POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Membangun Bangsa Melalui Kearifan Lokal dan Nasional

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
April 26, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (3)

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah)

Dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, Buya Syafii Maarif menekankan pentingnya meningkatkan kearifan lokal dan kearifan nasional. Kedua aspek ini, baginya, bukan sekadar warisan budaya, melainkan fondasi utama dalam membangun masa depan bangsa yang inklusif dan bermartabat.

Kearifan lokal mengandung nilai-nilai yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam berinteraksi dengan alam, budaya, dan sesama manusia. Di tengah arus globalisasi yang deras, kearifan ini menjadi jangkar identitas, menjaga bangsa dari kehilangan jati diri.

Namun Buya Syafii juga menyadarkan kita bahwa kearifan lokal saja tidak cukup. Ia harus berjalan seiring dengan kearifan nasional, yaitu kesadaran untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok atau daerah. Tanpa semangat nasionalisme yang sehat, kearifan lokal bisa berubah menjadi fanatisme sempit.

Prinsip “semua pihak harus saling menerima” yang diusung Buya Syafii membuka ruang dialog yang adil dan setara. Menerima bukan berarti menyerah, melainkan memahami bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus dirawat bersama, bukan ancaman yang harus dilawan.

Dalam banyak kasus, ketegangan sosial bermula dari kegagalan untuk menerima perbedaan. Entah karena perbedaan budaya, keyakinan, atau kepentingan politik, bangsa ini kerap terjebak dalam sikap curiga yang merusak rasa saling percaya.

Buya Syafii mengajarkan bahwa membangun bangsa berarti membangun kepercayaan. Tanpa saling menerima, tidak mungkin tercipta suasana yang kondusif untuk gotong royong, yang sesungguhnya adalah roh dari kebangsaan kita sejak awal kemerdekaan.

Penting untuk dipahami bahwa kearifan lokal yang dikembangkan bukan hanya budaya seremonial, melainkan nilai-nilai hidup seperti toleransi, musyawarah, gotong royong, dan kejujuran. Nilai-nilai ini menjadi modal sosial yang berharga untuk mengatasi berbagai krisis.

📚 Artikel Terkait

Elliott Ness

SARINAH

Menanyakan Peran dan Posisi TNI Dalam Penegakan Demokrasi dan Konstitusi (1)

Perempuan, Ketahanan Keluarga, dan Ketegasan Negara

Sementara itu, kearifan nasional perlu terus dirawat melalui pendidikan, media massa, dan kebijakan publik yang adil. Rasa kebangsaan yang tumbuh dari keadilan sosial akan memperkuat solidaritas antarwarga negara di tengah keberagaman.

Buya Syafii mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam polarisasi antara pusat dan daerah. Keduanya harus dipahami sebagai bagian yang saling menguatkan, bukan saling mencurigai atau berkompetisi secara destruktif.

Dalam praktiknya, meningkatkan kearifan lokal dan nasional berarti memperbanyak ruang-ruang perjumpaan. Festival budaya, dialog lintas agama, kerja sama ekonomi antarwilayah, semua itu adalah cara konkret mempererat simpul-simpul persaudaraan kebangsaan.

Semua pihak harus menanggalkan ego sektoral dan berani membuka diri. Saling menerima bukanlah proses instan, melainkan sebuah perjalanan panjang yang penuh kesabaran, pengertian, dan sikap rendah hati untuk belajar dari satu sama lain.

Kearifan lokal dan nasional seharusnya tidak dipertentangkan. Keduanya adalah kekuatan ganda yang, bila diolah dengan baik, akan melahirkan bangsa yang kuat menghadapi tekanan global dan dinamis dalam merespons perubahan zaman.

Buya Syafii memberi teladan bagaimana menghargai kearifan lokal tanpa kehilangan visi kebangsaan. Ia tidak hanya mengagumi keragaman budaya, tapi juga memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan persatuan dalam setiap kesempatan.

Melalui pemikiran Buya, kita diajak untuk membangun bangsa ini bukan dengan saling menyingkirkan, tetapi dengan saling menerima dan menguatkan. Sebab bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan, bukan sumber permusuhan.

Kini, tugas kita adalah mewujudkan cita-cita itu. Meningkatkan kearifan lokal dan nasional bukan pilihan, melainkan keniscayaan. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi bangsa yang rapuh, mudah tercerai berai saat diterpa ujian zaman.

Semangat saling menerima, sebagaimana digariskan Buya Syafii, harus kita tanamkan mulai dari keluarga, sekolah, tempat ibadah, hingga ke panggung politik. Inilah jalan panjang menuju Indonesia yang lebih dewasa, beradab, dan bermartabat.


Rumah Kayu Cepu, 26 April 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Wajah Kurikulum Aceh: Antara Jakartalisasi dan Jiwa Tanah Rencong

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00