POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cahaya Kebaikan dari Sosok Dedi Mulyadi

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
May 17, 2025
Cahaya Kebaikan dari Sosok Dedi Mulyadi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah

Entah mengapa, setiap kali menyimak tayangan-tayangan Dedi Mulyadi, air mata ini mengalir pelan, seolah menemukan resonansi jiwa yang dalam. Bukan karena sedih, melainkan karena tersentuh oleh kepekaan dan ketulusan yang ia pancarkan.

Dedi Mulyadi bukan sekadar tokoh publik, ia adalah penggerak nilai-nilai kemanusiaan yang sering terlupakan. Dalam diam, ia menyalakan lentera harapan di sudut-sudut gelap kehidupan masyarakat kecil.

Setiap tayangannya bukan tontonan biasa, melainkan cermin empati yang tajam dan menyentuh. Ia hadir di antara mereka yang tak terdengar, memberi suara bagi mereka yang selama ini dibungkam oleh keadaan.

Tindakan-tindakannya edukatif, penuh solusi, dan kaya penghargaan terhadap martabat manusia. Ia memanusiakan manusia, dengan cara yang tak menggurui, melainkan menginspirasi.

Ketika banyak orang sibuk dengan pencitraan, Dedi justru larut dalam kenyataan. Ia turun ke jalan, ke pelosok desa, memeluk luka-luka rakyat dengan hangatnya perhatian.

Dalam setiap dialognya, tersirat kearifan lokal yang dipadu dengan pemahaman sosial yang kuat. Ia tidak hanya mendengar keluhan, tapi juga hadir dengan solusi konkret yang membumi.

Menariknya, ia tak membeda-bedakan agama, etnis, atau status. Siapapun yang tertimpa kesulitan, berhak atas uluran tangannya yang hangat dan bersahabat.

Anak-anak jalanan, lansia tanpa keluarga, pedagang kecil, dan orang-orang terpinggirkan, mendapat pelukan sosial yang nyata dari sosoknya. Kebaikan tak perlu menunggu birokrasi.

Keberpihakannya pada rakyat kecil tak sekadar retorika, tapi kerja nyata yang terekam tanpa skenario. Ia hadir seperti keluarga, bukan pejabat, dalam kehidupan mereka yang lemah.

📚 Artikel Terkait

IA-ITB Terbelah Dua Kubu, Tiba-tiba Ada Baliho Erick Thohir

Kuliah di Taman Alun Kapuas, Kampus Tanpa Dinding, Dosen Bernama Kehidupan

Megawati Layak Jadi Presiden

Sehat?

Tak heran, banyak yang meneteskan air mata saat menyaksikan tayangannya. Karena dari balik layar itu, ada kejujuran yang merobek sekat-sekat formalitas.

Ia memberi kita pelajaran penting: bahwa menjadi pejabat bukan hanya tentang jabatan, tapi tentang keberanian menjadi manusia di tengah deru kekuasaan.

Sikapnya yang sederhana, namun tegas, membentuk karakter kepemimpinan yang bersandar pada welas asih. Ia tidak mengeluh, tidak menyalahkan, ia bekerja dalam diam dan dampaknya terasa dalam.

Dedi mengajarkan bahwa edukasi terbaik adalah dengan keteladanan. Ia tidak banyak berkata, tapi setiap tindakannya menjadi narasi pendidikan yang menyentuh.

Dalam dunia yang penuh kepalsuan, ia menjadi pengingat bahwa ketulusan masih hidup. Ia menanam kebaikan di ladang yang sering dianggap tandus, dan hasilnya: panen rasa percaya.

Di tengah gelombang skeptisisme publik terhadap pemimpin, Dedi Mulyadi muncul sebagai oase keteladanan. Sosoknya menghidupkan kembali harapan pada kekuatan welas asih dalam kepemimpinan.

Tayangan-tayangannya bukan hanya konten, tapi medium transformasi sosial. Ia menembus ruang hati penonton dengan pesan bahwa kebaikan itu bisa menular, bila dimulai dari satu orang saja.

Apa yang ia lakukan sebenarnya adalah pendidikan karakter dalam bentuk paling sederhana. Menyapa, mendengar, membantu, dan merawat -semuanya adalah fondasi pendidikan moral bangsa.

Dedi Mulyadi menjadi bukti bahwa seseorang bisa menjadi pemimpin yang hadir, bukan hanya muncul saat kampanye. Ia konsisten berjalan bersama rakyat, dalam suka maupun duka.

Refleksi dari sosoknya membawa kita pada satu pemahaman: bahwa dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik, jika kita semua mau menjadi cahaya kecil di sekitar kita.

Kita tidak perlu menjadi pejabat untuk mengikuti jejaknya. Cukup menjadi manusia yang peduli dan mau membantu, itulah teladan terbesar yang bisa kita tiru dari dirinya.

Dalam sunyi, Dedi Mulyadi mengajarkan bahwa empati adalah bahasa universal. Ia membuktikan bahwa kebahagiaan orang lain bisa menjadi kebahagiaan kita juga.

Dan jika air mata ini menetes, itu bukan karena lemah, tapi karena hati ini masih bisa merasa. Masih ada harapan ketika masih ada orang seperti Dedi Mulyadi di negeri ini. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Merevitalisasi PDIA, Merawat Ingatan Membangun Ketangguhan

Merevitalisasi PDIA, Merawat Ingatan Membangun Ketangguhan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00