POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hidup Tak Perlu Heboh

RedaksiOleh Redaksi
May 31, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Mila Muzakkar

“Kadang kala ada baiknya kita kehilangan memori tentang masa lalu yang meninggalkan luka agar seseorang bisa bergerak maju tanpa beban masa lalu.”
(Komaruddin Hidayat, 2024)

Kutipan di atas aku ambil dari buku Pak Komar, Theology of Hope (terbit 2024). Sebuah renungan hidup yang dalam, terutama buat generasi kita hari ini. By the way, buku ini aku dapat langsung dari Pak Kom, loh!

Siang itu, di ruangan kaca depan perpustakaan Sekolah Madaniah Bogor, aku bertemu Pak Komar. Sambutannya hangat dan akrab, seolah kami udah sering ngobrol santai. Padahal, itulah kali pertama aku benar-benar ngobrol sedekat itu dengan Pak Kom.

Dua buku yang kutulis dalam setahun ini—Hijrah Berkali-Kali ala Denny JA dan Karena Perempuan, Aku Di-Cancel—kuberikan ke beliau. Cerita pun mengalir.

“Aku sudah mengunjungi lebih dari 50 negara. Tapi aku selalu rindu pulang ke Indonesia,” cerita Pak Kom.

Baginya, kesempatan mencicipi indahnya dan beragamnya negara lain tuh biasa aja. Nggak ada yang terlalu istimewa.

Ini agak beda, sih. Umumnya, orang-orang yang bisa ke luar negeri—apalagi dalam rangka menghadiri acara-acara antarbangsa—dianggap keren banget. Bisa berhari-hari posting foto dan video di semua kanal medsos supaya semua orang tahu.


Pak Kom lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana di desa Pabelan, Jawa Tengah. Kayak anak-anak desa lainnya yang orang tuanya taat beragama, sejak kecil ia dimasukkan ke pesantren dengan harapan bisa jadi anak yang lebih “bener.”

Dari ceritanya, aku menangkap: nggak ada yang istimewa di desanya, teman-temannya, bahkan keluarganya. Semua biasa aja. Nggak ada yang terlalu layak dikenang.

📚 Artikel Terkait

Meningkatkan Pemahaman Masyarakat Terhadap Prodi Bimbingan dan Konseling

Proses Kreatif Menulis: Dari Luka Menjadi Cahaya

MAA Se-Kluet Raya Sepakati Motif Senuwan Keluwat untuk Pakaian dan Souvenir

Suara Hati Jiwa Mati

Lelaki itu menjalani hidup yang juga biasa aja. Nggak punya mimpi ke luar kota, apalagi luar negeri. Tapi lewat buku-buku yang ia baca di pesantren, Pak Kom udah “jalan-jalan” ke berbagai belahan dunia, termasuk mengenal nama-nama besar seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur).

Waktu berlalu. Anak desa itu nekad merantau ke Ibu Kota tanpa modal apa-apa. Modalnya cuma dua: berani dan mau. Di terminal, orang-orang bertahan hidup dengan jualan tisu dan makanan. “Aku juga bisa kayak gitu,” pikirnya. Di masjid, dengan modal bersih-bersih dan bisa azan, seseorang bisa tinggal dan menikmati fasilitas masjid. “Aku juga bisa,” katanya lagi.

Dengan dua modal itu, ia daftar kuliah di IAIN Jakarta (sekarang UIN Jakarta). Dan… ia lulus! Padahal, awalnya pun ia nggak tahu gimana cara bayar uang masuknya. “Boleh nggak saya cicil, Pak?” katanya ke pihak kampus.

Dan… viola. Jadilah seorang Komaruddin Hidayat seperti yang kita kenal hari ini: pernah jadi rektor di dua kampus, komisaris independen di berbagai bank syariah, penulis buku-buku reflektif, dan kini dipercaya sebagai Ketua Dewan Pers Indonesia.

Apa yang istimewa? Nggak ada. Semua dijalani biasa aja. Tapi kalau dirunut dari awal hidupnya di desa, jelas banget kalau beliau terus bergerak dan menaiki tangga-tangga kehidupan.

Hidupnya nggak heboh. Tapi penuh makna. “Yang penting, di mana pun saya berada, saya harus melakukan yang terbaik semaksimal mungkin”, prinsip hidup Pak Kom.


Dalam buku Theology of Hope, Pak Komar nulis bahwa manusia umumnya punya dua orientasi dasar: menghindari rasa sakit dan mengejar kesenangan duniawi.

Setiap saat kita berusaha naik level kesenangan. Saat miskin, pengen kaya. Setelah punya rumah gede, pengen mobil mewah. Abis itu, pengennya liburan ke luar negeri. Demi itu semua, orang bisa kerja mati-matian. Atau… pakai jalan pintas: korupsi.

Padahal, setelah semua kesenangan duniawi itu tercapai, rasanya kembali… biasa. Nggak ada yang benar-benar memuaskan. Karena memang, kesenangan duniawi tuh nggak nancap di hati. Hanya sesaat. Kesenangan sejati itu ketika kita bisa nemuin makna hidup.

Dari Pak Komar, aku belajar tiga hal: Pertama, setiap orang harus berani menerima luka masa lalu, meninggalkannya, lalu bergerak maju. Kedua, berani dan mau adalah dua modal utama untuk hidup yang bertumbuh—terutama buat kamu yang mungkin pesimis atau takut buat melangkah.
Ketiga, di manapun kita berada, apapun posisi kita, jalanin semaksimal dan sebaik mungkin. Tanpa perlu heboh. Karena kehebohan seringkali cuma cara mengejar validasi, bukan makna.

Hidup nggak perlu heboh, tapi harus bermakna.

Depok, 31 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Di Bukit Jalin Lembaga Pendidikan Tinggi Seni bernama ISBI Aceh Berdiri, Membangun Kebudayaan Aceh dan Nusantara

Di Bukit Jalin Lembaga Pendidikan Tinggi Seni bernama ISBI Aceh Berdiri, Membangun Kebudayaan Aceh dan Nusantara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00