• Latest
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu

Mei 19, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu

Dayan Abdurrahmanby Dayan Abdurrahman
Mei 19, 2025
Reading Time: 3 mins read
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Dayan Abdurrahman

Pemerhati Pendidikan dan Isu-Isu Kuliner

Hari Minggu di Banda Aceh bukan sekadar waktu melepas lelah, melainkan momen mengendapkan pikiran, merenungi makna, dan menikmati aroma kopi yang lebih jujur dari politik nasional. Saya, Dayan Abdurrahman, warga biasa dari Kajhu, kawasan yang saban hari dilintasi oleh mobil-mobil bersih dan mulus di jalan tol baru. Tapi lucunya, meski tol itu membelah sawah kami, saya belum sekalipun pernah melewatinya. Saya lebih suka jalur kampung—yang banyak senyuman, ayam berkeliaran, dan becak yang bunyinya khas.

Tinggal tak jauh dari Darussalam—daerah pelajar, penuh dengan semangat dan kadang juga debat kusir mahasiswa—membuat saya sering duduk di warung kopi sambil menyaksikan kehidupan berlarian. Tak jauh dari situ, laut menatap saya dengan diam. Laut yang dulu menggulung dan merenggut, kini kembali tenang. Tapi setiap kali saya duduk di pinggirannya, tsunami itu kembali hadir, bukan sebagai teror, tapi pengingat bahwa hidup bisa berubah dalam satu tarikan ombak.


Pagi ini saya menyempatkan waktu ke Ulee Lheue. Bukan untuk selfie, bukan juga demi konten TikTok, melainkan untuk membiarkan pikiran saya berlayar. Duduk di bawah pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi, saya melihat dua anak muda sedang membaca buku tentang perubahan iklim. Hati saya senang. Ternyata tidak semua generasi Z terjebak dalam dunia virtual.

Sebelum pulang, saya singgah di warung makan di pinggir jalan. Disambut aroma kuah beulangong ikan paya yang menggoda iman. Ada juga ayam penyet dengan sambal hijau yang rasanya bisa membuat seseorang jatuh cinta, lalu sadar bahwa dia hanya bisa mencintai dalam diam. Begitu kuat cita rasa, sampai lidah kita ingin berunding.

Sebagai penggemar kuliner, saya percaya bahwa makanan bukan sekadar untuk kenyang. Ia adalah jendela kebudayaan. Makanan membawa memori, menyatukan manusia, dan kadang—menyembuhkan luka. Di Banda Aceh, makanan selalu hadir dalam ritual sosial, dari peusijuek sampai kenduri. Mungkin karena itulah, orang Aceh lebih gampang akrab saat makan.


Tapi bukan hanya makan yang penting. Kita juga perlu mencerna realitas. Sebuah riset kecil yang saya buat pada awal tahun menunjukkan bahwa hanya 37% pemuda Banda Aceh yang aktif dalam komunitas sosial, padahal potensi mereka sangat tinggi. Persentase perempuan dan laki-laki pun kini sudah mulai seimbang dalam dunia pendidikan, tetapi partisipasi publik masih cenderung didominasi laki-laki. Ini pekerjaan rumah kita bersama. Karena pendidikan bukan hanya soal nilai ujian, tapi kemampuan hadir dalam masyarakat.

Saya sering bilang ke anak saya, “Kalau kamu ingin dikenal dunia, kenali dulu lorong rumahmu.” Jadi pemimpin itu bukan soal pidato bahasa Inggris di forum internasional. Itu bagus, tapi lebih penting adalah bisa bantu angkat galah warga sebelah, atau menyapa nenek-nenek yang jual pucuk ubi. Dunia akan percaya pada orang yang dipercaya oleh kampungnya.


Ada satu hal lagi yang ingin saya bagikan. Beberapa hari lalu, saya mendengar kabar seorang tokoh muda Aceh diundang ke forum pemuda ASEAN. Hebat, pikir saya. Tapi lebih hebat lagi kalau ia tetap menyapa gurunya di kampung, menyempatkan diri pulang ke meunasah dan tidak canggung makan dengan tangan di atas daun pisang.

Saya kira, dunia butuh duta-duta yang bukan hanya fasih berbahasa, tapi juga berakar. Yang kalau bicara tentang perubahan iklim, dia tahu bagaimana nelayan di Lambaro harus memindah jadwal melaut karena arus berubah. Yang kalau bicara soal ekonomi digital, dia tetap sadar bahwa masih ada ibu-ibu di kampung yang jualan pakai catatan utang dari tahun kemarin.

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
img-0531_11zon

Mengingat Masa Lalu, Menentukan Arah Masa Depan

Maret 29, 2026

Dan akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan satu pepatah dari Almarhum Nek Amat, tetangga saya di Kaju:
“Hidup ini bukan lomba cepat-cepat, tapi lomba siapa yang paling banyak ditunggu kehadirannya.”

Jadi, untuk para sahabat sarjana, cendekiawan, dan pemikir yang sedang beristirahat hari ini, izinkan saya katakan: santailah sejenak. Nikmati ayam penyet dan segelas kopi sanger di bawah langit Banda Aceh. Karena dalam istirahat itu, kita seringkali menemukan jawaban yang tidak hadir saat kita sibuk berlari.

Selamat menikmati hari Minggu. Tetaplah cerdas, tapi jangan kehilangan rasa. Tetaplah kritis, tapi jangan lupa senyum. Karena dunia ini terlalu luas untuk kita tanggapi dengan dahi yang terus mengernyit.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini

Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com