POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mawah Memudar, Kapitalis Muncul

Fajar IlhamOleh Fajar Ilham
April 28, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh  Fajar Ilham

Peracik Kopi Arabicca Gayo di Gerobak Coffee

Aceh, di ujung barat laut Pulau Sumatra, berbatasan dengan Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur. Wilayah ini terdiri dari daratan dan kepulauan yang pernah berdiri sebuah kesultanan Atjeh (1496-1903) adalah kerajaan Islam terkuat dan memiliki pengaruh di Nusantara. Namun seiring berjalannya waktu, “Kanun Meukuta Alam”, yaitu kitab undang-undang konstitusi yang digunakan oleh pemerintahan Iskandar Muda, kini mengalami dekaden. 

Maka dengan itu, saya berkeinginan untuk menulis lagi kitab yang mengatur berbagai aspek kehidupan Masyarakat Atjeh, khususnya tentang model ekonomi “mawah”. 

Di tengah tantangan globalisasi dan kapitalisme, mawah menawarkan model ekonomi alternatif yang berbasis keadilan. Konsep ini dapat diintegrasikan dengan koperasi syariah atau lembaga keuangan mikro untuk memperluas jangkauannya. Pemerintah Aceh, melalui qanun, juga dapat memformalkan sistem mawah agar lebih terstruktur dan terlindungi secara hukum. 

Seperti yang direkomendasikan dalam Sidang Paripurna MPU Aceh 2016, pemerintah diminta untuk mengesahkan mawah sebagai bagian dari ekonomi syariah, sementara ulama dan dai berperan mensosialisasikan praktik mawah yang sesuai syariat. 

Selain itu, mawah dapat menjadi strategi pengentasan kemiskinan, sebagaimana dijelaskan dalam International Student Conference of Ushuluddin and Islamic Thought (2021). Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam praktik mawah, tradisi ini tidak hanya mempertahankan identitas budaya Aceh, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. 

Mawah adalah warisan budaya dan ekonomi masyarakat Aceh yang menggabungkan kearifan lokal dengan nilai-nilai syariat Islam. Sebagai sistem bagi hasil, mawah telah terbukti membantu masyarakat menengah ke bawah meningkatkan pendapatan, membuka lapangan kerja, dan memperkuat solidaritas sosial. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi, mawah tetap relevan sebagai model ekonomi berbasis keadilan. 

Mawah, juga memiliki karakteristik yang kontras dengan kapitalisme, sistem ekonomi global yang berorientasi pada akumulasi modal dan keuntungan individu. Dalam tulisan ini, saya akan membandingkan mawah dengan kapitalisme sebagai alternatif ekonomi di tengah dominasi kapitalisme. 

Mawah adalah akad kerja sama antara pemilik modal (aset) dan pengelola, dengan pembagian hasil usaha berdasarkan kesepakatan bersama. Sistem ini, yang mirip dengan mudharabah dalam fiqh Islam, menekankan prinsip keadilan, saling ridha, dan penghindaran riba, gharar (ketidakpastian), serta maisir (spekulasi). 

📚 Artikel Terkait

Nurhayati Tak Kunjung Dapat Rumah Bantuan, Numpang Hidup di Dayah

Ketika Jurnalis Muda Membongkar Topeng Syahwat Pemuka Agama

Ikatan Alumni SMA Negeri 3 Banda Aceh Menggelar Raker Virtual

Meraih Rahmat Allah SWT di Bulan Ramadan

Dalam praktiknya, mawah diterapkan di sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan di Aceh, dengan pembagian hasil yang proporsional, seperti bulueng lhee (bagi tiga) atau bulueng peut (bagi empat). 

Filosofi mawah mencerminkan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh yang mengutamakan gotong royong, solidaritas sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Mawah memungkinkan akses ekonomi bagi kelompok marginal tanpa modal, sambil memastikan pemilik aset mendapatkan keuntungan tanpa eksploitasi. Menurut Abdurrahman (2015), mawah tidak hanya legal secara syariat, tetapi juga memperkuat ikatan sosial melalui kerja sama yang setara dan adil. 

Semtara kapitalisme, di sisi lain, adalah sistem ekonomi yang berfokus pada akumulasi modal, kompetisi pasar, dan keuntungan individu atau korporasi. Dalam kapitalisme, pemilik modal memiliki kuasa besar atas sumber daya, sementara tenaga kerja sering kali berada dalam posisi tawar yang lemah, menerima upah tetap tanpa pembagian keuntungan. 

Prinsip utama kapitalisme adalah efisiensi pasar dan pertumbuhan ekonomi, tetapi seringkali mengorbankan keadilan sosial, memperlebar kesenjangan antara kaya dan miskin.

Kapitalisme juga cenderung mengabaikan nilai-nilai spiritual atau etika tertentu, seperti larangan riba dalam Islam, dan lebih mengutamakan logika pasar. Dalam konteks Aceh, pengaruh kapitalisme terlihat pada modernisasi agribisnis, di mana lahan-lahan tradisional mulai dikuasai oleh perusahaan besar, dan praktik sewa lahan berbasis uang menggantikan sistem bagi hasil seperti mawah. 

Sekarang mari kita bandingkan. Jika mawah mengutamakan keadilan, pemberdayaan masyarakat, dan keseimbangan antara keuntungan dan kesejahteraan sosial. Keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, dengan mempertimbangkan risiko bersama. Kenapa kita harus memakai Kapitalisme yang berfokus pada maksimalisasi keuntungan individu dengan mengabaikan dampak sosial atau lingkungan. 

Begitu Juga dalam hal hubungan pemilik modal dan pekerja. Mawah, sebagai pemilik modal dan pengelola sebagai pekerja, memiliki hubungan setara, berbagi keuntungan dan risiko secara proporsional. Tidak ada eksploitasi tenaga kerja, karena pengelola dianggap sebagai mitra. 

Sementara kapitalisme, pemilik modal mendominasi, pekerja dan sementara pekerja sering kali hanya menerima upah tetap tanpa hak atas keuntungan usaha. 

Dalam hal nilai, mawah berlandaskan syariat Islam (larangan riba, gharar, dan maisir) serta kearifan lokal Aceh yang menjunjung solidaritas dan gotong royong. Sementara kapitalisme, berbasis pada logika pasar, kompetisi, dan individualisme, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai etis atau spiritual. 

Dalam hal sosial, mawah berdampak pada mengurangi ketimpangan ekonomi dengan memberdayakan masyarakat miskin dan memperkuat hubungan sosial. Sementara kapitalisme cenderung memperlebar kesenjangan sosial, karena keuntungan terkonsentrasi pada pemilik modal. 

Dan pada akhir tulisan ini  saya menyampaikan bahwa mawah juga mendukung keberlanjutan melalui pengelolaan sumber daya yang berbasis kebutuhan bersama dan penghormatan terhadap lingkungan. Inilah yang tidak ada pada kapitalisme, karena kapitalisme seringkali mengorbankan lingkungan demi efisiensi dan pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Jadi sudah saatnya pemerintah Aceh menjadikan sistem mawah sebagai sebuah strategi yang aman dunia dan akhirat, untuk mengurangi angka kemiskinan yang menempakan Aceh sebagai provinsi termiskin dan juga menjadi penopang bagi praktik ekonomi syariah di negeri yang berstatus syariah Islam ini. Mawah bahkan menjadi praktik baik bagi pembangunan ekonomi di Aceh dan di Indonesia. Maukah Pemerintah Aceh bergerak lebih progresif? Semoga.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Fajar Ilham

Fajar Ilham

lahir di Kluet Utara pada 01-12-1989 dan menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Sejarah di Universitas Syiah Kuala. Barista Gerobak Arabica yang suka membaca buku-buku filsafat. Sejak kecil sudah suka menyukai cerita-cerita legenda. Aktif di organisasi eksternal kampus (HMI) semasa kuliah

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Siapa yang Ditersangkakan KPK?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00