POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Pendidikan Tak Butuh Manutan, Tapi Terobosan

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 17, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Abdurrahman – Peneliti Independen dari Aceh

Di tengah derasnya gelombang teknologi dan kecerdasan buatan, pendidikan Indonesia masih tersandera oleh satu virus laten: budaya manutan. Guru mengajar sesuai diktat kurikulum tanpa menginterogasi isinya, siswa belajar demi nilai bukan karena ingin tahu, dan birokrasi pendidikan pun lebih sibuk mengejar angka akreditasi daripada membangun ekosistem ilmu yang hidup dan bernyawa. Kita sedang berada di zaman penuh kemungkinan, tetapi masih memakai cara berpikir zaman kemarin.

Dalam konteks ini, peran guru sangat menentukan arah gerak bangsa. Namun, kita mesti jujur bertanya: apakah mayoritas guru kita hari ini adalah pencetak terobosan atau sekadar pengulang sistem? Apakah guru kita aktif meneliti dan bereksperimen, atau hanya menjadi perpanjangan tangan kebijakan tanpa nalar kritis?

Seharusnya, guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga peneliti. Guru peneliti adalah mereka yang berani berpikir mandiri, menggali permasalahan lokal di ruang kelasnya, mengolah data secara ilmiah, dan menawarkan solusi berbasis bukti. Mereka tidak takut bertanya, “mengapa metode ini gagal?” dan tidak malu untuk menjawab, “karena kita belum mencoba cara yang lebih bermakna.”

Sayangnya, budaya ini masih langka. Di banyak daerah, termasuk Aceh, saya sering menemukan guru-guru hebat yang semangatnya besar, namun terjebak dalam rutinitas administratif yang melelahkan. Beban laporan, pelatihan yang formalistik, dan sistem insentif yang tidak berpihak pada riset membuat guru kreatif kehilangan gairah. Bahkan, masih banyak yang menganggap penelitian sebagai tugas tambahan yang rumit dan tak perlu, bukan sebagai bagian dari panggilan intelektual.

Padahal, dalam perspektif Islam, riset adalah pangkal dari peradaban. Firman pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad bukan “taatlah” atau “hafalkanlah”, melainkan “Iqra”—bacalah. Membaca di sini bukan hanya soal teks, tetapi juga membaca fenomena, membaca masalah, membaca realitas dengan mata tajam dan hati yang terbuka. Para ulama besar dalam sejarah Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, hingga Al-Zarnuji, bukan hanya pengajar di madrasah, tetapi juga peneliti yang menulis, menggali, dan menyumbang gagasan bagi dunia.

📚 Artikel Terkait

Hidup dalam Sunyi, Belajar dalam Hening: Refleksi Seorang Pencinta Ilmu di Tengah Dunia yang Bising

PELATIHAN HIDROPONIK SEDERHANA DALAM UPAYA PEMANFAATAN LAHAN SEMPIT DI DUSUN TIMUR GAMPONG KOPELMA DARUSSALAM OLEH MAHASISWA PPG USK

Framing Politik Penetapan Separatis Teroris di Papua oleh Pemerintah Sejak 2021: Antara Konflik, Ideologi, dan Keamanan Nasional (1)

Pembangunan Aceh dan Filosofi Manajemen Roda

Aceh yang pernah dikenal sebagai Serambi Mekkah juga punya warisan besar dalam hal ini. Tengok sejarah Dayah di Aceh yang tak hanya mengajarkan agama, tapi juga membentuk intelektual yang tangguh. Namun warisan itu tidak boleh hanya dijadikan kebanggaan historis. Warisan harus dihidupkan, dan satu-satunya cara menghidupkannya adalah dengan menjadikan riset sebagai ruh pendidikan Aceh masa kini.

Kita tidak bisa berharap kemajuan datang dari budaya manutan. Pendidikan yang stagnan tidak akan mencetak generasi pemimpin. Untuk itu, kita butuh guru peneliti, bukan sekadar guru pengikut. Kita butuh guru yang punya daya cipta, bukan sekadar daya salin. Kita butuh mereka yang bisa menciptakan metode pembelajaran baru, mengevaluasi praktik kelas secara ilmiah, dan menulis laporan yang memberi arah baru, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administrasi.

Pendidikan adalah ladang perubahan sosial. Di tangan guru peneliti, kelas bukan lagi ruang beku yang hanya diisi hafalan, tetapi menjadi laboratorium perubahan. Di tangan mereka, anak-anak tidak hanya diajak menghafal rumus, tetapi diajak berpikir kritis, diajak bertanya dan mencari. Di tangan guru yang meneliti, kebijakan pendidikan tidak hanya disusun dari atas, tetapi diberi umpan balik dari lapangan yang nyata.

Namun untuk membentuk ekosistem guru peneliti, negara dan daerah harus memberi ruang dan penghargaan. Pertama, beri waktu luang bagi guru untuk meneliti, jangan hanya dibebani tugas administratif. Kedua, buat insentif dan publikasi yang merangsang guru untuk menulis dan berbagi hasil risetnya. Ketiga, dorong kolaborasi antara guru dan lembaga riset, universitas, bahkan pesantren.

Khusus untuk Aceh, sebagai daerah dengan identitas keislaman yang kuat dan sejarah intelektual yang panjang, ini adalah momen kebangkitan. Jangan biarkan simbol Serambi Mekkah menjadi slogan tanpa isi. Mari dorong para guru Aceh menjadi peneliti kelas dunia—bukan hanya pandai mengaji, tetapi juga tajam menganalisis. Bukan hanya taat pada sistem, tapi juga berani memperbaiki dan mencipta sistem baru.

Sebagai peneliti independen, saya telah melihat sendiri betapa potensi guru-guru Aceh luar biasa. Yang kurang bukan kemampuan, tapi ekosistem. Yang dibutuhkan bukan semangat baru, tapi penghargaan terhadap cara berpikir baru. Sudah saatnya kita menggeser paradigma dari manutan menjadi terobosan. Karena bangsa yang besar tidak dibangun dari kepatuhan membuta, tetapi dari keberanian bertanya dan kesungguhan meneliti.

Guru peneliti adalah kunci masa depan. Dalam Islam, ilmu itu bukan hanya alat, tapi jalan menuju kemuliaan. Dalam pendidikan, riset bukan hanya pilihan, tapi kebutuhan. Dan dalam konteks Aceh dan Indonesia hari ini, guru yang meneliti bukan hanya inspirasi, tetapi kebutuhan strategis untuk membangun peradaban baru.

Mari tinggalkan budaya manutan. Mari bangun pendidikan berbasis terobosan. Karena bangsa ini, dan peradaban Islam yang agung, lahir dari keberanian berpikir—bukan dari ketakutan mencoba hal baru.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Pahlawan Dalam Pena

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00