Dengarkan Artikel
Oleh : Ririe Aiko
Di tengah gempuran teknologi yang semakin canggih, kehadiran Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu menulis memunculkan perdebatan yang tak kunjung surut. Sebagian pihak menilai bahwa karya-karya yang menggunakan AI sebagai pendukung proses kreatif dianggap kurang orisinal dan tak mencerminkan kreativitas sejati. Bahkan, muncul anggapan sinis bahwa mereka yang menggunakan AI bukanlah penulis sungguhan.
Namun, benarkah sebuah alat bantu bisa menghapus esensi kepenulisan?
Anggapan bahwa penulis yang menggunakan AI kehilangan jati diri sebagai kreator adalah pandangan yang kurang adil. Karena pada hakikatnya, AI hanyalah alat. Ia tak bisa menciptakan ide, merasakan emosi, atau memahami konteks budaya dan psikologis dari sebuah narasi. Semua itu tetap berasal dari penulis, dari pengalaman hidupnya, kepekaan sosialnya, hingga insting sastra yang terasah oleh latihan dan pembacaan.
📚 Artikel Terkait
Prompt, sebagai titik awal kerja AI, tidak hadir begitu saja. Ia lahir dari pikiran penulis: bagaimana cara menyampaikan pesan, nuansa apa yang ingin dibangun, konflik apa yang ingin disorot. Maka dalam proses ini, kreativitas justru menjadi penentu utama. Penulis yang memahami struktur cerita, estetika bahasa, dan keunikan gaya pribadi akan mampu memanfaatkan AI bukan untuk menggantikan proses menulis, tetapi untuk mempercepatnya, menyusunnya secara lebih rapi, bahkan mengeksplorasi kemungkinan baru dalam menyampaikan gagasan.
AI dalam kepenulisan adalah seperti mesin tik pada zamannya, atau seperti aplikasi pengolah kata yang kini lazim digunakan. Ia memperlancar teknis, bukan menggantikan substansi. Tidak ada yang mempertanyakan keaslian sebuah novel hanya karena penulisnya menggunakan Microsoft Word, bukan pena dan kertas. Maka, mengapa harus mempermasalahkan kehadiran AI selama ide dan isi tulisan tetap murni berasal dari sang penulis?
Meski demikian, bagi banyak penulis sejati, menulis bukan sekadar perkara alat atau metode. Menulis adalah panggilan jiwa, bentuk eksistensi diri, dan cara untuk memahami dunia sekaligus menyampaikan pemahaman itu kepada orang lain. Dengan atau tanpa AI, mereka akan tetap menulis. Karena kekuatan menulis terletak pada ide, empati, dan sudut pandang yang unik, semua itu tidak bisa digantikan oleh mesin mana pun.
Maka saat dunia sedang euforia terhadap kecanggihan AI, seorang penulis yang sejati tidak merasa terancam. Ia tahu bahwa teknologi bisa datang dan pergi, tetapi semangat untuk menulis akan tetap menyala. Bahkan jika suatu saat AI tidak lagi tersedia, tulisan-tulisan akan tetap lahir. Karena menulis bukan semata tentang alat bantu, tapi tentang dorongan jiwa untuk terus bercerita, untuk mengabadikan pemikiran, dan untuk menyentuh hati pembaca.
Penulis sejati akan selalu menjadi penulis dengan atau tanpa AI.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






