POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Mengejar Scopus, Melupakan Sufisme: Krisis Spiritualitas di Kalangan Cendekiawan Muslim

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 24, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Di ruang-ruang kuliah yang dingin oleh pendingin buatan, di antara dinding perpustakaan yang bisu dan mata laptop yang tak pernah tidur, para pemikir muslim modern menyusun kalimat demi kalimat—abstrak, metodologi, hasil, diskusi. Mereka kejar reputasi, indeksasi, akreditasi, dan apresiasi. Namun di sudut paling sunyi dalam dirinya, ada suara yang perlahan merintih: “Mengapa aku tidak lagi merasa damai meski telah menulis berjilid-jilid kebenaran?”

Zaman ini adalah zaman di mana sufisme dikebiri oleh sistem. Sebuah sistem yang mengukur kualitas intelektual dengan jumlah kutipan, bukan kedalaman makna. Sebuah ekosistem yang memuliakan skor SINTA tapi melupakan zikr, fikir, dan tadabbur. Ilmu menjelma jadi angka, bukan lagi lentera jiwa. Kita telah mengganti tasbih dengan turnitin, muraqabah dengan Google Scholar, dan ikhlaq dengan impact factor.

Kita sedang kehilangan keseimbangan itu.

Padahal, sejarah Islam bukan lahir dari laboratorium yang steril dari ruh. Ia tumbuh di taman sunyi para pemikir yang juga sufi—Ibnu Sina yang merenung di tengah malam, Al-Ghazali yang menulis “Ihya” setelah krisis eksistensialnya, bahkan Muhammad Iqbal yang mendamba kebangkitan Timur lewat pemurnian rohani. Mereka menulis tidak untuk ranking dunia, tapi karena mereka tahu bahwa kebenaran, bila disampaikan dengan jiwa yang bersih, akan menemukan jalannya sendiri.

Namun hari ini?
Kita hidup di dunia yang mencintai kecepatan, tapi kehilangan arah. Produktivitas intelektual dijadikan slogan dalam peradaban akademik yang keropos di dalam. Negara menggiring dosen dan peneliti untuk menghasilkan ratusan artikel, tetapi lupa bahwa satu zikir yang tulus bisa menenangkan dunia. Kita dibayar untuk berpikir, tapi tidak diajar untuk merasa. Kita diajari metodologi, tapi lupa adab. Kita dipaksa menulis, tapi tidak sempat membaca batin sendiri.

📚 Artikel Terkait

Janganlah Wariskan Negeri Ini Rusak Parah Kepada Anak Cucu 

Dari Istana ke Sel: Ironi Kekuasaan dan Pelajaran dari Sarkozy

KDM, Sosok Pemimpin yang Didamba?

Kartini dan Cahaya dari Al-Qur’an

Spiritualitas itu bukan pelengkap, tapi pondasi.

Krisis ketenangan di kalangan cendekiawan muslim bukan sekadar masalah mental health. Ia adalah krisis epistemologi. Kita terjebak dalam positivisme sempit dan membuang epistemologi fitrah. Kita berpikir secara linear, padahal hakikat pengetahuan adalah spiral: dari Allah, oleh Allah, dan kembali kepada Allah. Tidak semua kebenaran dapat ditimbang dengan regresi. Tidak semua makna dapat diuji dengan uji-F. Ada yang hanya bisa dikecap lewat diam, tunduk, dan tawadhu.

Tradisi sufistik dalam dunia ilmu bukan nostalgia. Ia adalah pelampung bagi jiwa yang tenggelam.

Tentu, kita tidak anti publikasi. Kita tidak menolak modernitas. Tetapi kita menolak kesombongan ilmu yang kehilangan kemanusiaan. Kita menolak sistem yang menjadikan pengetahuan sebagai mesin industri. Kita menginginkan ruang bagi para pemikir muslim untuk bernapas dalam keheningan yang penuh makna, bukan hanya dalam kecepatan yang mematikan.

Sebab jika ilmu tak lagi menghadirkan kedamaian, untuk apa kita mengejarnya?

Mari kita renungkan kembali: Di tengah gemuruh kemajuan, apakah kita masih mengenali suara Tuhan di balik ayat-ayat akademik kita?

Jika tidak, mungkin sudah waktunya kita kembali.
Kembali ke sunyi. Kembali ke dzikir. Kembali ke diri.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Fenomena Politik Simbolik:Pergeseran Politik Ke Arah Panggung Performatif Dan Post-Truth

Fenomena Politik Simbolik:Pergeseran Politik Ke Arah Panggung Performatif Dan Post-Truth

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00