bergerak dan menaiki tangga-tangga kehidupan.

Hidupnya nggak heboh. Tapi penuh makna. “Yang penting, di mana pun saya berada, saya harus melakukan yang terbaik semaksimal mungkin”, prinsip hidup Pak Kom.


Dalam buku Theology of Hope, Pak Komar nulis bahwa manusia umumnya punya dua orientasi dasar: menghindari rasa sakit dan mengejar kesenangan duniawi.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Setiap saat kita berusaha naik level kesenangan. Saat miskin, pengen kaya. Setelah punya rumah gede, pengen mobil mewah. Abis itu, pengennya liburan ke luar negeri. Demi itu semua, orang bisa kerja mati-matian. Atau… pakai jalan pintas: korupsi.

Padahal, setelah semua kesenangan duniawi itu tercapai, rasanya kembali… biasa. Nggak ada yang benar-benar memuaskan. Karena memang, kesenangan duniawi tuh nggak nancap di hati. Hanya sesaat. Kesenangan sejati itu ketika kita bisa nemuin makna hidup.

Dari Pak Komar, aku belajar tiga hal: Pertama, setiap orang harus berani menerima luka masa lalu, meninggalkannya, lalu bergerak maju. Kedua, berani dan mau adalah dua modal utama untuk hidup yang bertumbuh—terutama buat kamu yang mungkin pesimis atau takut buat melangkah.
Ketiga, di manapun kita berada, apapun posisi kita, jalanin semaksimal dan sebaik mungkin. Tanpa perlu heboh. Karena kehebohan seringkali cuma cara mengejar validasi, bukan makna.

ADVERTISEMENT

Hidup nggak perlu heboh, tapi harus bermakna.

Depok, 31 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 369x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 336x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Di Bukit Jalin Lembaga Pendidikan Tinggi Seni bernama ISBI Aceh Berdiri, Membangun Kebudayaan Aceh dan Nusantara

Di Bukit Jalin Lembaga Pendidikan Tinggi Seni bernama ISBI Aceh Berdiri, Membangun Kebudayaan Aceh dan Nusantara

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com