POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

AI dan Marxisme

RedaksiOleh Redaksi
May 3, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh ReO Fiksiwan

“Ketika orang kaya berperang, orang miskinlah yang mati.” — Jean-Paul Sartre(1905-1980).

Renungan Karl Marx berbulan-bulan di meja pojok perpustakaan London, tidak sekadar menghasilkan materialisme histori.

Namun, di akhir kata pengantar Das Kapital, tertanggal London, 25 Juli 1867, ia mengutip Dante Aliegheri dalam Inferno: Segui il tuo corso, e lascia dir le genti! Nyalah sesukamu, dan biarlah yang lain bicara!

Tentu, yang di sini, kini bicara, tak disangka Marx pada 158 tahun kemudian, telah mewujud pada substitusi “berbahala benda” bernama keren: Artificial Intelligence(AI).

Diacu dari perspektif materialisme historis, moda produksi seperti AI pantas masuk dalam tiga kategori filsafat marxisme yang tersimpul pada: reifikasi, alienasi dan pertentangan kelas.

Tak dinanya. Teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai perkembangan mutakhir materialisme histori, membawa dampak signifikan dan massif pada berbagai aspek kehidupan manusia, terutama ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Dalam konteks ini, teori Marxisme dapat memberikan perspektif yang berharga untuk memahami implikasi AI pada masyarakat.

Tiga di antara penafsir sosialisme marxis, Habermas(95), The Structural Transformation of the Public Sphere(1962); Manuel Castells(83), The Rise of the Network Society(1996); Pierre Bourdieu(1930-2002), The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature(1993), sangat memadai diacu untuk kritik ini.

Kritik ini, dimaksud, menerangi relasi antara AI dan Marxisme, yang bisa mempengaruhi dinamika kelas dan perjuangan kelas sebagai fakta dan realitas sosial tak terhindar dan terbantahkan.

📚 Artikel Terkait

DPPPA Aceh Gelar Pelatihan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak

Sanggar Seni Cut Meutia : Menggores Warna Dari Akar Budaya

Setelah Sepuluh Hari

Membangun Kembali Budaya Mendongeng di Kota Subulussalam

Menurut pijakan Marx sebagai penjelmaan tokoh Promoteus, kelas sosial ditentukan oleh hubungan antara individu dengan alat produksi. Apalagi, konsekuensi era digital, lazimnya AI sangat mempengaruhi dinamika kelas dengan beberapa model teori praksis berikut:

/1/ Reifikasi:
Otomatisasi sebagai dampak “berhala benda”(reifikasi), dengan AI menggantikan pekerjaan manusia, terutama dalam sektor-sektor yang memerlukan pekerjaan repetitif dan rutin.

Akibatnya, substitusi AI menghasilkan pengangguran dan memperlebar kesenjangan antara kelas borjuis dan proletar.

Selanjutnya, konsentrasi kapital melalui AI dapat memperkuat posisi perusahaan-perusahaan besar yang memiliki sumber daya nyaris tiada batas untuk terus berkembang meraksasa. Fukuyama mensinyalir sebagai guncangan besar(great disruption).

Dengan kata lain, mengimplementasikan teknologi AI mempercepat dan memperkuat dominasi kelas borjuis dan memperlemah posisi tawar kelas pekerja. Ringkasnya, terjadi massifikasi dehumanisme.

/2/ Alienasi:
Dengan AI dapat mengubah sifat kerja dan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru yang memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang berbeda, kaidah-kaidah dasar homo faber(manusia kerja) mengalami transformasi akbar dan guncangan eksistensial.

Hal ini dapat mempengaruhi struktur kelas dan memperlebar kesenjangan antara kelas-kelas yang berbeda.

/3/ Perjuangan Kelas(Klassenkampft):
Dalam konteks perjuangan kelas, AI dapat mempengaruhi dinamika konflik antara kelas borjuis dan proletar.

Beberapa implikasi AI pada perjuangan kelas mencakup:

1) Pengawasan dan Kontrol:
AI dapat digunakan untuk mengawasi dan mengontrol pekerja, memperkuat posisi kelas borjuis dan memperlemah posisi tawar kelas pekerja.

2) Organisasi dan Mobilisasi:
Daya guna AI dapat memfasilitasi organisasi dan mobilisasi kelas pekerja. Hingga memungkinkan mereka untuk lebih efektif dalam perjuangan kelas.

3) Ideologi dan Narasi:
Secara efektif, AI dapat digunakan untuk mempromosikan ideologi dan narasi yang mendukung kepentingan kelas borjuis dan mudah memperlemah posisi tawar kelas pekerja.

Walhasil, AI telah membawa dampak signifikan dan massif pada dinamika kelas dan perjuangan kelas. Sejarawan filsuf Spanyol, José Ortega y Gasset(1883-1955), menabalkan dalam The Revolt of the Masses(1929).

Kembali ke konteks ini, tiga teori Marxisme yang diurai singkat di atas, dapat menyigi perspektif yang berharga sebagai apresiasi kritis dalam mendalami secara filosofis implikasi AI pada masyarakat.

Akhirkalam, dengan memahami watak dan kinerja AI melalui Marxisme, dinamika kelas dan perjuangan kelas akan lebih efektif untuk membangun perjuangan kelas dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara. Dan untuk itu, ini bukan utopia!

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Kudeta Halus dan Gerbong Gaib

Kudeta Halus dan Gerbong Gaib

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00