POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

RKPA Aceh 2026: Antara Janji Kosong dan Sandiwara Anggaran

RedaksiOleh Redaksi
May 16, 2025
RKPA Aceh 2026: Antara Janji Kosong dan Sandiwara Anggaran
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Riski Alfandi (Ketua Umum HMI Pertanian)

Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) Tahun 2026 seharusnya menjadi peta jalan pembangunan daerah yang menyentuh akar masalah sosial-ekonomi masyarakat Aceh. Namun, apa yang tersaji justru mengesankan bahwa dokumen tersebut lebih menyerupai kitab suci palsu anggaran — penuh janji, minim makna, dan jauh dari realitas.

Sebagai mahasiswa dan bagian dari generasi yang akan mewarisi masa depan Aceh, kami tidak bisa diam melihat kebijakan yang terus-menerus menjauh dari aspirasi rakyat. RKPA 2026, yang digadang sebagai dokumen strategis, nyatanya lebih menyerupai panggung sandiwara yang memperlihatkan betapa lemahnya kemauan politik untuk membenahi persoalan-persoalan mendasar seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan wilayah.

Kemiskinan: Wajah Lama yang Terus Bertahan


Data dari BPS Aceh per September 2024 menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Aceh mencapai 12,64%, jauh di atas rata-rata nasional. Ironisnya, tidak ada program prioritas dalam RKPA yang secara eksplisit menargetkan wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi. Kabupaten seperti Aceh Singkil, Pidie, Gayo Lues, dan Subulussalam — yang masih terjerat kemiskinan di atas 18% — tak tersentuh oleh pendekatan spasial yang seharusnya menjadi solusi.

Pemerintah Aceh memang memiliki anggaran belanja daerah mencapai Rp11,33 triliun dengan serapan hampir 97% pada 2024, namun apa hasilnya? Tak terlihat perubahan signifikan dalam kesejahteraan rakyat. Anggaran besar ternyata belum tentu berarti dampak besar.

Task Force Kosmetik dan Gagal Fokus


RKPA 2026 membentuk enam gugus tugas pembangunan. Namun alih-alih menjadi motor percepatan, gugus tugas ini lebih tampak seperti kosmetik birokrasi — tanpa indikator keberhasilan yang jelas, tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, dan tanpa arah spasial yang tepat. Ini adalah bentuk kemunduran dalam perencanaan pembangunan.

📚 Artikel Terkait

Teknologi Membawa Nikmat

Bukan Usaha Yang Perlu Besar

Sejarah Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Apa Kabar? November!

Sektor Pertanian yang Terpinggirkan


Padahal sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang hampir 30% dari PDRB Aceh. Namun sektor vital ini justru tidak mendapatkan perhatian serius. Petani masih kesulitan mengakses pasar, benih berkualitas, dan teknologi pertanian modern. Bukankah ini seharusnya menjadi fokus utama dalam strategi pengentasan kemiskinan?

Dana Otsus: Banyak Uang, Minim Manfaat


Selama ini, Dana Otonomi Khusus (Otsus) menjadi tulang punggung pembiayaan pembangunan Aceh. Namun sayang, dana ini belum benar-benar menjadi instrumen perubahan. Pengelolaannya tidak transparan dan lebih banyak dihabiskan untuk belanja rutin serta proyek-proyek seremonial, bukan untuk transformasi struktural. Lebih mengkhawatirkan lagi, Dana Otsus akan berakhir pada 2027, dan hingga kini belum ada strategi fiskal alternatif yang jelas.

Syariat Tanpa Keadilan Sosial


Sebagai daerah dengan keistimewaan penerapan Syariat Islam, Aceh semestinya menjadi pelopor keadilan sosial dan ekonomi. Tapi kenyataannya, syariat lebih sering digunakan sebagai simbol politik tanpa terjemahan nyata dalam kebijakan publik yang menyejahterakan. Pendidikan agama diperkuat, namun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masih rendah. Penegakan syariat tidak disertai kebijakan redistribusi ekonomi yang adil.

Saatnya Reformasi Total, Bukan Sekadar Retorika


Kami dari HMI Pertanian menuntut reformasi total dalam sistem perencanaan dan penganggaran pembangunan Aceh. Pemerintah harus berhenti mengejar pencapaian kuantitatif belaka dan mulai menanamkan strategi berbasis data, fokus wilayah, dan keberlanjutan. Anggaran harus diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi produktif, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kualitas hidup rakyat, terutama di wilayah-wilayah tertinggal.

Transparansi dan akuntabilitas mutlak diperlukan, terutama dalam pengelolaan Dana Otsus. Keterlibatan masyarakat sipil dalam pengawasan anggaran tidak boleh hanya menjadi jargon, tapi harus diwujudkan secara konkret.

Aceh tidak boleh terus menjadi panggung sandiwara anggaran — ia harus berubah menjadi laboratorium pembangunan yang progresif, adil, dan inklusif. Masa depan kami di Aceh bukan untuk dipertaruhkan oleh retorika kosong, tetapi untuk dibangun bersama melalui kebijakan yang berpihak dan berpijak pada realita rakyat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Penulis Besar Bernama Ahmad Tohari

Penulis Besar Bernama Ahmad Tohari

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00