POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ka’bah, Titik Nol Persatuan Umat Islam: Membangun Good Page Islam Global

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 30, 2025
Ka’bah, Titik Nol Persatuan Umat Islam: Membangun Good Page Islam Global
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman


Setiap tahun, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia memenuhi panggilan Ilahi menuju Tanah Suci. Mereka menyatu dalam pakaian putih tanpa jahitan, tanpa gelar, tanpa sekat identitas etnis, ras, atau kebangsaan. Semua bergerak ke satu titik, yaitu Ka’bah, pusat gravitasi spiritual umat Islam yang sekaligus menjadi simbol paling nyata dari persatuan Islam global.

Di tengah dunia yang terpolarisasi oleh politik, kapitalisme, dan konflik identitas, haji memberikan narasi alternatif: narasi tentang penyatuan, kesetaraan, dan ketundukan kepada Tuhan yang sama. Ini bukan sekadar ritual ibadah, tapi juga simbol besar bagi peluang umat Islam untuk menampilkan “good page”—halaman terbaik dari ajaran Islam—di panggung dunia.


Haji dan Identitas Global Islam

Bagi umat Islam, Ka’bah bukan hanya arah kiblat saat shalat, melainkan juga “titik nol” spiritual. Setiap langkah menuju Ka’bah adalah langkah menuju pemurnian diri, menuju kesadaran akan kesatuan umat yang melewati sekat geografi, mazhab, bahkan sejarah politik yang memecah-belah. Itulah sebabnya haji tidak hanya memiliki dimensi religi, tapi juga dimensi sosiologis, edukatif, bahkan simbolis terhadap tatanan global.

Amanda Lambert Lewis, dalam studinya mengenai performativitas ritual lintas budaya, menyatakan bahwa ritual keagamaan yang bersifat transnasional seperti haji mampu merekonstruksi makna identitas kolektif. Dalam konteks Islam, haji dapat dikaji sebagai platform global di mana Muslim dapat merepresentasikan nilai-nilai perdamaian, solidaritas, dan kedisiplinan kolektif.


Realitas: Umat 2 Miliar, Kuota Jutaan

Namun, tantangan tidak ringan. Saat ini, populasi Muslim dunia telah melebihi dua miliar jiwa, sementara kuota haji yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi hanya berkisar 2–3 juta jamaah setiap tahun. Itu artinya, hanya sekitar 0,1% umat Islam yang berkesempatan menunaikan haji setiap tahunnya.

Kebijakan Arab Saudi cukup tegas dan sistematis. Setiap negara diberikan kuota sesuai proporsi penduduk Muslimnya, dan selebihnya bergantung pada kesiapan logistik, keamanan, serta kesehatan jamaah. Pemerintah Indonesia sendiri, dengan lebih dari 230 ribu kuota tiap tahunnya, masih menghadapi daftar tunggu haji hingga 30 tahun di beberapa daerah.

Apakah ini tantangan? Ya. Tapi apakah ini juga peluang refleksi? Tentu saja.

📚 Artikel Terkait

Untaian Puisi Dinda Anjelly

Sebuah Refleksi Potret Retak Pendidikan Indonesia

Rahasia Di Balik Pulau Terpencil

Mengenal OSO, Crazy Rich Kalimantan Barat


Pendidikan Spiritual di Tengah Antrean Panjang

Dalam situasi antrean panjang ini, umat Islam sesungguhnya diajak Allah untuk membentuk kesabaran kolektif dan memperkuat pendidikan spiritual. Menanti bukanlah bentuk penundaan, melainkan proses pemurnian niat, perencanaan keuangan syariah yang matang, hingga membentuk etika publik sebagai calon tamu Allah.

Lembaga pendidikan Islam, pesantren, sekolah, dan lembaga manasik seyogianya tidak hanya mengajarkan tata cara teknis haji, tapi juga filosofi ukhuwah Islamiyah, toleransi dalam keberagaman jamaah, dan kepemimpinan ruhani. Inilah narasi edukatif yang bisa memperkuat citra Islam global di mata dunia.


Narasi Alamia: Haji sebagai Simbol Keindahan Islam

Haji menjadi panggung “narasi alamiah” (narrassi almia), yaitu narasi yang tidak dibuat-buat tetapi muncul dari realitas spiritual dan sosial itu sendiri. Seperti ketika Muslim kulit hitam dan kulit putih berdiri sejajar di Arafah, ketika orang kaya dan miskin sama-sama tidur di Mina, atau saat ulama dan buruh berbagi roti dan air zamzam di Muzdalifah.

Inilah narasi indah yang tak bisa dibantah oleh statistik, opini publik, atau framing media. Haji, dalam dirinya sendiri, telah menjadi meta-narasi Islam yang mampu memperlihatkan bahwa Islam bukan agama radikal atau eksklusif, melainkan rahmat yang penuh harmoni dan kesetaraan.


Persatuan Umat: Momentum yang Terabaikan

Sayangnya, potensi haji sebagai momen persatuan global umat Islam masih belum dimaksimalkan. Jarang sekali terjadi forum resmi antar negara Muslim yang memanfaatkan momentum haji untuk membahas isu-isu kolektif, seperti pendidikan Islam internasional, pengentasan kemiskinan dunia Islam, atau pelestarian nilai-nilai Islam di era digital.

Sementara itu, umat Islam kerap terjebak pada euforia pribadi berhaji, tetapi gagal membawa pulang pesan-pesan kemanusiaan dan solidaritas global yang diperoleh dari Tanah Suci. Maka di sinilah tantangannya: bagaimana menjadikan alumni haji sebagai agen perubahan sosial, bukan hanya gelar “H.” yang prestisius secara sosial.


Islam dan Narasi Global Positif

Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kekuatan militer atau ekonomi, tetapi lebih daripada itu: narasi moral yang menyatukan. Haji adalah sumber daya naratif terbesar umat Islam. Melalui haji, dunia melihat Islam yang disiplin, penuh kasih, sabar, toleran, dan tertib.

Haji dapat menjadi “halaman depan” Islam di mata dunia, yang menunjukkan bahwa umat Islam mampu hidup berdampingan, saling membantu, dan menaati hukum internasional. Maka penting bagi kita, sebagai umat Islam, tidak hanya memperjuangkan keberangkatan fisik ke Tanah Suci, tetapi juga berhaji dalam niat, dalam perilaku, dan dalam cara kita menampilkan Islam di hadapan publik global.


Penutup: Kembali ke Titik Nol

Ketika seorang Muslim melaksanakan haji, ia kembali seperti bayi yang suci—tanpa dosa, tanpa beban dunia. Maka secara simbolik, Ka’bah adalah titik nol bukan hanya secara geografis, tetapi juga spiritual dan peradaban. Dari titik nol itu, kita semua seharusnya kembali ke dunia membawa cahaya Islam yang mencerahkan, bukan membelenggu.

Sudah waktunya umat Islam menulis narasi baru, narasi terbaik, melalui ibadah tertinggi: Haji.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

JEJAK JUANG BELA NAGARI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00