• Latest
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at

Teungku Chik Pantee Geulima; Ulama, Pejuang Tangguh, dan Panglima Perang yang Disegani.

Mei 1, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Teungku Chik Pantee Geulima; Ulama, Pejuang Tangguh, dan Panglima Perang yang Disegani.

Nurkhalis Muchtarby Nurkhalis Muchtar
Mei 1, 2025
Reading Time: 5 mins read
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at
606
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc. MA

Nama aslinya Teungku Ismail Yaqub, namun setelah beliau menyelesaikan pendidikannya di Mekkah, masyarakat Aceh menyebutnya dengan panggilan Teungku Chik Pantee Geulima. Teungku Ismail lahir di Pantee Geulima Meureudu, dan beliau masih keturunan dari bangsawan dari Kerajaan Aceh. Di antara keturunan raja Aceh yang menfokuskan diri dalam ilmu agama, bahkan mendirikan lembaga pendidikan yang dikenal dengan Dayah Teungku Chik Pantee Geulima adalah Teungku Yaqub yang merupakan moyang dari Teungku Ismail Yaqub yang sedang dibahas. 

Sehingga ulama-ulama yang memimpin Dayah Pantee Geulima disebut dengan Teungku Chik Pantee Geulima seperti Teungku Chik Tanoh Abee. Teungku Ismail Yaqub diperkirakan lahir di tahun 1838 dari seorang ayah yang juga ulama dan pimpinan Dayah yaitu Teungku Yaqub yang memiliki nama persis seperti moyangnya. 

Melihat kepada tanggal lahirnya Teungku Syekh Ismail, beliau sebaya dengan Teungku Chik Di Tiro yang lahir tahun 1836, dan Teungku Chik Pantee Kulu yang lahir tahun 1839, ketiganya adalah ulama besar dan pejuang kenamaan dalam perang Aceh.

Mengawali masa belajarnya, Teungku Ismail Yaqub belajar pertama kali di Dayah Pantee Geulima yang dipimpin langsung oleh ayahnya. Namun karena masih baru, beliau belum belajar langsung pada ayahnya. Teungku Ismail Yaqub belajar pada asisten teungku chik yang disebut teungku di rangkang. 

Setelah menyelesaikan pendidikan pada teungku rangkang yang ditunjuk langsung oleh ayahnya, Teungku Ismail Yaqub telah menguasai ilmu yang memadai untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi yaitu belajar kepada Teungku Chik di Dayah Pantee Geulima yang merupakan ayahnya sendiri. 

Setelah belajar beberapa lama kepada ayahnya secara langsung, Teungku Ismail yang ketika itu sudah layak menjadi teungku di rangkang atau asisten Teungku Chik telah mampu menyerap berbagai ilmu secara mendalam. Sehingga pada usianya yang masih belia, Teungku Ismail Yaqub telah menjadi ulama muda yang mendalam ilmunya.

Walaupun Teungku Ismail Yaqub telah menjadi alim, namun beliau merasa ilmunya masih dangkal, sehingga beliau kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mekkah. Pada tahun 1868 berangkatlah Teungku Ismail Yaqub ke Mekkah untuk belajar kepada para ulama besar yang ada di Mesjidil Haram Mekkah. Disebutkan hampir sepuluh tahun beliau belajar dengan tekun kepada para ulama yang ada di sana, hingga mengantarkan beliau menjadi seorang syekh dan telah diangkat menjadi asisten seorang pengajar di Mesjidil Haram. 

Melihat kepada tahun kedatangan beliau di Mekkah, kemungkinan besar beliau segenerasi dengan Syekh Sayyid Bakri Syatta pengarang kitab I’anatuththalibin yang lahir tahun 1844 yang merupakan guru dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syekh Ali bin Husen al-Maliki. Dan hal yang dimaklumi bahwa Syekh Sayyid Bakri adalah murid kesayangan dari Mufti Mekkah yaitu Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan Syeikhul Masyayikh ketika pada zamannya. 

Maka tidak mengherankan bila Teungku Syekh Ismail Yaqub kemudian menjadi alim besar sepulangnya beliau belajar di Mekkah. Selain alim dan cerdas, beliau adalah seorang ulama yang gagah dan pemberani. Sehingga kepulangan Syekh Ismail sangat dinantikan oleh para penuntut ilmu yang belajar di Dayah Pantee Geulima, yang ketika itu hampir mencapai seribuan. 

Kepulangan beliau merupakan harapan besar untuk memajukan dan melanjutkan estafet kepemimpinan Dayah Pantee Geulima setelah ayahnya. Tidak berlebihan bila kemudian Teungku Chik Ismail Pantee Geulima merupakan guru yang dinantikan oleh murid-muridnya. 

Di antara para ulama yang pernah belajar pada Teungku Chik Ismail Yaqub Pantee Geulima ialah Tuanku Raja Keumala, Teungku Haji Ismail yang dikenal dengan Teungku Chik Empei Tring, Teungku Di Cot Pling, dan Teungku Chik Hasballah Meunasah Kumbang, serta para ulama lainnya yang kemudian menjadi pengayom masyarakat dan pejuang yang hebat.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Setibanya Teungku Syekh Ismail Yaqub dari Mekkah, keadaan Aceh dalam keadaan genting, dimana Belanda telah mulai mencaplok wilayah-wilayah Aceh dan menanamkan pengaruhnya dan menebarkan politik perpecahan. Melihat gelagat yang demikian, maka Teungku Chik Ismail Yaqub mulai mengatur siasat untuk mempersiapkan diri. Beliau mendidik santrinya dengan sungguh-sungguh, dan melatih mereka untuk siap berperang. 

Sehingga jadilah Dayah Pantee Geulima sebagai salah satu markas untuk melatih para pejuang Aceh dalam berbagai peperangan. Beliau dengan lima ratus pasukan terlatihnya senantiasa bersiap-siap terhadap berbagai kemungkinan yang dilakukan Belanda. Setelah berakhirnya kepemimpinan Sultan Mansur Syah di tahun 1870, pada tahun 1873 mulailah meletus perang Aceh ditandai dengan ultimatum Belanda kepada Sultan Aceh untuk tunduk di bawah kedaulatan Belanda. Tentu ultimatum tersebut ditolak oleh Sultan dan rakyat Aceh.

Teungku Chik Pantee Geulima berangkatlah bersama lima ratus pasukan terlatihnya ke Aceh Besar dan Banda Aceh, untuk mengamankan wilayah kerajaan Aceh. Selama tiga tahun beliau dengan pasukannya melawan Belanda dan memukul mundur pasukan Belanda. Pada tahun 1876 beliau dengan pasukannya kembali ke kawasan Meureudu, Samalanga, Keumala untuk mempersiapkan wilayah tersebut dan menjadi benteng terakhir bila wilayah di Aceh Besar seperti Kuta Karang, Lampisang, Seulimum, Tanoh Abee dikuasai. 

Beliau memprediksi akan terjadi pertempuran yang sengit dan waktu yang lama antara Belanda dan para pejuang Aceh Besar. Apalagi di tahun 1881 pulang dari Mekkah Teungku Chik Di Tiro yang siap memimpin peperangan. Demi mendengar pimpinan yang gagah berani Teungku Chik Di Tiro, maka para ulama lainnya seperti Teungku Chik Kuta Karang yang ketika itu sebagai mufti kerajaan Aceh juga ikut berjuang bersama Qadhi Rabbul JalilTeungku Chik Tanoh Abee dan para ulama lainnya.

Adapun Teungku Chik Pantee Geulima memperkuat wilayah Keumala yang juga menjadi incaran Belanda, karena umumnya keluarga Sulltan Aceh berpindah ke Keumala dari Kuta Raja Banda Aceh. 

Termasuk keluarga sultan Aceh yang ikut bergerilya ialah Tuanku Raja Keumala yang dalam masa pengungsiannya banyak belajar agama kepada Teungku Chik Pantee Geulima sebelum Tuwanku Raja Keumala belajar di Mekkah nantinya. Dan teman seperjuangan Tuanku Raja Keumala ialah Teungku Haji Ismail Empeu Tring yang kemudian dikenal sebagai Teungku Chik Empeu Tring Pimpinan Dayah di Indrapuri sebelum Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri.

Pada akhir tahun 1876 Teungku Chik Pantee Geulima diutus oleh Sultan untuk bernegosiasi ke Batak kepada Pemimpin mereka Singsingamangaraja untuk memberitahukan perlawanan terhadap Belanda. Disebutkan bahwa Raja Batak tersebut masuk Islam ditangan Teungku Chik Pantee Geulima. Dan seratus orang pasukan inti Teungku Chik Pantee Geulima menetap dan memperkuat Raja Singsingamangaraja tersebut. Sehingga pada tahun 1878 meletuslah peperangan antara Raja yang pemberani melawan Belanda.

Setibanya Teungku Chik Pantee Kulu ke Aceh kembali, beliau menerima berbagai informasi yang menyebutkan Belanda telah mulai merengsek menembus kawasan Keumala, dan terjadi beberapa kali peperangan terutama di Benteng Batei Illiek. Karena benteng ini merupakan benteng strategis pejuang Aceh kawasan Pidie dan sekitarnya. 

ADVERTISEMENT

Demikianlah kiprah yang besar dalam perjalanan hidup sang ulama pejuang Teungku Chik Pantee Geulima. Dan pada hari Jum’at 1904 syahidlah Teungku Chik Pantee Geulima dan pasukannya dalam perang yang dahsyat. Maka dengan syahidnya beliau, sungguh Aceh telah kehilangan seorang ulama besar, pejuang yang hebat dan gagah berani. 

Beliau adalah seorang Teungku Chik yang telah berjihad dengan ilmunya, dan turun langsung ke kancah peperangan untuk mengahadang penjajah Belanda. Maka kiprah beliau sama seperti Teungku Chik Di Tiro, Teungku Chik Kuta Karang, Teungku Chik Tanoh Abee dan Teungku Chik Pantee Kulu, serta ulama besar lainnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Puisi Karya Jacob Ereste

PEJUANG KEADILAN ITU BERNAMA MARSINAH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com