Dengarkan Artikel
Oleh: Afridal Darmi
Segelas kopi hitam di mejaku, isinya tinggal setengah. Terduduk santai di meja Solong JePe, di riverwalk pinggir Krueng Aceh. Sepiring ketan srikaya diam tak tersentuh. Semangkuk kacang tanah sangrai tergeletak, ditemani kulit-kulit kacang yang sudah dilupakan oleh isinya. Sehelai daun pisang kulit pembungkus timphan terlipat rapi di meja, setelah isinya menyelinap ke dalam perutku seiring tegukan kopi Aceh yang pahit, nikmat. Matahari masih belia, hanya sepenggalah umurnya. Sinarnya yang cemerlang membuat air sungai berubah keemasan. Hening dan sunyi seiring elusan angin dari laut selat pulau Weh di hilir sana.
Sekelompok sampan nelayan tertambat di bawah jembatan. Beberapa nelayan masih sibuk membereskan jaring dan joran pancing. Dua anak dengan lihai berenang di sekeliling sampan. Tak takut sedikitpun dengan air sungai yang dalam, seumpama arus air adalah teman mereka sehari-hari, bercanda-canda dengan riang seakan di dunia ini tak ada kepahitan ataupun kesulitan hidup. Tak apa, biarlah mereka bergembira ria, toh adalah hak mereka untuk menikmati sejuknya air sungai di hari yang seindah ini.
Aku termenung memandangi air Krueng Aceh yang mengalir pelan, seakan gerak lamban seorang gendut yang bergerak malas di tengah hari yang terik. Air sungai itu tidak jernih, tak pula terlalu keruh. Lumpur yang terlarut dalam air dan kedalaman sungai di tempat ini sama sekali tidak memungkinkan untuk melihat sampai ke dasar sungai. Tapi siapa pula yang berharap akan menemukan air sungai yang jernih di tengah kota di negara seperti ini? Setidaknya tidak di bagian ini. Satu kuala lagi di kota ini yang merupakan kembaran sungai ini yaitu di Kuala Alue Naga masih lebih jernih. Demikian juga di beberapa kuala lain seumpama Kuala Krueng Neng dan Kuala Ulee Lheu.
Ini pun sudah dapat dipujikan. Di tempat lain atau di kota lain barangkali nasib sungai ini bisa saja lebih buruk. Aku pernah melihat sungai di tengah kota lain airnya berwarna hitam menggidikkan dan menyebabkan bulu kuduk berdiri. Air sungai di kota-kota itu juga berbau busuk menyesakkan dada karena limbah kota dan limbah industri yang dibuang tanpa dihiraukan.Sungai-sungai di Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung dan Yogya pekat karena limbah pabrik, sesak dengan sampah plastik, kental dan seakan mati tak mengalir. Kali Ciliwung di Jakarta, Sei Deli di Medan, Kali Code dan Gajah Wong di Yogya, Kalimas di Surabaya dan Cikapundung di Bandung.
Begitu juga di luar negeri: Sungai Klang di Kualalumpur, Malaysia juga sangat tercemar akibat limbah domestik, industri, dan sampah. Sungai Chao Phraya di Bangkok, Thailand sama saja. Meskipun memiliki nilai budaya dan ekonomi yang tinggi sebagai nadi transportasi dan ekonomi Bangkok, Chao Phraya tetap menghadapi masalah pencemaran dari limbah rumah tangga dan industri.
Begitu buruknya kondisi sungai-sungai itu sehingga ada sedikit kelegaan di hatiku, sungai kami belum lagi menjadi sungai yang mati seperti di kota-kota itu.
📚 Artikel Terkait
Tapi aku juga pernah melihat sungai di kota lain yang airnya jernih dan mengalir penuh seakan air di hulu. Jernih dan hijau kebiruan karena cukup dalam. Di pinggir sungai cahaya matahari tembus ke dasar dan kita masih bisa melihat batu-batu sungai besar dan kecil. Tapi sesaat kemudian ingatan itu membuat aku kecewa karena sungai itu di negeri lain. Kubayangkan satu per satu semuanya sungai-sungai milik bangsa lain itu. Sungai Rhône (Le Rhône) di ujung Danau Lac Leman di Jenewa. Kanal-kanal tersier dan sekunder di Amsterdam. Brisbane River di tengah kota Brisbane dan Parramatta River yang membelah Kota Sidney di Australia. Hutt River (Te Awa Kairangi) di Wellington dan Tamaki River di Aukcland di Selandia Baru. Sungai Sumida-gawa di Tokyo.Sacramento River di California, Chicago River dan kanal Chicago yang mengalirkan air ke Danau Michigan di Chicagotempat aku pernah tinggal dan sekolah selama di Amerika. Semuanya masih relatif jernih dan bebas sampah dan bau.
Tak peduli dengan kekecewaanku, air sungai Krueng Aceh ini masih saja mengalir, lamban dan malas. Berkebalikan dengan bus-bus Transkutaradja, mobil-mobil dan sepeda motor yang bergerak cepat di atas jembatan di depan sana. Bergegas-gegas seakan waktu hampir tiba di penghujungnya.
Padahal ini masih pagi. Matahari yang baru berusia beberapa jam itu memancarkan cahayanya dengan kuat, sedikit terlalu kuat, bahkan. Seakan seorang remaja yang masih belum tahu batas kekuatannya dan cenderung mengeluarkan terlalu banyak tenaga bahkan untuk mengangkat barang kecil sekalipun. Pancaran cahaya matahari itu membuat hari ini menjadi cerah. Namun juga terasa terlalu cepat panas sebelum waktunya.
Krueng Aceh ini panjang sejarahnya. Ia sudah ada di sini sejak tanah ini masih hutan belantara, sampai datang indatu kami meusosah payah, rimba le geucah meu ilah daya. Alirannya adalah saksi sejarah ketika tanah ini masih bernama Bandar Lamuri dan lalu Kutaradja dan akhirnya Banda Aceh. Di berbagai titik di sungai ini pernah berdiri galangan kapal dan pelabuhan yang makmur. Dermaga-dermaga itu disinggahi para pelaut dari mancanegara, datang untuk berdagang rempah hasil bumi tanah yang kaya ini. Dermaga-dermaga itu adalah tempat masuk dan berangkatnya para alim ulama yang datang membawa Islam ke tanah ini, atau para ulama dan da’i berangkat menuju negeri-negeri yang jauh menyiarkan agama mulia ini. Di kuala sungai ini pula berdiri pusat pendidikan Islam yang dipimpin oleh ulama di antara para ulama, sang syaikhul syeikh yang agung, Syekh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri, lebih dikenal sebagai Teungku Syiah Kuala.
Di muara sungai ini, di Peunayong sana, tentara kapheBelanda mendarat di Aceh tahun 1873, dengan senjata lengkap dan nafsu berkuasa hendak menjajah, hanya untuk kalah dan terusir tahun itu juga oleh pasukan Cut Nja’ Dhien yang jaya. Krueng Aceh ini adalah saksi yang mencatat dan pengingat indatu kami orang pemberani yang tersohor seantero bumi.Mereka bukanlah orang-orang pengecut. Mereka adalah kesatria yang rela darahnya tertumpah dan nyawanya tercabut demi agama Allah dan membela diri melawan penjajah.
Namun sungai ini dan saudara-saudaranya, puluhan sungai lain yang tersebar di seluruh pelosok Aceh, adalah juga kuburan bagi ribuan saudara kami yang tewas terbunuh dalam perang Aceh melawan Belanda. Baik Belanda yang putih maupun yang berkulit sawo matang. Ia adalah pandam bagi jiwa-jiwa patriot yang syahid di masa kolonial maupun pasca kolonial, di masa penjajahan maupun di masa yang katanya telah merdeka. Salah satu saudara Krueng Aceh ini, nun di timur sana, Krueng Arakundo akan bersumpah bahwa ia adalah saksi sekaligus pusara bagi para syuhada itu.
Sepanjang aliran sungai ini dan teluk di ujung sana beserta seluruh pesisir pantai ini adalah yang kundang pusara untuk ribuan saudara kami yang syahid dalam Tsunami 2004 dan hingga kini belum ditemukan jasadnya. Hingga hari ini jika ada yang menyelami sungai ini, menyusurinya dari muara ke arah hulu sampai di pertengahan di Lambaro niscaya masih akan didapati jasad dan kerangka para syuhada tsunami itu.
Aku mendesah. Melayangkan pandang ke utara. Di sana, di seberang Kuala Krueng Aceh ini, di selat dan teluk Pulau Weh hanya beberapa kilometer saja dari Kota Sabang, ratusan jenazah lain juga terbujur tenang di dasar laut. Mereka syahid setelah Kapal Gurita yang mereka tumpangi tenggelam pada tengah malam menjelang bulan suci Ramadhan di tahun 1996.
Kubisikkan doa pendek bagi mereka yang telah tiada, seutas al-Fatihah untuk jiwa-jiwa yang berani dan mulia itu. Kurenungi arti sungai ini bagi anak bangsa. Ia adalah bagian dari hidup kami, di negeri Aceh yang diwariskan indatu di bawah matahari khatulistiwa yang cerah berlangit biru dan menyimpan selaksa cerita.
Angin mengalir lembut di permukaan sungai. Berhembus perlahan dari muara, dari teluk Bandar Lamuri, mengusap mukaku yang termenung di pinggir Krueng Aceh.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






