Dengarkan Artikel
Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Kabupaten Blora
Tomi berdiri di pelataran stasiun, mengenakan jas sederhana namun rapi. Sinar matahari sore menyentuh wajahnya yang tampak bimbang. Di sampingnya, Isma dan Bara menepuk bahunya, memberi semangat.
“Kamu yakin, Mi?” tanya Bara.
Tomi mengangguk, meski tak sepenuhnya yakin. “Kata orang cinta itu kadang harus dikejar secepat kereta. Dan aku… aku memilih Argo Bromo.”
Dua bulan lalu, Tomi baru mengenal Tantri—wanita cantik dan mandiri yang dikenalkan oleh Yuli, teman kuliahnya. Sejak pertemuan pertama, hubungan mereka tumbuh cepat. Terlalu cepat. Dalam waktu tiga minggu, Tomi melamar.
“Kamu kayak orang kesambet, Mi,” cibir Lili waktu itu. “Cinta itu nggak bisa buru-buru.”
Tapi Tomi tak peduli. Ia yakin, Tantri adalah jawabannya.
Pernikahan mereka digelar sederhana. Karno, ayah Tantri, terlihat terkejut tapi tak bisa menolak karena Tantri sendiri yang mendesak. Semua serba kilat, seperti Argo Bromo yang melaju nyaris tanpa jeda dari Jakarta ke Surabaya.
Namun secepat itu pula badai datang.
📚 Artikel Terkait
Tantri ternyata bukan orang yang mudah diajak kompromi. Ia keras kepala, dominan, dan sering meledak karena hal-hal kecil. Tomi yang terbiasa lembut dan tenang, mulai kelelahan.
“Kenapa kamu nggak pernah nurut kalau aku bilang sesuatu?” bentak Tantri suatu malam.
“Karena aku bukan robot, Tantri. Aku suami kamu, bukan pelayan.”
Pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Santi, sahabat Tantri, mencoba menengahi. Wawan, sahabat Tomi, juga menasihati agar bersabar.
Tapi hubungan mereka sudah terlalu retak. Seperti rel yang berguncang hebat ketika roda tak lagi seirama.
Dan pada bulan ketiga, Tomi akhirnya berkata pelan, namun tegas.
“Maaf, Tantri. Mungkin memang ini salah. Kita terlalu cepat. Aku menikahimu secepat Argo Bromo, dan kini… aku menceraikanmu secepat Sembrani.”
Tantri menatap kosong. Tak menangis, hanya diam. Ia tahu, semuanya terburu-buru. Hubungan yang cepat datang, kadang memang cepat pula pergi.
Di stasiun yang sama, enam bulan kemudian, Tomi berdiri sendiri lagi. Ia melihat kereta lewat, membawa cerita-cerita manusia yang tak selalu indah.
Isma mendekat. “Masih percaya cinta?”
Tomi tersenyum tipis. “Aku percaya. Tapi kali ini, aku nggak akan pakai kereta cepat. Mungkin cukup jalan kaki saja.”
Isma tertawa pelan. “Jalan kaki pun asal searah, bisa sampai juga.”
Dan Tomi tahu, hidup memang bukan soal cepat-cepatan. Tapi tentang arah yang benar, dan teman perjalanan yang sejiwa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






