Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Yusuf
Perubahan kurikulum adalah hal yang tidak asing dalam dunia pendidikan. Setiap pergantian sistem sering kali dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan menyesuaikan kebutuhan zaman. Namun, di balik semangat perubahan tersebut, tersimpan kegelisahan yang cukup besar di kalangan guru.
Salah satu sumber kegelisahan utama adalah ketidakpastian. Setiap kali kurikulum baru diperkenalkan, para guru dituntut untuk cepat beradaptasi dengan berbagai pendekatan, metode, dan perangkat pembelajaran baru. Perubahan yang mendadak, tanpa persiapan yang matang, membuat banyak guru merasa khawatir apakah mereka mampu menerapkan kurikulum baru dengan efektif.
Selain itu, pelatihan dan sosialisasi yang terbatas juga menambah beban. Tidak semua guru mendapat pelatihan yang merata, baik dari segi waktu, materi, maupun pendampingan praktik. Akibatnya, ada rasa takut melakukan kesalahan dalam mengajar, yang pada akhirnya berdampak pada proses belajar siswa.Beban administratif juga menjadi momok tersendiri.
Dengan kurikulum baru, biasanya muncul tuntutan untuk membuat perangkat pembelajaran baru, mulai dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), asesmen, hingga laporan evaluasi. Hal ini membuat guru merasa waktu mereka untuk fokus mengajar menjadi tergerus.
Yang tidak kalah penting, guru juga merasa cemas akan ekspektasi yang tinggi dari berbagai pihak, seperti orang tua siswa, kepala sekolah, hingga pemerintah. Mereka diharapkan langsung menguasai kurikulum baru dan menghasilkan perubahan nyata dalam waktu singkat.
Padahal, perubahan budaya belajar membutuhkan proses panjang.
Dalam situasi seperti ini, guru sebenarnya membutuhkan dukungan penuh: pelatihan berkelanjutan, panduan yang jelas, ruang diskusi, serta penghargaan atas upaya adaptasi mereka. Perubahan kurikulum seharusnya menjadi perjalanan bersama, bukan beban yang dipikul sendirian oleh para pendidik.
📚 Artikel Terkait
Untuk mengurangi kegelisahan ini, perlu ada langkah-langkah konkret yang berpihak pada guru. Pertama, pemerintah dan instansi terkait perlu memastikan bahwa setiap perubahan kurikulum didahului dengan sosialisasi yang cukup waktu, disertai pelatihan intensif dan praktik langsung di lapangan. Guru perlu merasa siap, bukan sekadar diberi beban tambahan.
Kedua, perlu dibangun komunitas belajar antarguru, baik di tingkat sekolah maupun antarsekolah. Dalam komunitas ini, guru bisa saling berbagi pengalaman, berdiskusi tentang kesulitan, dan mencari solusi bersama. Dukungan dari rekan sejawat sering kali lebih membangun kepercayaan diri daripada pelatihan formal sekalipun.
Ketiga, perlunya penyederhanaan beban administratif. Guru harus diberikan kebebasan lebih untuk fokus pada inti pekerjaannya, yaitu mendidik dan membimbing siswa. Administrasi pembelajaran sebaiknya dibuat sederhana dan relevan dengan kebutuhan mengajar, bukan malah menjadi tumpukan dokumen semata.
Keempat, perlu ada penghargaan dan pengakuan terhadap usaha guru dalam beradaptasi. Sekecil apa pun perubahan positif yang dihasilkan, guru perlu diapresiasi. Pengakuan ini bisa berupa penghargaan formal maupun sekadar ucapan terima kasih dari pimpinan sekolah dan orang tua siswa.
Terakhir, guru juga perlu membangun ketenangan dari dalam dirinya sendiri. Dengan terus belajar, terbuka terhadap perubahan, dan meyakini bahwa setiap tantangan adalah peluang untuk berkembang, guru dapat menghadapi perubahan kurikulum dengan lebih percaya diri. Semangat untuk terus mendidik generasi penerus bangsa harus tetap menjadi fondasi utama.
Dengan langkah-langkah tersebut, kegelisahan guru bukan hanya bisa dikurangi, tetapi bahkan bisa diubah menjadi energi positif untuk menghadapi setiap perubahan. Sebab, pada akhirnya, kualitas pendidikan bangsa sangat bergantung pada kesejahteraan, ketenangan, dan semangat para guru.
Muhamad Yusuf, S.Pd. Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






