POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Negeri yang Mencetak Sarjana Makin Banyak, Tapi Lapangan Kerja Makin Sempit

RedaksiOleh Redaksi
April 14, 2025
Negeri yang Mencetak Sarjana Makin Banyak, Tapi Lapangan Kerja Makin Sempit
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko

Di Indonesia, gelar sarjana sudah menjadi semacam barang massal: mudah diperoleh, murah promosi, mahal ekspektasi. Setiap tahun, perguruan tinggi negeri dan swasta ramai-ramai melepas lulusan bak pabrik melepas produk baru. Iklan pendidikan bertebaran di mana-mana: “Kuliah 3,5 tahun, langsung kerja!”, “Bersertifikat internasional!”, “Garansi karir cemerlang!” padahal realitasnya, banyak lulusan justru langsung menyandang gelar baru: “Pengangguran Dengan Tumpukan Prestasi Akademis.”

Sementara itu, pertumbuhan lapangan kerja tidak mampu mengejar laju pertumbuhan lulusan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk lulusan perguruan tinggi mencapai 6,18 persen, angka yang lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA (5,48 persen) atau bahkan SMP (5,39 persen). Ironis? Tentu saja. Di negeri ini, investasi pendidikan bisa berujung pada investasi kekecewaan: biaya kuliah ratusan juta, waktu bertahun-tahun, berakhir dalam antrean panjang mencari kerja yang tak kunjung ada.

Di dunia kerja, seorang fresh graduate dihadapkan pada syarat mustahil: pengalaman minimal 2-5 tahun untuk posisi junior. Logikanya sederhana: kami baru lulus karena kuliah, bukan karena sempat magang di tujuh perusahaan sekaligus sambil menyusun skripsi dan mengejar IPK sempurna. Tapi dunia nyata tidak butuh logika, ia butuh pengalaman yang entah harus dicari di mana, kalau semua pintu mengunci dengan kunci yang sama.

📚 Artikel Terkait

Komisi III DPR RI Apresiasi Dedikasi Polres Barru di Lapangan

Relasi Kuasa di Balik Kisah Cinta Publik Figur

Lonceng Kematian Moral

Kopdes Merah Putih Perusak Kemandirian Bangsa

Pemerintah dan institusi pendidikan seolah berlomba mengadakan wisuda akbar, berfoto dalam toga, melempar topi ke udara namun jarang menyediakan jembatan konkret ke dunia kerja. Bursa kerja memang ada, tetapi sebagian besar dipenuhi lowongan magang tidak dibayar, pekerjaan kontrak jangka pendek, atau posisi dengan syarat multitasking ekstrem: mahir desain grafis, copywriting, digital marketing, editing video, memahami SEO, public speaking, riset pasar, bahkan administrasi keuangan, semua dengan gaji yang, kalau dihitung-hitung, lebih kecil dari biaya bensin dan kopi harian.

Tak heran, banyak sarjana akhirnya banting setir: berjualan online, membuka jasa freelance, menjadi driver ojek online, atau sekadar mencari ketenaran di TikTok dengan harapan rezeki viral mengetuk. Ini bukan sekadar cerita individu, ini potret negara yang kehilangan potensi besar. Kita mencetak manusia berpendidikan tinggi, tapi tak menyediakan ladang bagi kecerdasan mereka tumbuh.

Yang lebih miris, solusi dari sebagian pihak adalah memperbanyak pelatihan-pelatihan bersertifikat. Seakan-akan, menumpuk sertifikat bisa mengalahkan kenyataan bahwa lowongan kerja tetap sempit, sementara persaingan semakin brutal. Pelatihan tanpa ekosistem kerja yang siap menampung lulusan hanyalah menunda waktu kecewa.

Indonesia tidak kekurangan sarjana. Yang kita kekurangan adalah ekosistem ekonomi yang mampu menampung, memanfaatkan, dan mengoptimalkan mereka.

Pabrik sarjana terus beroperasi siang malam, mengejar akreditasi dan target kelulusan. Tapi pabrik lapangan kerja? Masih dalam tahap groundbreaking.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Keteladanan Literasi: Guru Membaca, Murid Terinspirasi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00