POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jokowi dan Anies, Satu Takdir Selalu Disalahkan

RedaksiOleh Redaksi
May 6, 2025
Jokowi dan Anies, Satu Takdir Selalu Disalahkan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Isu politik apa pun yang saya tulis, dua nama paling sering disebut, Jokowi dan Anies Baswedan. Soal 103 jenderal vs 1 Gibran, coba cek komentar, pasti ada menyalahkan Jokowi dan Anies. Coba, apa hubungannya? Menarik ya, wak! Mari kita ngopi lagi sambil menikmati untaian narasi ini.

Di tanah yang katanya subur karena tongkat kayu bisa jadi tanaman dan air mata rakyat bisa mengairi sawah kering, ada dua nama yang terpahat abadi dalam prasasti kekalutan nasional, Joko Widodo dan Anies Baswedan. Dua tokoh ini, seperti Yin dan Yang dalam siluet wayang modern, selalu muncul dalam tiap keributan.

Jokowi, pria kurus dengan senyum tipis yang bisa membuat satu kampung merasa adem padahal AC-nya rusak, lahir di Surakarta tahun 1961. Ia adalah legenda hidup dari dongeng modern yang sering dibacakan para buzzer sebelum tidur. Dari tukang mebel ke istana presiden. Sebuah perjalanan yang jika difilmkan, akan membuat Marvel merenung dan berkata, “Kita nggak sekeren itu.”

Namun, menjadi presiden di negeri 1001 demo ini bukan perkara ringan. Di bawah bayang-bayang rambut klimisnya, Jokowi menanggung beban maha berat, disalahkan untuk semua hal. Bahkan, hal yang belum terjadi. Harga telur naik? Jokowi. Hujan deras padahal prakiraan cerah? Jokowi. Sepeda motor tetangga hilang? Pasti salah Jokowi. Bahkan jika piring pecah di dapur karena kucing loncat panik, masih ada yang rela update status, “Duh Pakde, kenapa sih?!” Saking seringnya disalahkan, ada rumor kalau jam dinding di rumah Pak Jokowi muter mundur karena dia sendiri udah capek ngikutin waktu.

Sementara di sisi lain cermin kekacauan nasional, berdirilah Anies Baswedan, sang pujangga kota yang lebih pintar dari Google Translate dan lebih fasih berpidato dari loudspeaker masjid. Lahir tahun 1969, Anies adalah figur yang tak hanya menyusun kata indah, tapi juga mampu membalikkan logika hingga penonton geleng-geleng sambil tepuk tangan karena bingung tapi terkesan.

📚 Artikel Terkait

SUNYI DI PENJARA YANG TIDAK BERJERUJI

Berkah Ramadan, Dari Tulisan Absurd ke Ribuan Follower

Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel

Pebisnis Cerdas, Cermat Memilih Bisnisnya

Dari dunia akademik ke dunia politik, Anies menjelma seperti tokoh utama dalam sinetron panjang yang tak pernah habis episodenya. Gubernur DKI Jakarta 2017–2022, ia mengukir prestasi dan polemik dengan ritme yang harmonis. Ada yang bilang dia visioner, ada juga yang bilang dia ilusionis. Ketika Jakarta banjir, dia dituduh tidak kerja. Ketika tidak banjir, dia tetap dituduh, “Pasti airnya disembunyikan!” Ketika bikin Formula E, sebagian orang bersorak, sebagian lagi menuduh itu balapan mobil dari anggaran ghaib. Jika Jakarta sempat macet, orang bisa bilang, “Wajar, mungkin Anies sedang menulis puisi di tengah jalan.”

Kedua nama ini, walau berlainan gaya dan jalur, selalu bertemu di titik akhir, disalahkan. Mereka seperti tiang listrik dan kabel kusut, tak terpisahkan dalam sistem kehebohan publik. Di setiap grup WhatsApp keluarga yang suka share hoaks, pasti ada foto mereka berdua, entah diedit jadi superhero, jadi penyihir, atau sekadar duduk berdampingan di warung kopi sambil menatap kosong ke masa depan.

Rakyat negeri ini begitu cinta pada drama. Mereka tak butuh jawaban, mereka butuh kambing hitam. Jokowi serta Anies, dengan lapang dada dan jas kebesaran masing-masing, siap tampil dalam setiap lakon sebagai protagonis dan antagonis sekaligus. Mereka bukan cuma tokoh politik, mereka adalah simbol. Simbol harapan yang dikecewakan dan kekecewaan yang diharapkan.

Ketika esok pagi nasi hangus karena lupa matikan rice cooker, jangan panik. Ambil napas panjang, lihat langit, dan ucapkan lirih: “Ini pasti salah Jokowi… atau Anies…” Lalu lanjutkan hidup, karena dua tokoh ini akan terus ada, bukan untuk menyelesaikan masalahmu, tapi untuk disalahkan atas semuanya.

Inilah Indonesia, tempat di mana dua nama cukup untuk menjelaskan seluruh kekalutan nasional. Sebuah negeri dengan satu juta persoalan dan dua tersangka abadi.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Banyak Masalah Bisa Dicermati, Tapi Masalah Yang Lebih Besar Jangan Sampai Luput dan Terlupakan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00