POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Mayday

PEJUANG KEADILAN ITU BERNAMA MARSINAH

Redaksi by Redaksi
Mei 1, 2025
in Mayday, Puisi Essay
0
PEJUANG KEADILAN ITU BERNAMA MARSINAH - f97e2430 52a6 42e3 b004 68ae974adc07 | Mayday | Potret Online

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi esai ini dibuat untuk merayakan Hari Buruh, dengan mengangkat kisah Marsinah, aktivis buruh perempuan, yang ditemukan wafat dengan kondisi penuh luka di hutan Dusun Jegong, Nganjuk, Jawa Timur, 8 Mei 1993)


Sengatan matahari membakar Sidoarjo pagi itu.
Di depan pabrik yang menjanjikan hidup,
puluhan buruh perempuan berbaju hitam dan wajah letih,
menggenggam tuntutan yang tak kunjung ditanggapi.

Baca Juga
  • 01
    Puisi Essay
    Nyadran di Tanah Doplang
    09 Mei 2025
  • PEJUANG KEADILAN ITU BERNAMA MARSINAH - f298395e a4d1 4411 bd47 4e88bc47fc5d | Mayday | Potret Online
    Artikel
    Menumbuhkan Kecintaan Sastra di Kalangan Generasi Muda Lewat Puisi Esai
    02 Nov 2025

“Berikan hak kami! Naikkan upah kami!”
suara itu menampar langit berulang-ulang,
seperti doa yang tak pernah didengar langit pabrik.
Mereka adalah buruh PT Catur Putra Surya (CPS)(¹)

Di barisan depan
seorang perempuan berdiri seperti batu karang,
rambut hitam lebat dibiarkan terurai apa adanya,
tangan kanannya terkepal ke langit.

Baca Juga
  • PEJUANG KEADILAN ITU BERNAMA MARSINAH - 2025 08 20 23 30 43 | Mayday | Potret Online
    Artikel
    Api di Dasar Sumur
    21 Agu 2025
  • fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b
    Esai
    Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai
    19 Apr 2026

“Kalau mereka tetap diam, kita mogok kerja!”
Ucap Marsinah lantang.

“Kau gila, ya? Bisa-bisa kita semua dipecat!” bisik temannya.

Baca Juga
  • PEJUANG KEADILAN ITU BERNAMA MARSINAH - 1000908378_11zon | Mayday | Potret Online
    Puisi Essay
    Kekuatan Rakyat Menenggelamkan Gaya Hidup Pejabat
    13 Sep 2025
  • 02
    Puisi Essay
    Mereka Menemukan Cinta dan Menikah Dalam Komunitas Puisi Esai
    12 Mei 2025

“Lebih baik dipecat daripada diinjak!” perempuan itu tegas menjawab.


Ia bukan sekadar buruh.
Ia membaca koran, menyusun logika,
berdebat dengan manajer yang sok tahu soal undang-undang.

Dialah Marsinah, buruh perempuan yang memimpin demo pagi itu.
“Tak usah kerja hari ini!”
“Tinggalkan mesin! Kita manusia, bukan robot!”

Dari dalam kawasan pabrik, seorang lelaki berkemeja putih,
manajer perusahaan, datang bersama aparat.
Wajahnya dingin. Baginya, barisan buruh ini hanya daun-daun kering yang berserakan di jalan.
“Kalian pikir bisa seenaknya?” ucapnya sinis.

Di ujung jalan, sebuah mobil hijau loreng mendekat.
Puluhan lelaki berseragam loreng, bersenjata lengkap, membawa perintah.

13 buruh perempuan ditangkap. Mereka dituduh mengadu domba demonstran.
dengan kasar mereka digiring ke Markas Kodim Sidoarjo.(²)

Marsinah meradang. Hatinya mendidih. Perempuan baja itu tak tinggal diam melihat teman-temannya diciduk seperti maling.
“Aku harus ke Kodim malam ini.” Hatinya mantap.

Malam itu, berbekal keberanian penuh, Marsinah melesat cepat ke Kodim seorang diri.

Gelap menyelimuti Porong.
Awan makin kelabu. Jalan-jalan terasa sunyi, gelap. Marsinah tenggelam dalam malam.


8 Mei 1993. Di sebuah gubuk reyot di hutan Dusun Jegong, Nganjuk,
tubuh Marsinah ditemukan kaku, lebam, sobek, berdarah.
Tubuhnya memar. Ususnya keluar.
Ada luka tembak di dekat vaginanya. (³)

Marsinah memang telah mati.
Tapi mereka lupa, Marsinah tak benar-benar mati.
kematiannya tak membungkam suaranya.
Ia berkembang-biak dalam dada jutaan perempuan.

“Kau pikir suaraku bisa dibunuh?”
tanya Marsinah dari balik batu nisan.

Marsinah masih di sini.
Di jalan-jalan setiap 1 Mei.
Ia hidup kembali di teriakan buruh, di spanduk yang sobek,
di langkah kaki yang gemetar tapi tetap melangkah.

Marsinah telah gugur.
Tapi kini,
jutaan Marsinah lainnya
lahir di lorong-lorong sempit,
di pabrik dan rumah kontrakan,
di sawah dan pelabuhan,
di desa dan kota,
meneruskan suaranya:
keadilan tak boleh lagi dipungut paksa oleh senapan.

Depok, 1 Mei 2025 (Hari Buruh)

CATATAN:

*Puisi esai ini berkolaborasi dengan AI.

  1. PT Catur Putra Surya (CPS) adalah perusahaan tempat Marsinah bekerja. Ia dan para buruh lain menuntut kenaikan upah minimum sesuai SK Gubernur Jatim No. 50/1993.
  2. 13 buruh perempuan ditahan di Markas Kodim Sidoarjo tanpa prosedur hukum yang jelas. Marsinah mendatangi Kodim untuk meminta kejelasan.
  3. Hasil otopsi menyebutkan tubuh Marsinah mengalami penyiksaan berat: memar, luka senjata tumpul, dan luka tembak di dekat alat kelamin. Diduga kuat ia disiksa oleh aparat. Hingga kini, pelaku sesungguhnya belum diadili secara transparan.
Previous Post

Teungku Chik Pantee Geulima; Ulama, Pejuang Tangguh, dan Panglima Perang yang Disegani.

Next Post

Dapat DM dari Akun Tidak Ditemukan

Next Post
PEJUANG KEADILAN ITU BERNAMA MARSINAH - 0656b9b5 ced6 43a6 9de5 6104ee9be3fe | Mayday | Potret Online

Dapat DM dari Akun Tidak Ditemukan

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah