Dengarkan Artikel
Assauti Wahid S. Hum., MA
Peneliti Sejarah, Arkeologi, Keramologi dan Wakil KetuaFASKI (Forum Alumni Sejarah Kebudayaan Islam UIN-Ar–Raniry
Apabila kita melihat secara historis, budaya, literatur dan peninggalan artefak-artefak sejarah. Aceh pernah memimpin jalur perdagangan rempah di masa lampau. Sebagaimana yang ditulis oleh Anthony Reid di dalam bukunya yang berjudul “Dari Ekspansi Hingga Krisis Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680 Masehi ”mencatat terjadinya ledakan pasar atau surplus perdagangan pada “abad ke enam belas yang terus-menerus,’’ yang tidak saja berpengaruh terhadap negara Eropa, Laut Tengah dan India di sebelah timur. Tetapi berpengaruh terhadap Cina dan Jepang di Barat Selat Malaka. Ini membuktikan bahwa jalur rempah dicatat sebagai pemicu dan serta penggerakrestorasi dalam ekonomi maritim internasional yang dimulai pada tahun 1450 M.
Restorasi ini mendorong peningkatan kesejahteraan lewat perdagangan yang sebelumnya tidak memiliki preseden sama sekali dan restorasi yang dilakukan melahirkan kosmopolitanisme kultural dan suatu kecenderungan menuju politik yang terkonsentrasi dipelabuhan-pelabuhan dagang di seluruh Asia Tenggara. Yang berlanjut sampai penurunan ekonomi dunia pada abad ke-17 M.
Dalam kurun waktu 1450-1680 M terjadi banyak permintaan dari negara Eropa, Lautan India, dan Cina terhadap produk Asia Tenggara berupa komoditi rempah seperti lada, pala, dan cengkeh. Asia Tenggara pada masa itu,memainkan peran yang sangat penting dalam perdagangan dunia. Sehingga melahirkan kapitalisme saudagar lada, cengkeh dan pala di pusat-pusat perdagangan rempah kawasan Asia Tenggara.
Maka, terbentuklah pusat-pusat perdagangan di kota-kota Asia seperti Ayutthaya, Pegu, Pnompenh, Hoi An (Faifo), Melaka, Patani, Brunei, Pasai Aceh, Banda Aceh, Banten, Jepara, Gresik dan Makassar. Dan di Aceh terbentuklah kota pemerintahan, pusat-pusat perdagangan dan pelabuhan-pelabuhan bongkar-muat barang.
Dengan surplus perdagangan dicapai dan berkembang sistem pemerintah yang lebih sistematis serta bermunculan pusat kajian Islam yang berpengaruh. Kemajuan demi kemajuan yang dicapai ini, terlihat dari artefak-artefak dan bukti sejarah yang menunjukkan Aceh telah mampu mencetak mata uang logam sendiri yang terbuat dari emas, perak dan Aceh dapat mengirimkan kapal-kapal ke pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan Asia Tenggara untuk memperkuat posisi perdagangannya.
Selain itu juga, Aceh sudah mengembangkan sistem kurikulum belajar tulis-menulis dengan menggunakan aksara Arab untuk kesultanan-sultanan Aceh dan kemudian pada abad ke-15 M. Aceh sudah menjadi wilayah yang menghasilkan sutra dan para petani banyak menanam lada untuk diekspor ke Cina. Hal ini semua diungkap oleh Ibnu Batutah seorang penulis dari Arab pada tahun 1323 masehi yang ditulis oleh Anthony Reid di bukunya dengan Judul “Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia”. Di halaman 5. Aceh (Pasai) memiliki peran yang penting dalam kancah perdagangan di Asia Tenggara.
📚 Artikel Terkait
Dan selanjutnya ketika orang-orang Portugis datang atau masuk ke wilayah pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra. Pelabuhan-pelabuhan tersebut telah dikuasai oleh penguasa Islam dan mulai mengkembangkan sayap bisnis dagang ke wilayah penting di Minangkabau. Tujuannya kekayaan dan kedudukan sosial pedagang Islam. Serta kebutuhan orang-orang terhadap barang dagang Islam semakin ramai disukai dan orang-orang Islam semakin aktif terlibat dalam perdagangan. Berdasarkan keyakinan itu, melahirkan sikap perdagangan Islam bisa dibawa kemana-mana saja tanpa harus malu untuk berdagang bagi umat manusia.
Pada periode 1540 -1630 masehi. Di buku Anthony Reid“Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia”, tertulis terjadi gempuran orang-orang Portugis atas perdagangan Islam. Kemudian orang Aceh melakukan serangan balik atau penyerangan balik kepada orang-orang Portugis.
Pada masa periode awal kedatangan orang-orang Portugis telah berhasil menguasai dan mengacau pengapalan lada di India oleh pedagang Islam ke wilayah Mesir dan ke wilayah Barat. Maka, Aceh berhasil memperluaskan secara besar-besaran kebun lada di wilayah Sumatra dengan cepat, sistematis dan menemukan langsung pengapalan ke pelabuhan-pelabuhan Islam di kawasan Laut Merah. Dengan menghindari wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Portugis di pantai barat India.
Dan tahun 1550-an Aceh memasok sekitar separuh dari kebutuhan Eropa akan lada melalui jalur ini. Karena pada saat itu, Turki sebagai penguasa Mesir, ini merupakan peluang emas bagi sultan Aceh untuk berhubungan atau berdiplomasi dengan para penjabat tinggi Ottoman. Pada periode tahun 1560-an lalu Sultan Ala’ad-din al-Kahar, mengirimkan sebuah hadiah berupa lada kepada Sulaiman Yang Agung untuk melawan para orang-orang kafir yang telah merebut Malaka dan mereka mengancam dan meneror para pedagang Islam,serta Jama’ah Haji Samudra Hindia.
Kondisi politik yang tidak stabil tersebut membuat Turki mengirimkan orang yang ahli dalam merakit senjata dan serta mengirimkan prajurit artileri untuk membantu perang Aceh melawan Portugis. Turki juga mengirimkan meriam untuk menjaga kediaman istana raja Aceh. Perebutan ekonomi pada tahun 1537 masehi hingga sampai dengan 1629 masehi yang dilakukan oleh orang Portugis terhadap perdagangan lada, mendorong terjadinya serangan dari armada laut Aceh. Pada tahun 1598-an oleh Belanda dan Inggris pada periode 1600-1602 masehi, Aceh dijadikan salah satu sasaran utama di Asia Tenggara karena hasil ladanya yang melimpah ruah dan kebencian mereka kepada orang Portugis.
Pada mulanya orang-orang dari Eropa utara ini disambut dengan baik masuk ke Aceh dan dipersilahkan menunggang gajah untuk sambutan resmi di Istana. Serta dihormati dengan memberikan hadiah berupa sarung dan keris (rencong). Namun bagi orang-orang Eropa, orang Aceh dianggap lawan berunding yang sulit. Pada periode 1607 hingga 1637 Aceh mengalami puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Periode ini ditandai dengan kemajuan di bidang perdagangan dan surplus ekonomi di Asia Tenggara. Pada masa tersebut Aceh juga merupakan salah satu dari kekuatan-kekuatan penting di Asia Tenggara. Dengan memiliki wilayah kekuasaan sangat luas dari Tiku, Pariaman (dekat dengan kota Padang sekarang) di Sumatra Barat, Asahan, di Sumatra Timur, Pahang, Johor dan Jedah di Semenanjung.
Ekspedisi-ekspedisi yang dilancarkan oleh armada Aceh di laut selalu berhasil. Sehingga ribuan tahanan dari ekspedisi tersebut dibawa ke Aceh untuk dijadikan awak kapal perang dan tukang bangunan yang bekerja di bawah koordinator raja.
Catatat sejarah sekilas ini, membuktikan Aceh pernah berjaya dengan rempah pada tempo dulu. Tapi, sekarang Aceh berjaya dengan apa….? dan ke depannya nanti berjaya dengan apa…?. sebuah teka-teki yang harus selesaikan oleh segenap rakyat Aceh.
.
.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






