Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Di seputaran kasus ijazah Jokowi, saya sudah mengenalkan sejumlah tokoh seperti dr Tifa, Amien Rais, Roy Suryo, Yacub Hasibuan (pengacara Jokowi). Kali ini satu lagi tokoh yang nak saya kenalkan. Ia bukan publik figure, selegram, hanya mantan pembimbing akademik Jokowi yang sudah berusia senja. Siapkan kopinya, wak!
Di sebuah sudut Jogja yang teduh dan penuh kenangan, tinggal seorang pria renta berusia 75 tahun bernama Ir. Kasmudjo. Ia bukan pesulap, bukan pula seleb TikTok viral, apalagi anggota boyband. Ia hanyalah seorang dosen Fakultas Kehutanan UGM, dengan spesialisasi teknologi kayu, sebuah ilmu luhur yang menekuni nasib pohon lebih dalam dari kebanyakan politisi menekuni nasib rakyat.
Tapi takdir, oh takdir, kadang seperti naskah FTV kehabisan ide, absurd, dramatis, dan penuh twist. Di usia yang seharusnya ia gunakan untuk rebahan berkualitas dan main tebak gambar sama cucu, namanya justru menyeruak dalam pusaran kasus yang mengguncang ruang hampa logika bangsa, ijazah Jokowi. Ya, ijazah, selembar kertas bergelar sarjana yang kini statusnya diperdebatkan lebih seru dari debat Capres.
Kasmudjo bukan dosen biasa. Ia adalah pembimbing akademik Joko Widodo semasa kuliah di UGM, tepatnya di Fakultas Kehutanan periode 1980–1985. Bukan pembimbing skripsi, memang. Tapi jangan salah. Di dunia kampus, pembimbing akademik itu seperti guru spiritual, mengarahkan, menenangkan, dan jadi tempat mengadu kalau nilai Statistik Hutan anjlok gara-gara lupa bawa kalkulator.
Menurut Kasmudjo, Jokowi muda adalah mahasiswa disiplin, teliti, dan rajin pulang-pergi Solo–Yogyakarta demi membantu usaha mebel keluarga. Seorang pemuda yang aroma tubuhnya bisa jadi perpaduan antara keringat idealisme dan serbuk kayu jati. Bahkan, saking dekatnya, hubungan mereka tetap terjalin puluhan tahun kemudian, hingga Kasmudjo diundang ke pernikahan anak Jokowi. Bukan undangan template, ya, tapi yang pakai nama sendiri, bukan “keluarga besar”.
📚 Artikel Terkait
Lalu datanglah hari itu. Hari yang akan tercatat dalam sejarah kehutanan dan meme politik Indonesia. Jokowi, Presiden Republik Indonesia, mengetuk pintu rumah Kasmudjo. Kunjungannya sederhana, katanya, “Silaturahmi.” Tapi aura di sekitarnya memancar seperti babak puncak anime. Sebab momen itu adalah deklarasi diam, “Saya pernah kuliah, dan ini saksi hidupnya.”
Kasmudjo menyambut hangat. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan. Padahal mungkin di dalam hati ia berteriak, “Gusti, napa kula ingkang keciduk?” Sebab setelah kunjungan itu, ia bukan lagi dosen pensiunan biasa. Ia mendadak berubah jadi tokoh sentral dalam drama epik “Ijazah yang Hilang Kepercayaan Publik”.
UGM sudah bicara, katanya ijazah Jokowi asli. Tapi sebagian warga +62 tidak puas kalau tidak melihat bukti berupa foto wisuda, video saat tanda tangan daftar hadir, hingga suara pengakuan meja kuliah yang pernah diduduki Jokowi. Di tengah kekacauan nalar itu, Ir. Kasmudjo berdiri gagah, meski agak bungkuk. Ia berkata, “Saya membimbing dia. Saya ingat.” Kalimat yang lebih dahsyat dari seribu klarifikasi YouTube.
Kini, Ir. Kasmudjo tidak hanya dikenal sebagai pakar teknologi kayu, tapi juga sebagai penjaga kebenaran historis. Ia tidak minta panggung, tapi panggung yang datang padanya. Ia tidak minta jadi trending topic, tapi netizen menyeretnya ke sana. Ia tidak minta dihujat atau dibela, tapi semua itu datang sebagai paket komplit dari negeri yang menjadikan politik sebagai cabang hiburan.
Kita, sebagai rakyat yang budiman dan mudah terbelah karena unggahan anonim, mungkin lupa bahwa di balik selembar ijazah, ada manusia-manusia nyata, seperti Ir. Kasmudjo, yang hanya ingin menghabiskan hari tua dengan damai. Tapi apa daya. Di negeri ini, bahkan pohon pun bisa dijadikan alat bukti kalau itu dianggap tumbuh di tahun yang salah.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






