POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Merekam Sejarah dan Makna Melalui Lukisan

RedaksiOleh Redaksi
May 26, 2025
Merekam Sejarah dan Makna Melalui Lukisan
🔊

Dengarkan Artikel

Review Buku Imagination on the Shoulders of Giants: 300 Selected Paintings With AI Assistance (2025)

Oleh Denny JA

Tahun 2019, dunia tercengang saat nyala api melahap hutan Amazon—paru-paru planet ini—selama berbulan-bulan.

Di Brasil saja, lebih dari 906.000 hektar hutan habis terbakar, dengan lebih dari 74.000 titik kebakaran, meningkat hampir 84% dari tahun sebelumnya.

Diperkirakan, ratusan juta pohon musnah, dan jutaan makhluk hidup kehilangan rumah, air, dan udara. Asapnya menyeberangi benua, hingga langit São Paulo menghitam di siang hari. Tapi yang lebih pekat dari asap adalah diam kita.

Amazon bukan sekadar hutan. Ia adalah penyeimbang iklim global. Ia menyerap karbon, mengatur curah hujan, dan menyimpan kehidupan purba yang belum sempat kita kenal.

Kebakaran ini bukan bencana alam—ia adalah tragedi buatan manusia. Diawali oleh pembukaan lahan ilegal, ekspansi peternakan besar, dan dorongan ekonomi jangka pendek.

Nyala api raksasa itu adalah cermin kerakusan yang juga raksasa skalanya.

Saya rekam peristiwa ini dalam lukisan, dengan bantuan asisten AI. Saya hadirkan sepasang hewan jaguar yang kehilangan anaknya.

Juga ada di lukisan, burung-burung yang terbang tanpa arah. Dan seorang perempuan adat yang berdiri tak berdaya menyaksikan hutan leluhurnya musnah.

Jika Amazon mati, kita semua sesak napas.
Jika kita terus diam, bumi perlahan kehilangan detak jantungnya.

-000-

Lukisan tentang Amazon ini salah satu dari 300 karya terpilih dalam buku Imagination on the Shoulders of Giants. Ia merupakan hasil kurasi dari 600 lukisan yang saya ciptakan bersama AI antara 2022–2025.

Buku ini terbagi dalam 32 bab, masing-masing menyorot sisi penting dari sejarah dan batin manusia: dari teknologi, perang, cinta, spiritualitas, hingga krisis ekologis.

Namun Bab 16—“The Ruin of the Living Earth”—adalah elegi yang paling menyayat. Selain tragedi Amazon, bab ini memuat sepuluh lukisan kerusakan lingkungan terbesar dalam sejarah modern.

Mereka bukan hanya bencana. Mereka adalah cermin batin kita yang diam, dan dunia yang luka.

Sepuluh lukisan ini adalah nisan visual dari tragedi yang pernah dan sedang berlangsung:

•   Chernobyl, 1986: ledakan reaktor nuklir menewaskan ribuan jiwa, dan menyebar radiasi ke jutaan tubuh yang tak berdosa.

•   Minamata, Jepang, 1956: ribuan lumpuh dan tewas karena limbah merkuri—lautan berubah jadi racun.

•   Amazon, Brasil, 2019: ratusan juta pohon terbakar, jutaan spesies binasa—paru-paru bumi terbakar oleh api keserakahan.

•   Laut Aral, Asia Tengah, 1980-an: lebih dari 90% volumenya menghilang, nelayan kehilangan lautnya.

•   Deepwater Horizon, 2010: 4,9 juta barel minyak tumpah, menghancurkan laut Meksiko.

•   Exxon Valdez, Alaska, 1989: 250.000 burung laut, paus, dan beruang tak sempat menyelamatkan diri.

•   Lapindo, Indonesia, 2006: 60.000 orang kehilangan rumah, 12 desa tenggelam oleh lumpur panas.

•   Great Smog of London, 1952: sekitar 12.000 jiwa meninggal karena kabut asap batubara.

•   Lubang Ozon, abad ke-20: peningkatan kanker kulit, rusaknya ekosistem Arktik hingga Antartika.

•   Fukushima, Jepang, 2011: gempa dan tsunami membunuh 18.500 orang dan memicu krisis nuklir global.

Lukisan-lukisan ini mengajak kita menatap luka bumi dengan mata terbuka dan hati bergetar.
Ini bukan sekadar masa lalu. Ini peringatan. Sebelum semuanya terlambat.

📚 Artikel Terkait

Panggung Anak, Tumbuh Kembang, dan Tanggung Jawab Pendidikan

Pendidikan Aceh Sudah On The Track?

Menatap Hutan Aceh Kini

Puisi-Puisi Oka Swastika Mahendra

-000-

Saya tidak ingin lukisan-lukisan ini hanya tinggal di buku. Mereka kini hadir di delapan hotel di Jakarta dan Jawa Barat.

Sebanyak 600 lukisan, hasil kolaborasi saya dengan AI, dipajang di lobi, koridor, dan kamar. Ia menjadikan hotel sebagai galeri yang hidup.

Mengapa hotel?

Karena hotel adalah tempat jeda. Di sanalah orang asing dan lokal bertemu, tubuh lelah beristirahat, dan pikiran perlahan membuka ruang renung.

Ketika lukisan hadir di antara tidur dan sarapan, check-in dan check-out, ia menyelinap ke dalam kesadaran. Bukan sebagai tontonan, tetapi lukisan itu menjadi teguran halus yang mendalam.

Hotel, dalam konsep saya, bukan lagi sekadar tempat menginap.
Ia adalah kanvas kesadaran kolektif.
Ia bukan museum yang kaku, melainkan ruang yang cair.

Di hotel yang juga menjadi galeri, seni, waktu, dan manusia bersilangan dalam keheningan sehari-hari.

-000-

Kolaborasi dengan AI dalam proses kreatif ini bukan sekadar eksperimen teknis. Setiap lukisan lahir dari dialog intens antara intuisi manusia dan kecerdasan mesin.

Ini akan terjadi di depan. Kemungkinannya hanya masalah waktu saja. Misalnya, dalam lukisan “Asap São Paulo”, algoritma Generative Adversarial Network (GAN) menganalisis 12.000 foto satelit kebakaran Amazon.

Ia lalu mengidentifikasi pola asap yang tak terlihat mata telanjang, seperti aliran karbon yang membentuk wajah manusia menangis.

Ini pun akan terjadi. AI juga “belajar” dari 3.000 karya seni lingkungan klasik untuk merumuskan komposisi yang menyatukan keindahan dan kepedihan.

Hasilnya bukan replika, melainkan bahasa visual baru: data menjadi metafora, piksel berubah menjadi tangisan. Inilah kekuatan kolaborasi manusia-AI.

Kita tak lagi hanya merekam sejarah, tetapi juga mengungkap dimensi tak kasatmata. Jejak kerakusan yang terpendam dalam setiap kepulan asap, atau detak jantung spesies yang menghilang dalam kebisuan statistik dapa divisualkan.

Saya percaya: melukis dengan AI bukan hanya tentang estetika. Ia juga alat kesaksian.

Ia menyambungkan batin manusia dengan algoritma cerdas. Dan dari perpaduan itu lahirlah sesuatu yang lebih besar dari keduanya: kesadaran baru.

Buku ini, dan setiap lukisan di dalamnya, adalah doa visual untuk banyak peristiwa di zaman yang berubah cepat.

Datangnya AI yang bisa menjadi asisten berkarya, bukan akhir dari seni.
Ia adalah awal dari sejarah yang direkam oleh mesin, dibentuk oleh rasa, dan ditujukan untuk jiwa.

Karena satu gambar bisa menggugah lebih dalam dari seribu pidato.
Dan jika seni bisa menyelamatkan satu hati, maka ia juga bisa menyelamatkan bumi.

Seluruh 300 lukisan terpilih dalam buku ini dapat dinikmati secara lengkap, dalam bahasa Inggris, melalui tautan berikut:

https://drive.google.com/file/d/1N-QczIJJsXiG0lClSp1gyQS3tzsZ9qXd/view?usp=drivesdk

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/1DyJn9FanD/?mibextid=wwXIfr

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Aaron Bushnell and Elias Rodriguez: The Death of Western Morality

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00