• Latest

Memetik Buah Berlibur di Tanah Gayo

April 22, 2025
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Memetik Buah Berlibur di Tanah Gayo

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
April 22, 2025
in #Tabrani Yunis, Aceh Tengah, Catatan Perjalanan, Cerita Perjalanan, Danau laut tawar, Duta Wisata, Jalan-Jalan, Pariwisata, Takengon, Tips Wisata, Traveling, traveloka, Wisata
Reading Time: 4 mins read
0
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tabrani Yunis

Bila berwisata ke daratan tinggi Gayo, sebaiknya sediakan waktu lebih banyak. Jangan satu hari. Waktu satu hari tidak cukup  untuk berlibur ke Negeri Seribu Bukit ini. Apalagi kalau berwisata dalam momentum hari raya, seperti Idul Fitri. Kota Takengon yang merupakan ibu kota Aceh Tengah itu selalu padat dengan pengunjung dari berbagai penjuru, termasuk wisatawan lokal di Aceh.  Jalan-jalan di kota dan di sekeliling danau Laut Tawar,   Yang luasnya sekitar 5472 hektar itu, tak akan tergapai semua tempat. 

Jangankan semua tempat, untuk satu tempat saja tidak akan cukup waktu. Sebab, dalam momentum hari raya, banyak sekali pendatang yang berkunjung untuk menikmati alam anugerah Allah ini  Banyaknya pendatang, pasti membawa dampak bagi perjalanan kita. Misalnya, ketika masuk ke kota dan melewati pinggiran danau, jalan -jalan yang yang dilewati mengalami kemacetan.  

Tak dapat dimungkiri bahwa kemacetan itu membuat waktu terkuras di jalan. Sehingga rasa bosan dan lelah pun menghampiri dan menguras semangat. Pikiran akan selalu dihantui oleh rasa tidak cukup waktu. Ya, semua itu membuat kita semakin tidak cukup waktu untuk dapat menikmati objek wisata yang kita tuju di kota dingin ini.

Baca Juga

96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026

Kita bisa bayangkan, dengan waktu yang sedikit dan terbatas itu. Apalagi ketika datang, tidak dilandasi oleh sebuah perencanaan wisata yang matang. Misalnya, ketika berada di Kota penghasil kopi ini, destinasi wisata mana saja yang akan dikunjungi. Apakah kita sudah memiliki informasi yang cukup tentang destinasi itu. Berapa besar anggaran yang dimiliki, hingga mudah memilih destinasbyang sesuai kemampuan finansial masing-masing dan sebagainya. Lalu, ketika berkunjung ke satu destinasi wisata di dataran tinggi ini, apa saja yang bisa dinikmati. Ya, itu adalah beberapa persiapan yang hendaknya dipersiapkan ketika mau berliburan atau berwisata ke destinasi wisata di Aceh Tengah.

Pengalaman kami dan keluarga berwisata sehari di Takengon, pada momentum hari raya Idul Fitri 2025 yang lalu, memberikan banyak pelajaran penting. Tidak salah kata pepatah, jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup, banyak yang dapat dirasakan. Namun, kata-kata bijak itu tidak bermakna tidak diawali dengan sebuah rencana wisata yang matang. Juga kehilangan makna bila kita tidak bisa mengambil pembelajaran dari setiap perjalanan dan dari lamanya masa perjalanan itu.

Kita semua setuju bahwa di setiap perjalanan yang kita lakukan, ada banyak tempat tang kita lihat dan banyak informasi yang masuk ke pikiran atau otak kita. Semua informasi dan kesan itu akan kita bisa nikmati ketika kita memiliki waktu untuk menikmati perjalanan, suka mengamati apa yang ada dan terjadi di sepanjang jalan. Semua itu tentu tidak kita dapatkan apabila sepanjang perjalanan kita tidur dengan pulas.

Dalam momentum lebaran ke Takengon, 

Jangan  pernah datang langsung ke Takengon, kalau belum melakukan reservasi hotel. Karena dalam momen lebaran, semua hotel, penginapan, wisma atau home stay penuh dan kita tidak dapat kamar untuk menginap. Jadi kacau bukan?

Kami telah mendapatkan pembelajaran itu.

Ya, tidak salah kalau dalam perjalanan wisata ke dataran tinggi Gayo itu memberikan banyak pelajaran bagi kami. Misalnya, kesiapan sebelum berangkat. Hal yang perlu dipersiapkan adalah hotel, tempat menginap ketika ingin menghabiskan waktu lebih dari satu atau dua hari. Maka, karena tidak lebih dahulu reservasi hotel atau penginapan, kami terpaksa tidak bisa berangkat ke Takengon saat sudah berada di Bireun dan harus kembali ke rumah di Ule Gle.

Bukan hanya itu, ketika tiba di lokasi destinasi wisata pun cukup banyak pembelajaran yang bisa  dipetik. Misalnya, ketika  memilih satu tempat atau destinasi wisata. Katakanlah ingin memilih sebuah cafe di pinggir danau Laut Tawar yang menuju arah Bintang.

Sebut sajalah di cafe Dallof cafe and stay. Sebuah cafe yang berada di pinggir danau Laut Tawar. Selintas kita tidak tahu kalau tempat ini cukup menarik. Pandangan pertama hanya terlihat sebuah bangunan yang tidak begitu besar, berwarna putih dengan tulisan “Dallof Cafe and Stay”.  Di bangunan itu tersedia sejumlah meja, layaknya cafe dengan desain biasa dilengkapi dengan mesin pembuat kopi dan meja kasir. Dari dalam kita bisa memandang keindahan alam yang ditawarkan oleh danau laut Tawar tersebut.

Selintas begitu, tidak begitu menggoda. Namun, setelah masuk ke cafe dan  memesan makanan dan minuman, mata pun mengarah ke bagian bawah, ke lembah yang seakan langsung mengajak kita untuk turun ke bibir danau. Ya, di depan cafe ada jalan turun ke bibir danau dengan melewati jalan menurun dan berbelok. Jalan itu bisa dilewati mobil, tapi bagi yang tidak lihat, pasti akan urung membawa mobil ke bawah. Hebatnya di sini, para pelayan atau pramuwisata sangat lihat menggunakan sepeda motor untuk mengantar makanan dari atas ke bawah atau sebaliknya. Cara mereka begitu menakjubkan.

Nah, di bawah, di bibir danau sudah dirancang tempat sedemikian rupa. Kita bisa duduk di meja di bawah tenda -tenda di bibir danau, dan juga tenda yang dibuat di dalam danau sambil menyaksikan ikan-ikan kecil yang dikenal dengan ikan depik berenang bergerombol. Tempat itu juga menawarkan  indahnya pemandangan danau yang terbentang luas itu. 

Sangat cocok bagi pembuat content atau bagi yang suka berfoto keluarga, bersama atau selfie dengan background foto danau nan indah yang dikelilingi bukit-bukit tinggi menjulang.

ADVERTISEMENT

Ya, sambil menunggu pesanan makanan dan minuman tang telah dipesan, semilir angin danau bertiup sepoi-sepoi, seakan membawa butir-butir air dari danau yang sejuk itu. Tubuh terasa segar dan mata begitu dimanjakan oleh pemandangan alam di sekitar danau yang dikelilingi bukit-bukit tinggi yang ditumbuhi oleh pinus-pinus dan kebun kopi. Bagi penggemar acara diskusi, tempat ini sangat cocok dan pas untuk berdiskusi atau peh tem, tidak bising, sejuk dan indah.

Untuk bisa menikmati rahmat Allah di tempat ini saja rasanya tidak cukup waktu sehari. Apalagi kalau ingin menikmati fasilitas keliling danau dengan speedboat atau jetsky, pasti waktu satu hari hanya bisa di satu tempat saja, tidak bisa ke destinasi yang lain. Oleh sebab itu, persiapkan diri dan waktu kalau mau menikmati indah dan eloknya destinasi wisata di Tanah Gayo 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 300x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 227x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Baca Juga

IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
Next Post
Mengenal Ariyanto Bakri, Dewa Hukum Terperosok di Sel Tikus

Mengenal Ariyanto Bakri, Dewa Hukum Terperosok di Sel Tikus

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com