• Latest
Sistem Demokrasi, Membutuhkan Pemerintah Yang Demokratis

Pro dan Kontra Wisuda Anak dari TK Hingga SMA

April 30, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pro dan Kontra Wisuda Anak dari TK Hingga SMA

Redaksiby Redaksi
April 30, 2025
Reading Time: 3 mins read
Sistem Demokrasi, Membutuhkan Pemerintah Yang Demokratis
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh  Eriza M. Dahlan

Tradisi wisuda, yang identik dengan kelulusan, kini tak hanya berlaku bagi mahasiswa perguruan tinggi saja, tetapi menjadi tren wisuda untuk anak-anak dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan kini semakin populer di Indonesia. Walaupun dengan berbagai kegiatan yang dibalut dengan kegiatan atau tema lainnya seperti pentas seni, kreasi anak, pelepasan dan sebagainya juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Walau tidak ada seremonial yang panjang, tetap ada yang foto dengan menggunakan baju toga setelah selesai berbagai kegiatan anak-anak yang ditampilkan. Apapun itu butuh pengeluaran biaya.

Maka, di dalam masyaakat, praktik ini memicu pro dan kontra.Ada yang setuju dengan adanya wisuda dan bahkan ada yang tidak setuju.  Yang mendukung wisuda menganggap itu sebagai motivasi dan prestasi dalam memberikan penghargaan atas pencapaian anak selama bersekolah. 

Bagi anak TK, wisuda menandai pencapaian penting dalam memasuki dunia pendidikan formal. Sementara bagi siswa SMA, wisuda merupakan pencapaian puncak sebelum memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. 

Jika di Aceh,  perayaan ini dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai budaya lokal,  menciptakan momen berkesan bagi anak-anak didik, keluarga dan komunitas.

Dengan adanya kegiatan wisuda, akan menjadi kenangan dan berkesan bagi anak, orang tua, guru serta keluarga. 

Foto-foto dan video yang dihasilkan menjadi kenangan berharga yang dapat dinikmati seumur hidup, karena tersimpan dengan baik dan juga ada yang memajangnya di dinding rumah untuk kenangan-kenangan yang selalu bisa dilihat.  

Bagi keluarga di Banda Aceh, misalnya,  wisuda dapat menjadi ajang silaturahmi dan perayaan bersama kerabat dan teman.

Ada juga dengan kegiatan wisuda tersebut dapat meningkatkan citra dan menarik minat calon siswa baru dikarenakan banyaknya prestasi dan kegiatan yang dapat mendorong peningkatan kualitas pendidikan.

Di Aceh, tahun 2025, pelaksanaan wisuda untuk anak TK hingga SMA tidak wajib dan tidak boleh membebani orang tua. Dinas Pendidikan Aceh telah mengimbau sekolah untuk tidak menjadikan wisuda sebagai kewajiban, terutama jika hal itu menyebabkan beban finansial bagi orang tua. 

Dinas Pendidikan Aceh telah mengeluarkan surat imbauan (Nomor 400.3.8/5345, 16 April 2025) yang menekankan bahwa wisuda tidak boleh menjadi kegiatan wajib dan membebani orang tua. 

Imbauan ini juga merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Kemendikbudristek Nomor 14 Tahun 2023 yang membatasi penyelenggaraan wisuda pada jenjang PAUD, dasar, dan menengah. 

Dinas Pendidikan Aceh juga mengutamakan pemulihan ekonomi orang tua, sehingga kegiatan wisuda yang bersifat wajib dan membebani dianggap kurang tepat. 

Meskipun wisuda tidak wajib, sekolah masih bisa menyelenggarakan acara wisuda, namun dengan catatan tidak membebani orang tua dan dengan persetujuan mereka. 

Tapi tidak sedikit juga yang menentang wisuda anak disebabkan karena biaya yang mahal seperti baju toga, foto, snack, dan sewa tempat acara. Hal tersebut dapat memberatkan orang tua terutama bagi mereka yang kurang mampu. Bahkan ada juga yang mengatakan wisuda itu kurang bermakna karena anak-anak belum sepenuhnya memahami arti kelulusan dan pencapaian akademik. Lebih baik fokus pada proses belajar dan pengembangan karakter anak daripada seremonial wisuda.

Bagi orang tua yang mampu mungkin tidak menjadi persoalan, tetapi bagi orang tua yang hidupnya serba kekurangan akan terasa berat, apalagi akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya yang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 

Dulu wisuda anak dari TK hingga SMA menjadi hal yang biasa, tetapi sekarang sudah ada juga larangan dari pemerintah terutama dari dinas pendidikan, karena menjadi beban bagi orang tua, apalagi ekonomi sekarang yang tidak menentu semua menjadi serba mahal. 

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Wisuda merupakan fenomena yang kompleks dengan pro dan kontra. 

ADVERTISEMENT

Namun, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, berbeda pandangan terkait kegiatan tersebut. Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa perpisahan atau wisuda sekolah boleh saja digelar asal tidak berlebihan dan dapat persetujuan serta tidak memberatkan orang tua.

Kegiatan tersebut tidak berlebih-lebihan dan juga jangan dipaksakan, sebab kegiatan wisuda merupakan bentuk ungkapan kegembiraan sekaligus syukur atas keberhasilan para murid dalam menyelesaikan pendidikan mereka. 

Keputusan untuk menyelenggarakan atau tidak menyelenggarakan wisuda perlu mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi keluarga,  nilai budaya lokal, dan dampak psikologis pada anak.  Yang terpenting adalah  menyeimbangkan aspek seremonial dengan  penekanan pada  proses pembelajaran dan pengembangan karakter anak.  Sekolah dan orang tua perlu bijak dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi anak.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Menguatkan Guru di Tengah Dinamika Kurikulum

Pelatihan Guru Jalan Menuju Pendidikan Bermutu

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com