POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Tidak Masuk Surga Sebelum Melewati Kematian

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
May 21, 2025
Tidak Masuk Surga Sebelum Melewati Kematian
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Di malam yang terlalu sunyi untuk disebut malam, di sudut kamar yang pernah jadi saksi tawa dan bisik-bisik lembut, Najwa Shihab menangis. Bukan tangis biasa. Tangis itu mengoyak diam. Menelanjangi kesabaran. Menghempaskan seluruh teori tentang ketegaran yang selama ini ia pelajari sejak menjadi jurnalis, sejak belajar menyulam logika di Fakultas Hukum, sejak menjadi anak seorang ulama besar yang berkali-kali mengajarkan bahwa hidup ini hanyalah titipan. Tapi malam ini, tidak ada titipan. Yang ada hanyalah kehilangan. Lengkap, utuh, dan membusuk di pelukan waktu.

Ibrahim sudah pergi. Suaminya. Cinta pertamanya. Teman diskusinya. Penjaga pikirannya. Pria yang ia nikahi di usia 20, ketika ia belum selesai menyusun cita-cita tapi sudah mantap memilih siapa yang ingin ia ajak menua. Ia tidak akan kembali. Tidak akan ada lagi pesan pendek yang muncul di layar ponsel, tidak akan ada suara yang memanggil “Naj” dengan nada jenaka, tidak akan ada tangan yang menyentuh pundaknya saat pikirannya terlalu lelah.

Kematian memang datang, seperti yang selalu dikatakan Abi, Quraish Shihab, bahwa ia adalah pintu menuju keabadian. Tapi tidak pernah dijelaskan betapa pintu itu terkadang seperti lubang jurang. Yang tidak hanya menelan yang pergi, tapi juga meremukkan yang tinggal. Tidak ada yang mempersiapkan Najwa untuk ini. Bahkan setelah berpuluh kali bicara tentang kematian di layar kaca, setelah berpuluh kali mendengar sang ayah berkata, “Kita tidak akan masuk surga sebelum melewati kematian,” semua itu kini terdengar seperti kalimat yang terlalu mudah diucapkan, terlalu sulit untuk dirasakan.

Najwa duduk diam di ujung ranjang, matanya bengkak, napasnya pendek, dan pikirannya melayang ke hari-hari sederhana, saat Ibrahim membenarkan jilbabnya dengan tangan kikuk, saat mereka berdebat tentang buku hukum sambil tertawa, saat mereka menyuapi Izzat kecil sambil bernyanyi lagu-lagu lawas. Semua itu kini menjadi puing. Puing itu menancap tajam di hatinya.

📚 Artikel Terkait

Fenomena Politik TikTok dan Perubahan Demokrasi Digital

Mustaqim dan Sekolah Pemimpinnya

Pendidikan Agama dan Paradoks Korupsi di Negeri Religius

PENANGANAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DI ACEH BELUM OPTIMAL

Di Rumah Sakit PON, tempat Ibrahim mengembuskan napas terakhir karena stroke, waktu seolah terhenti. Mesin detak jantung berhenti berbunyi, dan dunia pun membisu. Bahkan malaikat maut, mungkin, menunduk hormat pada cinta yang diputusnya hari itu. Jakarta terasa sepi. Langit menggantung kelabu, seolah ikut berduka. Bahkan udara pun menolak masuk ke paru-paru Najwa, seperti tak ingin menyakiti perempuan yang kehilangan separuh jiwanya.

Nisan di Jeruk Purut akan didirikan. Tanah akan menelan tubuh yang selama ini menjadi pelabuhan bagi lelah dan rindu. Tapi bagaimana mungkin cinta dikubur begitu saja? Bagaimana mungkin kenangan dibungkam dengan sekop dan bunga? Bagaimana mungkin, setelah hampir 25 tahun membangun hidup bersama, semua harus berakhir dalam satu liang dan sebaris doa?

Najwa tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa malam ini ia sendiri. Bahwa meski Abi berkata, “Kematian itu nikmat,” rasa kehilangan tetap membakar dada seperti api kecil yang pelan-pelan menyala. Ia menangis. Lagi. Lebih dalam. Lebih dalam dari liang kubur. Karena di dalam dirinya, seseorang baru saja dimakamkan. Mbak Nana tahu, tidak akan ada yang sama lagi. Tidak esok. Tidak lusa. Tidak selamanya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Understanding the Relevance of Philosophy for the Modern Muslim

Understanding the Relevance of Philosophy for the Modern Muslim

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00