POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengenal Ir. Kasmudjo, Dosen Pembimbing Akademik Jokowi

RedaksiOleh Redaksi
May 14, 2025
Mengenal Ir. Kasmudjo, Dosen Pembimbing Akademik Jokowi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Di seputaran kasus ijazah Jokowi, saya sudah mengenalkan sejumlah tokoh seperti dr Tifa, Amien Rais, Roy Suryo, Yacub Hasibuan (pengacara Jokowi). Kali ini satu lagi tokoh yang nak saya kenalkan. Ia bukan publik figure, selegram, hanya mantan pembimbing akademik Jokowi yang sudah berusia senja. Siapkan kopinya, wak!

Di sebuah sudut Jogja yang teduh dan penuh kenangan, tinggal seorang pria renta berusia 75 tahun bernama Ir. Kasmudjo. Ia bukan pesulap, bukan pula seleb TikTok viral, apalagi anggota boyband. Ia hanyalah seorang dosen Fakultas Kehutanan UGM, dengan spesialisasi teknologi kayu, sebuah ilmu luhur yang menekuni nasib pohon lebih dalam dari kebanyakan politisi menekuni nasib rakyat.

Tapi takdir, oh takdir, kadang seperti naskah FTV kehabisan ide, absurd, dramatis, dan penuh twist. Di usia yang seharusnya ia gunakan untuk rebahan berkualitas dan main tebak gambar sama cucu, namanya justru menyeruak dalam pusaran kasus yang mengguncang ruang hampa logika bangsa, ijazah Jokowi. Ya, ijazah, selembar kertas bergelar sarjana yang kini statusnya diperdebatkan lebih seru dari debat Capres.

Kasmudjo bukan dosen biasa. Ia adalah pembimbing akademik Joko Widodo semasa kuliah di UGM, tepatnya di Fakultas Kehutanan periode 1980–1985. Bukan pembimbing skripsi, memang. Tapi jangan salah. Di dunia kampus, pembimbing akademik itu seperti guru spiritual, mengarahkan, menenangkan, dan jadi tempat mengadu kalau nilai Statistik Hutan anjlok gara-gara lupa bawa kalkulator.

Menurut Kasmudjo, Jokowi muda adalah mahasiswa disiplin, teliti, dan rajin pulang-pergi Solo–Yogyakarta demi membantu usaha mebel keluarga. Seorang pemuda yang aroma tubuhnya bisa jadi perpaduan antara keringat idealisme dan serbuk kayu jati. Bahkan, saking dekatnya, hubungan mereka tetap terjalin puluhan tahun kemudian, hingga Kasmudjo diundang ke pernikahan anak Jokowi. Bukan undangan template, ya, tapi yang pakai nama sendiri, bukan “keluarga besar”.

📚 Artikel Terkait

Pelajaran Pahit dari Banjir Aceh–Sumut–Sumbar: Mengapa Hutan Kita Hancur dan Negara Gagal Belajar

Why an Acehnese Airline Chose Singapore over Indonesia

Membedah Sejarah, Merawat Ingatan – Ulasan

Mengubah Sampah Menjadi Barang Yang membawa Berkah

Lalu datanglah hari itu. Hari yang akan tercatat dalam sejarah kehutanan dan meme politik Indonesia. Jokowi, Presiden Republik Indonesia, mengetuk pintu rumah Kasmudjo. Kunjungannya sederhana, katanya, “Silaturahmi.” Tapi aura di sekitarnya memancar seperti babak puncak anime. Sebab momen itu adalah deklarasi diam, “Saya pernah kuliah, dan ini saksi hidupnya.”

Kasmudjo menyambut hangat. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan. Padahal mungkin di dalam hati ia berteriak, “Gusti, napa kula ingkang keciduk?” Sebab setelah kunjungan itu, ia bukan lagi dosen pensiunan biasa. Ia mendadak berubah jadi tokoh sentral dalam drama epik “Ijazah yang Hilang Kepercayaan Publik”.

UGM sudah bicara, katanya ijazah Jokowi asli. Tapi sebagian warga +62 tidak puas kalau tidak melihat bukti berupa foto wisuda, video saat tanda tangan daftar hadir, hingga suara pengakuan meja kuliah yang pernah diduduki Jokowi. Di tengah kekacauan nalar itu, Ir. Kasmudjo berdiri gagah, meski agak bungkuk. Ia berkata, “Saya membimbing dia. Saya ingat.” Kalimat yang lebih dahsyat dari seribu klarifikasi YouTube.

Kini, Ir. Kasmudjo tidak hanya dikenal sebagai pakar teknologi kayu, tapi juga sebagai penjaga kebenaran historis. Ia tidak minta panggung, tapi panggung yang datang padanya. Ia tidak minta jadi trending topic, tapi netizen menyeretnya ke sana. Ia tidak minta dihujat atau dibela, tapi semua itu datang sebagai paket komplit dari negeri yang menjadikan politik sebagai cabang hiburan.

Kita, sebagai rakyat yang budiman dan mudah terbelah karena unggahan anonim, mungkin lupa bahwa di balik selembar ijazah, ada manusia-manusia nyata, seperti Ir. Kasmudjo, yang hanya ingin menghabiskan hari tua dengan damai. Tapi apa daya. Di negeri ini, bahkan pohon pun bisa dijadikan alat bukti kalau itu dianggap tumbuh di tahun yang salah.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Kesopanan (dalam) Dunia Tulis

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00