POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Teungku Chik Pantee Geulima; Ulama, Pejuang Tangguh, dan Panglima Perang yang Disegani.

Nurkhalis MuchtarOleh Nurkhalis Muchtar
May 1, 2025
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc. MA

Nama aslinya Teungku Ismail Yaqub, namun setelah beliau menyelesaikan pendidikannya di Mekkah, masyarakat Aceh menyebutnya dengan panggilan Teungku Chik Pantee Geulima. Teungku Ismail lahir di Pantee Geulima Meureudu, dan beliau masih keturunan dari bangsawan dari Kerajaan Aceh. Di antara keturunan raja Aceh yang menfokuskan diri dalam ilmu agama, bahkan mendirikan lembaga pendidikan yang dikenal dengan Dayah Teungku Chik Pantee Geulima adalah Teungku Yaqub yang merupakan moyang dari Teungku Ismail Yaqub yang sedang dibahas. 

Sehingga ulama-ulama yang memimpin Dayah Pantee Geulima disebut dengan Teungku Chik Pantee Geulima seperti Teungku Chik Tanoh Abee. Teungku Ismail Yaqub diperkirakan lahir di tahun 1838 dari seorang ayah yang juga ulama dan pimpinan Dayah yaitu Teungku Yaqub yang memiliki nama persis seperti moyangnya. 

Melihat kepada tanggal lahirnya Teungku Syekh Ismail, beliau sebaya dengan Teungku Chik Di Tiro yang lahir tahun 1836, dan Teungku Chik Pantee Kulu yang lahir tahun 1839, ketiganya adalah ulama besar dan pejuang kenamaan dalam perang Aceh.

Mengawali masa belajarnya, Teungku Ismail Yaqub belajar pertama kali di Dayah Pantee Geulima yang dipimpin langsung oleh ayahnya. Namun karena masih baru, beliau belum belajar langsung pada ayahnya. Teungku Ismail Yaqub belajar pada asisten teungku chik yang disebut teungku di rangkang. 

Setelah menyelesaikan pendidikan pada teungku rangkang yang ditunjuk langsung oleh ayahnya, Teungku Ismail Yaqub telah menguasai ilmu yang memadai untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi yaitu belajar kepada Teungku Chik di Dayah Pantee Geulima yang merupakan ayahnya sendiri. 

Setelah belajar beberapa lama kepada ayahnya secara langsung, Teungku Ismail yang ketika itu sudah layak menjadi teungku di rangkang atau asisten Teungku Chik telah mampu menyerap berbagai ilmu secara mendalam. Sehingga pada usianya yang masih belia, Teungku Ismail Yaqub telah menjadi ulama muda yang mendalam ilmunya.

Walaupun Teungku Ismail Yaqub telah menjadi alim, namun beliau merasa ilmunya masih dangkal, sehingga beliau kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mekkah. Pada tahun 1868 berangkatlah Teungku Ismail Yaqub ke Mekkah untuk belajar kepada para ulama besar yang ada di Mesjidil Haram Mekkah. Disebutkan hampir sepuluh tahun beliau belajar dengan tekun kepada para ulama yang ada di sana, hingga mengantarkan beliau menjadi seorang syekh dan telah diangkat menjadi asisten seorang pengajar di Mesjidil Haram. 

Melihat kepada tahun kedatangan beliau di Mekkah, kemungkinan besar beliau segenerasi dengan Syekh Sayyid Bakri Syatta pengarang kitab I’anatuththalibin yang lahir tahun 1844 yang merupakan guru dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syekh Ali bin Husen al-Maliki. Dan hal yang dimaklumi bahwa Syekh Sayyid Bakri adalah murid kesayangan dari Mufti Mekkah yaitu Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan Syeikhul Masyayikh ketika pada zamannya. 

Maka tidak mengherankan bila Teungku Syekh Ismail Yaqub kemudian menjadi alim besar sepulangnya beliau belajar di Mekkah. Selain alim dan cerdas, beliau adalah seorang ulama yang gagah dan pemberani. Sehingga kepulangan Syekh Ismail sangat dinantikan oleh para penuntut ilmu yang belajar di Dayah Pantee Geulima, yang ketika itu hampir mencapai seribuan. 

📚 Artikel Terkait

Kacabdisdik Bireuen Inisiasi Bantuan Sepeda untuk Siswa Miskin, Mukhlis Takabeya Respon Positif

Sekda: Pembangunan Kota Harus Memperhatikan Mitigasi Bencana

PC IMM Aceh Besar Hadirkan Kembali Kegiatan Diksuswati

PUISI-PUISI ALI HAMZAH

Kepulangan beliau merupakan harapan besar untuk memajukan dan melanjutkan estafet kepemimpinan Dayah Pantee Geulima setelah ayahnya. Tidak berlebihan bila kemudian Teungku Chik Ismail Pantee Geulima merupakan guru yang dinantikan oleh murid-muridnya. 

Di antara para ulama yang pernah belajar pada Teungku Chik Ismail Yaqub Pantee Geulima ialah Tuanku Raja Keumala, Teungku Haji Ismail yang dikenal dengan Teungku Chik Empei Tring, Teungku Di Cot Pling, dan Teungku Chik Hasballah Meunasah Kumbang, serta para ulama lainnya yang kemudian menjadi pengayom masyarakat dan pejuang yang hebat.

Setibanya Teungku Syekh Ismail Yaqub dari Mekkah, keadaan Aceh dalam keadaan genting, dimana Belanda telah mulai mencaplok wilayah-wilayah Aceh dan menanamkan pengaruhnya dan menebarkan politik perpecahan. Melihat gelagat yang demikian, maka Teungku Chik Ismail Yaqub mulai mengatur siasat untuk mempersiapkan diri. Beliau mendidik santrinya dengan sungguh-sungguh, dan melatih mereka untuk siap berperang. 

Sehingga jadilah Dayah Pantee Geulima sebagai salah satu markas untuk melatih para pejuang Aceh dalam berbagai peperangan. Beliau dengan lima ratus pasukan terlatihnya senantiasa bersiap-siap terhadap berbagai kemungkinan yang dilakukan Belanda. Setelah berakhirnya kepemimpinan Sultan Mansur Syah di tahun 1870, pada tahun 1873 mulailah meletus perang Aceh ditandai dengan ultimatum Belanda kepada Sultan Aceh untuk tunduk di bawah kedaulatan Belanda. Tentu ultimatum tersebut ditolak oleh Sultan dan rakyat Aceh.

Teungku Chik Pantee Geulima berangkatlah bersama lima ratus pasukan terlatihnya ke Aceh Besar dan Banda Aceh, untuk mengamankan wilayah kerajaan Aceh. Selama tiga tahun beliau dengan pasukannya melawan Belanda dan memukul mundur pasukan Belanda. Pada tahun 1876 beliau dengan pasukannya kembali ke kawasan Meureudu, Samalanga, Keumala untuk mempersiapkan wilayah tersebut dan menjadi benteng terakhir bila wilayah di Aceh Besar seperti Kuta Karang, Lampisang, Seulimum, Tanoh Abee dikuasai. 

Beliau memprediksi akan terjadi pertempuran yang sengit dan waktu yang lama antara Belanda dan para pejuang Aceh Besar. Apalagi di tahun 1881 pulang dari Mekkah Teungku Chik Di Tiro yang siap memimpin peperangan. Demi mendengar pimpinan yang gagah berani Teungku Chik Di Tiro, maka para ulama lainnya seperti Teungku Chik Kuta Karang yang ketika itu sebagai mufti kerajaan Aceh juga ikut berjuang bersama Qadhi Rabbul JalilTeungku Chik Tanoh Abee dan para ulama lainnya.

Adapun Teungku Chik Pantee Geulima memperkuat wilayah Keumala yang juga menjadi incaran Belanda, karena umumnya keluarga Sulltan Aceh berpindah ke Keumala dari Kuta Raja Banda Aceh. 

Termasuk keluarga sultan Aceh yang ikut bergerilya ialah Tuanku Raja Keumala yang dalam masa pengungsiannya banyak belajar agama kepada Teungku Chik Pantee Geulima sebelum Tuwanku Raja Keumala belajar di Mekkah nantinya. Dan teman seperjuangan Tuanku Raja Keumala ialah Teungku Haji Ismail Empeu Tring yang kemudian dikenal sebagai Teungku Chik Empeu Tring Pimpinan Dayah di Indrapuri sebelum Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri.

Pada akhir tahun 1876 Teungku Chik Pantee Geulima diutus oleh Sultan untuk bernegosiasi ke Batak kepada Pemimpin mereka Singsingamangaraja untuk memberitahukan perlawanan terhadap Belanda. Disebutkan bahwa Raja Batak tersebut masuk Islam ditangan Teungku Chik Pantee Geulima. Dan seratus orang pasukan inti Teungku Chik Pantee Geulima menetap dan memperkuat Raja Singsingamangaraja tersebut. Sehingga pada tahun 1878 meletuslah peperangan antara Raja yang pemberani melawan Belanda.

Setibanya Teungku Chik Pantee Kulu ke Aceh kembali, beliau menerima berbagai informasi yang menyebutkan Belanda telah mulai merengsek menembus kawasan Keumala, dan terjadi beberapa kali peperangan terutama di Benteng Batei Illiek. Karena benteng ini merupakan benteng strategis pejuang Aceh kawasan Pidie dan sekitarnya. 

Demikianlah kiprah yang besar dalam perjalanan hidup sang ulama pejuang Teungku Chik Pantee Geulima. Dan pada hari Jum’at 1904 syahidlah Teungku Chik Pantee Geulima dan pasukannya dalam perang yang dahsyat. Maka dengan syahidnya beliau, sungguh Aceh telah kehilangan seorang ulama besar, pejuang yang hebat dan gagah berani. 

Beliau adalah seorang Teungku Chik yang telah berjihad dengan ilmunya, dan turun langsung ke kancah peperangan untuk mengahadang penjajah Belanda. Maka kiprah beliau sama seperti Teungku Chik Di Tiro, Teungku Chik Kuta Karang, Teungku Chik Tanoh Abee dan Teungku Chik Pantee Kulu, serta ulama besar lainnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share7SendShareScanShare
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Puisi Karya Jacob Ereste

PEJUANG KEADILAN ITU BERNAMA MARSINAH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00