Dengarkan Artikel
Oleh Eriza M. Dahlan
Tradisi wisuda, yang identik dengan kelulusan, kini tak hanya berlaku bagi mahasiswa perguruan tinggi saja, tetapi menjadi tren wisuda untuk anak-anak dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan kini semakin populer di Indonesia. Walaupun dengan berbagai kegiatan yang dibalut dengan kegiatan atau tema lainnya seperti pentas seni, kreasi anak, pelepasan dan sebagainya juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Walau tidak ada seremonial yang panjang, tetap ada yang foto dengan menggunakan baju toga setelah selesai berbagai kegiatan anak-anak yang ditampilkan. Apapun itu butuh pengeluaran biaya.
Maka, di dalam masyaakat, praktik ini memicu pro dan kontra.Ada yang setuju dengan adanya wisuda dan bahkan ada yang tidak setuju. Yang mendukung wisuda menganggap itu sebagai motivasi dan prestasi dalam memberikan penghargaan atas pencapaian anak selama bersekolah.
Bagi anak TK, wisuda menandai pencapaian penting dalam memasuki dunia pendidikan formal. Sementara bagi siswa SMA, wisuda merupakan pencapaian puncak sebelum memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.
Jika di Aceh, perayaan ini dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai budaya lokal, menciptakan momen berkesan bagi anak-anak didik, keluarga dan komunitas.
Dengan adanya kegiatan wisuda, akan menjadi kenangan dan berkesan bagi anak, orang tua, guru serta keluarga.
Foto-foto dan video yang dihasilkan menjadi kenangan berharga yang dapat dinikmati seumur hidup, karena tersimpan dengan baik dan juga ada yang memajangnya di dinding rumah untuk kenangan-kenangan yang selalu bisa dilihat.
Bagi keluarga di Banda Aceh, misalnya, wisuda dapat menjadi ajang silaturahmi dan perayaan bersama kerabat dan teman.
Ada juga dengan kegiatan wisuda tersebut dapat meningkatkan citra dan menarik minat calon siswa baru dikarenakan banyaknya prestasi dan kegiatan yang dapat mendorong peningkatan kualitas pendidikan.
📚 Artikel Terkait
Di Aceh, tahun 2025, pelaksanaan wisuda untuk anak TK hingga SMA tidak wajib dan tidak boleh membebani orang tua. Dinas Pendidikan Aceh telah mengimbau sekolah untuk tidak menjadikan wisuda sebagai kewajiban, terutama jika hal itu menyebabkan beban finansial bagi orang tua.
Dinas Pendidikan Aceh telah mengeluarkan surat imbauan (Nomor 400.3.8/5345, 16 April 2025) yang menekankan bahwa wisuda tidak boleh menjadi kegiatan wajib dan membebani orang tua.
Imbauan ini juga merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Kemendikbudristek Nomor 14 Tahun 2023 yang membatasi penyelenggaraan wisuda pada jenjang PAUD, dasar, dan menengah.
Dinas Pendidikan Aceh juga mengutamakan pemulihan ekonomi orang tua, sehingga kegiatan wisuda yang bersifat wajib dan membebani dianggap kurang tepat.
Meskipun wisuda tidak wajib, sekolah masih bisa menyelenggarakan acara wisuda, namun dengan catatan tidak membebani orang tua dan dengan persetujuan mereka.
Tapi tidak sedikit juga yang menentang wisuda anak disebabkan karena biaya yang mahal seperti baju toga, foto, snack, dan sewa tempat acara. Hal tersebut dapat memberatkan orang tua terutama bagi mereka yang kurang mampu. Bahkan ada juga yang mengatakan wisuda itu kurang bermakna karena anak-anak belum sepenuhnya memahami arti kelulusan dan pencapaian akademik. Lebih baik fokus pada proses belajar dan pengembangan karakter anak daripada seremonial wisuda.
Bagi orang tua yang mampu mungkin tidak menjadi persoalan, tetapi bagi orang tua yang hidupnya serba kekurangan akan terasa berat, apalagi akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya yang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Dulu wisuda anak dari TK hingga SMA menjadi hal yang biasa, tetapi sekarang sudah ada juga larangan dari pemerintah terutama dari dinas pendidikan, karena menjadi beban bagi orang tua, apalagi ekonomi sekarang yang tidak menentu semua menjadi serba mahal.
Wisuda merupakan fenomena yang kompleks dengan pro dan kontra.
Namun, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, berbeda pandangan terkait kegiatan tersebut. Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa perpisahan atau wisuda sekolah boleh saja digelar asal tidak berlebihan dan dapat persetujuan serta tidak memberatkan orang tua.
Kegiatan tersebut tidak berlebih-lebihan dan juga jangan dipaksakan, sebab kegiatan wisuda merupakan bentuk ungkapan kegembiraan sekaligus syukur atas keberhasilan para murid dalam menyelesaikan pendidikan mereka.
Keputusan untuk menyelenggarakan atau tidak menyelenggarakan wisuda perlu mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi keluarga, nilai budaya lokal, dan dampak psikologis pada anak. Yang terpenting adalah menyeimbangkan aspek seremonial dengan penekanan pada proses pembelajaran dan pengembangan karakter anak. Sekolah dan orang tua perlu bijak dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi anak.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






