Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
Setiap tahun, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia memenuhi panggilan Ilahi menuju Tanah Suci. Mereka menyatu dalam pakaian putih tanpa jahitan, tanpa gelar, tanpa sekat identitas etnis, ras, atau kebangsaan. Semua bergerak ke satu titik, yaitu Ka’bah, pusat gravitasi spiritual umat Islam yang sekaligus menjadi simbol paling nyata dari persatuan Islam global.
Di tengah dunia yang terpolarisasi oleh politik, kapitalisme, dan konflik identitas, haji memberikan narasi alternatif: narasi tentang penyatuan, kesetaraan, dan ketundukan kepada Tuhan yang sama. Ini bukan sekadar ritual ibadah, tapi juga simbol besar bagi peluang umat Islam untuk menampilkan “good page”—halaman terbaik dari ajaran Islam—di panggung dunia.
Haji dan Identitas Global Islam
Bagi umat Islam, Ka’bah bukan hanya arah kiblat saat shalat, melainkan juga “titik nol” spiritual. Setiap langkah menuju Ka’bah adalah langkah menuju pemurnian diri, menuju kesadaran akan kesatuan umat yang melewati sekat geografi, mazhab, bahkan sejarah politik yang memecah-belah. Itulah sebabnya haji tidak hanya memiliki dimensi religi, tapi juga dimensi sosiologis, edukatif, bahkan simbolis terhadap tatanan global.
Amanda Lambert Lewis, dalam studinya mengenai performativitas ritual lintas budaya, menyatakan bahwa ritual keagamaan yang bersifat transnasional seperti haji mampu merekonstruksi makna identitas kolektif. Dalam konteks Islam, haji dapat dikaji sebagai platform global di mana Muslim dapat merepresentasikan nilai-nilai perdamaian, solidaritas, dan kedisiplinan kolektif.
Realitas: Umat 2 Miliar, Kuota Jutaan
Namun, tantangan tidak ringan. Saat ini, populasi Muslim dunia telah melebihi dua miliar jiwa, sementara kuota haji yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi hanya berkisar 2–3 juta jamaah setiap tahun. Itu artinya, hanya sekitar 0,1% umat Islam yang berkesempatan menunaikan haji setiap tahunnya.
Kebijakan Arab Saudi cukup tegas dan sistematis. Setiap negara diberikan kuota sesuai proporsi penduduk Muslimnya, dan selebihnya bergantung pada kesiapan logistik, keamanan, serta kesehatan jamaah. Pemerintah Indonesia sendiri, dengan lebih dari 230 ribu kuota tiap tahunnya, masih menghadapi daftar tunggu haji hingga 30 tahun di beberapa daerah.
Apakah ini tantangan? Ya. Tapi apakah ini juga peluang refleksi? Tentu saja.
📚 Artikel Terkait
Pendidikan Spiritual di Tengah Antrean Panjang
Dalam situasi antrean panjang ini, umat Islam sesungguhnya diajak Allah untuk membentuk kesabaran kolektif dan memperkuat pendidikan spiritual. Menanti bukanlah bentuk penundaan, melainkan proses pemurnian niat, perencanaan keuangan syariah yang matang, hingga membentuk etika publik sebagai calon tamu Allah.
Lembaga pendidikan Islam, pesantren, sekolah, dan lembaga manasik seyogianya tidak hanya mengajarkan tata cara teknis haji, tapi juga filosofi ukhuwah Islamiyah, toleransi dalam keberagaman jamaah, dan kepemimpinan ruhani. Inilah narasi edukatif yang bisa memperkuat citra Islam global di mata dunia.
Narasi Alamia: Haji sebagai Simbol Keindahan Islam
Haji menjadi panggung “narasi alamiah” (narrassi almia), yaitu narasi yang tidak dibuat-buat tetapi muncul dari realitas spiritual dan sosial itu sendiri. Seperti ketika Muslim kulit hitam dan kulit putih berdiri sejajar di Arafah, ketika orang kaya dan miskin sama-sama tidur di Mina, atau saat ulama dan buruh berbagi roti dan air zamzam di Muzdalifah.
Inilah narasi indah yang tak bisa dibantah oleh statistik, opini publik, atau framing media. Haji, dalam dirinya sendiri, telah menjadi meta-narasi Islam yang mampu memperlihatkan bahwa Islam bukan agama radikal atau eksklusif, melainkan rahmat yang penuh harmoni dan kesetaraan.
Persatuan Umat: Momentum yang Terabaikan
Sayangnya, potensi haji sebagai momen persatuan global umat Islam masih belum dimaksimalkan. Jarang sekali terjadi forum resmi antar negara Muslim yang memanfaatkan momentum haji untuk membahas isu-isu kolektif, seperti pendidikan Islam internasional, pengentasan kemiskinan dunia Islam, atau pelestarian nilai-nilai Islam di era digital.
Sementara itu, umat Islam kerap terjebak pada euforia pribadi berhaji, tetapi gagal membawa pulang pesan-pesan kemanusiaan dan solidaritas global yang diperoleh dari Tanah Suci. Maka di sinilah tantangannya: bagaimana menjadikan alumni haji sebagai agen perubahan sosial, bukan hanya gelar “H.” yang prestisius secara sosial.
Islam dan Narasi Global Positif
Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kekuatan militer atau ekonomi, tetapi lebih daripada itu: narasi moral yang menyatukan. Haji adalah sumber daya naratif terbesar umat Islam. Melalui haji, dunia melihat Islam yang disiplin, penuh kasih, sabar, toleran, dan tertib.
Haji dapat menjadi “halaman depan” Islam di mata dunia, yang menunjukkan bahwa umat Islam mampu hidup berdampingan, saling membantu, dan menaati hukum internasional. Maka penting bagi kita, sebagai umat Islam, tidak hanya memperjuangkan keberangkatan fisik ke Tanah Suci, tetapi juga berhaji dalam niat, dalam perilaku, dan dalam cara kita menampilkan Islam di hadapan publik global.
Penutup: Kembali ke Titik Nol
Ketika seorang Muslim melaksanakan haji, ia kembali seperti bayi yang suci—tanpa dosa, tanpa beban dunia. Maka secara simbolik, Ka’bah adalah titik nol bukan hanya secara geografis, tetapi juga spiritual dan peradaban. Dari titik nol itu, kita semua seharusnya kembali ke dunia membawa cahaya Islam yang mencerahkan, bukan membelenggu.
Sudah waktunya umat Islam menulis narasi baru, narasi terbaik, melalui ibadah tertinggi: Haji.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





